
Selesai menolong si gadis, Jiu Cien berpikir untuk pergi. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi langkahnya. la tak tahu apa sebabnya. Namun sepertinya ia merasa berat meninggalkan gadis bernama Meishin itu, atau lebih tepatnya ia merasa enggan berpisah.
Tampaknya Meishin merasakan hal yang sama, ada rasa enggan berpisah. "Setelah ini, setelah selesai menolong mengobati aku, apakah dia akan pergi begitu saja?" Pertanyaan ini dijawabnya sendiri. "Ya tentu saja dia harus pergi, mungkin dia punya urusan yang harus ia selesaikan, sedang di sini tak ada lagi yang harus diperbuatnya, dia sudah selesai menolong aku, tetapi kenapa dia harus pergi?" Berpikir begitu wajah Meishin memerah. la malu. Dalam hatinya ia berharap, lelaki itu tetap di sini, menemaninya.
Meishin segera sadar dari pengembaraan pikirannya, mendengar suara Jiu Cien. "Nona, seharusnya aku pergi sekarang, tetapi kata guruku, menolong orang itu harus sampai tuntas. Kamu memang sudah sembuh dari keracunan, namun tenaga dalam belum pulih, paling tidak kamu butuh dua hari lagi untuk memulihkan tenagamu Aku khawatir musuhmu akan kembali lagi. Apalagi hari sudah gelap, jadi kupikir aku akan temani kamu sampai besok pagi, asal kamu tidak keberatan dan tidak curiga padaku."
Meishin hampir berteriak saking gembiranya. Untung saja karena hari sudah gelap, air mukanya yang girang tidak terlihat. Namun tetap saja Meishin merasa malu. "Fei Hung aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu Jika kamu tidak datang, entah apa jadinya aku diperlakukan penjahat bejat tadi. Terimakasih kamu telah mengobati lukaku dan juga bersedia menemani aku, tetapi apakah tidak mengganggu perjalananmu?"
"Ah tidak, aku tidak terburu waktu. Tak ada sesuatu yang harus kukerjakan dengan segera. Aku bisa menemanimu sepanjang kamu tidak keberatan. Lagipula pertemuan Wuwei masih lama, masih ada waktu lima atau enam purnama lagi."
Meishin memandang lekat lelaki di hadapannya. "Terus terang saja aku sangat menyukai lelaki ini, apakah aku sudah jatuh cinta? Begitu mudahnya, padahal baru pertama kali jumpa?" Pikiran ini membuat wajahnya memerah. Ia merunduk malu. Tiba-tiba ia melihat baju di bagian dadanya robek, hampir separuh *********** nyembul keluar. la ingin menutup dengan tangannya. Tetapi batal, biarlah, toh lelaki itu sudah melihatnya. "Apakah ia menyukai aku, jatuh cinta padaku?" Tanpa sadar ia membantah pikirannya tadi, kata-katanya keluar begitu saja, "Gila, mana mungkin!"
__ADS_1
Jiu Cien terkejut. "Apanya yang gila?" Meishin juga terkejut. "Tidak, aku tadi mendengar kamu hendak pergi ke Wuwei, benarkah? Sebab aku juga bertujuan yang sama, ke Wuwei?" Kata-kata itu meluncur begitu saja. Meishin menatap tajam mata lelaki itu.
Jiu Cien kaget melihat sinar mata si gadis yang begitu tajam, berkilat di tengah gelapnya malam "Aku memang mau ke Wuwei, benarkah Meishin, kamu juga mau ke sana?
Mendadak Meishin merasa malu. Itu pertama kali lelaki itu menyebut nama Meishin. Dan nama itu diucapkan dengan lancar, seperti sudah akrab. "Aku memang mau ke Wuwei, apakah kau diundang ke pertemuan itu?"
"Diundang? Aku bukan pendekar yang dikenal orang, siapa yang mau mengundang aku, tetapi Meishin apakah semua yang hadir harus orang yang diundang artinya yang tidak diundang tak boleh hadir. Apakah kamu juga diundang, Meishin?"
