Pendekar Sekolah

Pendekar Sekolah
Siswi Sekolah Satu Bangsa


__ADS_3

Mata Farhan terasa panas setelah tidak tidur semalaman, dia sudah menduga jika hal ini akan terjadi, tetapi dia tidak memperhitungkan dampak tidak tidurnya begitu besar.


“Aduh Linda kemana sih!, jangan bilang dia masih dandan, gue udah nunggu setengah jam yang lalu tau!”


Seseorang yang melihat Farhan akan berpikiran lebih baik menjauh sebab tampangnya yang suram, bisa dilihat mata Farhan yang memerah seperti tomat beserta kantung matanya yang menghitam bagaikan Panda. Farhan terus-menerus menguap sepanjang hari di salah satu bangku stasiun kereta api


Sebenarnya mereka sudah janjian akan menaiki KRL dari stasiun Kebayoran Lama tapi entah kenapa orang yang ditunggu-tunggu Farhan tida kunjung datang.


“Maaf, sudah lama ya menunggu!” sapa Linda yang tiba-tiba mengagetkannya.


Farhan ingin sekali memprotes ketelatannya, akan tetapi itu semua sirna setelah dia mengalihkan pandangannya kepada Linda, dia melihat sosok Linda bagaikan malaikat yang turun dari langit,


Linda tersenyum manis dan ramah kepadanya, selain itu style yang dia kenakan menambahkan kesan feminim dan keimutannya,


Linda memakai baju lengan panjang berwarna merah dengan rompi berwarna hitam, dasi kupu kupu merah yang dia kenakan menambahkan kesan serasi bagi dirinya, selain itu dia juga memakai rok mekar pendek dengan ukuran di atas lutut, motifnya pun berwarna merah dengan dua garis-garis hitam di bagian dekat ujungnya, memberikan kesan serasi kepada segala aspek pakaiannya.


Linda juga memakai sepatu merah dengan kaus kaki hitam panjang tertutupi oleh roknya, dia juga memakai topi baret merah yang dipasangkan dengan sebuah pita hitam, sehingga menggambarkan kesan seni yang imut dan manis kepada dirinya.


Belum lagi ditambahkan dengan tas gitar yang dibawanya, memberikan pengetahuan bagi setiap makhluk yang melihatnya jika dia adalah seorang musisi yang energik.


“hoi, are you oke?” Linda merasa bingung dengan ekspresi konyol Farhan yang mana dia bengong dengan mulut terbuka.


Untung saja Farhan bisa segera sadar dari lamunannya sehingga tidak ada lalat yang bertamu ke mulutnya,


“oh, i am fine, btw kenapa loe bawa gitar, bukannya main piano ya?”


“idih sejak kapan gue bilang ingin main piano!, seingatku kemaren aku juga nggak bilang apa-apa tentang piano dah!” Linda menjitak Farhan pelan sebagai sebuah jawaban sekaligus candaan ramahnya,


Untuk seseorang yang belum saling kenal atau belum akrab mungkin itu adalah hal yang tabu di jakarta, tetapi bagi mereka itu adalah candaan sehari-hari.


“ya sudah ayo berangkat!” Linda menarik tangan Farhan kedalam kereta KRL yang baru saja tiba dengan riangnya,


            ***


“sial penuh!” gerutu Farhan karena harus berdiri sebab tidak mendapatkan tempat duduk,


Kereta KRL, mungkin bagi seseorang yang tinggal di luar jakarta belum banyak yang mengetahui tentang kereta ini, kereta ini digerakkan oleh tenaga Listrik dengan memakai penyalur yang bernama Pantograf, tugasnya adalah menyalurkan Energi listrik yang tersimpan pada kabel-kabel sepanjang rel.

__ADS_1


Kereta ini standarnya memiliki empat gerbong untuk penumpang dan satu lokomotif, dengan bagian depan dan belakang sebagai khusus perempuan dan bagian tengah untuk campuran, setiap gerbongnya kereta ini memiliki 32 buah kursi untuk penumpang, sialnya mereka berdua tidak mendapatkannya.


“tenanglah! Bukan kau saja yang harus berdiri!”


Farhan menoleh kearah temannya itu yang sedang bersandar di tiang dekat pintu,


Mungkin jika jaraknya hanya sekitar tanah abang bisa dimaklumi, tetapi mereka harus melakukan transit beberapa kali hingga mencapai tujuan, belom lagi tangan Farhan yang tidak bisa berharap banyak sebab di Gip, `masalahnya nggak ada yang peka apa? Membiarkan orang terluka berdiri,` beruntung kereta ini dilengkapi dengan pendingin sehingga bisa menghilangkan rasa pengap dan panas di dalamnya.