Hatinya berbunga-bunga. Dua kali sudah namanya disebut begitu akrabnya. "Tidak. Aku tidak diundang, aku juga bukan pendekar terkenal, kalau aku hebat tentu tidak akan terluka sampai begini. Aku mendengar omongan orang, pertemuan Wuwei boleh dihadiri oleh semua orang, tetapi perguruan itu hanya melayani makan minum dan nginap bagi mereka yang diundang. Artinya bagi yang tidak diundang, ya bawa makanan sendiri."
Namun Jiu Cien tidak memerhatikan perubahan sebutan itu. "Kamu benar. Kita memang harus mencari tempat untuk tidur. Di situ di balik air terjun ada sebuah goa, aku sudah menempatinya selama beberapa hari. Kita ke sana saja, ayo."
__ADS_1
Meishin berdiri, agak lemas ia melangkah tertatih-tatih. Jiu Cien tersenyum, menggoda. "Kelihatannya kamu sulit melangkah, kamu masih luka dan tenaga belum pulih. Biar aku papah saja." Jiu Cien membawa tangan Meishin ke pundaknya, sedang tangannya memeluk pinggang si gadis. Tiba-tiba Meishin berteriak pelan. Rupanya buah dadanya yang masih belum sembuh menimbulkan rasa sakit ketika bersinggungan dengan tubuh Jiu Cien. Lelaki itu berpindah, kini Meishin di kanan.
Tetapi Meishin juga kesakitan ketika pahanya bersinggungan dengan paha Jiu Cien.
Jiu Cien mengeluh, "Meishin, kamu tak bisa dipapah, dadamu luka di bagian kanan, pahamu luka di bagian kiri, bagaimanapun juga akan tetap bersinggungan dan akan sakit. Kalau kamu jalan pelan begini, mungkin besok pagi baru sampai di goa, aku bopong saja, mau?"
Godaan Jiu Cien memperoleh sambutan. Gadis itu tertawa senang. "Kalau mau membopong aku, bopong saja, tidak perlu pura-pura bertanya?"
Tidak menunggu lagi, Jiu Cien menyambar tubuh Meishin. Membopongnya ke air terjun Keduanya sama merasakan adanya kesenangan dalam persinggungan tubuh. Tanpa sadar Meishin merapat tubuhnya ke dada Jiu Cien. Lelaki ini memeluk erat. Ada perasaan bahagia nyelip di hati dua insan itu. Tanpa sadar Meishin memeluk dada Jiu Cien, berbisik, "Aku tak bisa berenang."
Jiu Cien memindahkan Meishin di punggungnya. Ia merasakan dada Meishin yang lunak menghimpit punggungnya. Meishin merasa luka dadanya sakit, tetapi kini ia diam. Tangannya melingkar erat di leher Jiu Cien. "Tahan napasmu, kita akan menyelam," teriak Jiu Cien di antara gemuruh suara air terjun.
__ADS_1
Goa itu cukup besar. Selama dua bulan berlatih di air terjun, Jiu Cien telah membersihkan goa itu. Tadinya basah, lembab dan kumuh, Jiu Cien menjadikannya tempat tinggal yang bersih dan nyaman. Ada tumpukan kayu kering untuk menghangatkan tubuh. Ada obor damar untuk penerangan. Ada tumpukan jerami di atas papan dirancang untuk tempat tidur.
la menyalakan obor. Cahaya obor menerangi goa, samar- samar. Jiu Cien menatap Meishin. Lekuk dan liuk tubuh gadis itu tampak jelas, pinggangnya yang kecil ramping, buah dadanya yang montok dan pinggulnya yang semok, membentuk bayangan indah. Jiu Cien tadinya sudah tahu Meishin seorang gadis muda yang cantik. Namun di goa ini, segalanya makin jelas. Meishin ibarat seorang dewi dengan kecantikan yang membuat lelaki mana pun bisa mabuk kepayang.