“ah sudahlah mau gimana lagi, Btw apakah ini audisi pertamamu?”


“hmm.., tidak juga!, sebenarnya ini adalah semi Final, Gue udah lulus audisi tiga kali”


“heh, tetapi sejak kapan kau bermain gitar, bukannya selama ini mendalami piano?”


“Piano itu adalah impian gue, tetapi sebelum gue memiliki impian itu gue udah bermain gitar duluan, lagi pula nada gitar dengan piano itu sama kok!,” Linda memberikan senyuman memejamkan matanya yang manis di akhir dialog, ini adalah salah satu yang tidak diketahui oleh Farhan.


Dia tidak menyangka jika temannya itu juga bisa bermain gitar, pengalaman gitar yang dialaminya adalah tiga tahun yang lalu saat masih SMP, tapi sayangnya gitar itu berakhir rusak karena memakainya sebagai senjata ketika di begal sepulang sekolah.


Farhan semakin menghelakan napasnya mendengarkan bakat temannya itu, sementara dirinya tidak memiliki apa-apa.


            ***


Farhan dan Linda keluar dari gerbong bersama dengan puluhan manusia yang menyebar. Kesan pertama saat melihat stasiun ini adalah lumayan besar.


Walaupun tidak sebesar stasiun Kebayoran Lama tetapi stasiun ini cukup bersih


“ayo let's go!” Linda melangkahkan kakinya dengan penuh semangat,


Farhan hanya memandangi temannya itu dengan tersenyum, entah mengapa melihatnya bersemangat dapat membuat hatinya turut bahagia, jika seandainya tangannya masih baik-baik saja mungkin dia akan menawarkan dirinya untuk membawakan gitarnya agar dapat berjalan lebih cepat, tapi pikiran itu dia tahan sebab ingin melihat pemandangan yang damai ini lebih lama.


Farhan memandang sekeliling nya, walaupun isinya kebanyak gedung yang menjulang tinggi tapi perasaannya begitu senang sebab indahnya kota, jika dipikir-pikir mungkin ini semua berkat pasukan oranye juga di DKI sehingga sekelilingnya terasa nyaman dan juga bersih.


“Kau tunggu disini dulu aku akan membeli sesuatu” Linda mulai tertarik saat melihat pedagang ice cream di pinggir jalan, alasannya dia menyuruh Farhan menunggu adalah panjangnya antrian, selain itu melihat kondisi tangannya sehingga membuatnya tidak ingin merepotkan nya,


Farhan hanya mengangguk yang kemudian di susul oleh ucapan linda akan membelikannya juga sambil berlari melambaikan tangan. Sekali lagi Farhan tersenyum melihat kelakuan temannya itu yang selalu membuat dirinya memiliki kesan menarik. Entah kenapa dirinya selalu merasa nyaman jika bersamanya.


“Tolong-Tolong!”

__ADS_1


Belum lama melihat Linda hilang ditelan oleh puluhan orang yang mengantri dari arah sebaliknya Farhan mendengar suara gadis-gadis menjerit minta tolong,


Senyumannya menghilang setelah melihat kedua gadis sedang di tarik-tarik tasnya oleh beberapa seorang pereman, jika dilihat dari jumlahnya mereka berjumlah belasan orang, selain itu mereka juga tidak memakai jaket kelompok, kemungkinan besar atau memang sebenarnya mereka adalah pereman jalanan tampa kelompok, mengingat ketat sekali aturan para pereman kelompok.


Awalnya Farhan hanya mengamatinya dari jauh, bahkan bukan hanya dirinya saja melainkan orang-orang di sekelilingnya hanya melihatnya saja, entah karena mereka memiliki kekuasaan sehingga ditakuti atau mungkin karena jumlahnya yang banyak sehingga jika ada orang yang berlaku sebagai pahlawan mereka akan berakhir mengenaskan.


Mata Farhan yang masih mematung kepada seragam kedua gadis itu, Farhan hapal sekali jika seragam yang mereka pakai berasal dari Sekolah `Satu Bangsa`, sekolah yang sedang bentrok-bentroknya dengan sekolah dirinya,


Semua orang di jakarta pasti sudah tau tentang sekolah ini, selain merupakan sekolah swasta yang elit sekolah ini juga penampung para sultan dan anak-anak pejabat, sebab tidak sembarang orang yang bisa mendaftar ke sekolah ini mengingat biaya perbulannya yang bikin mata keluar.


Selain itu yang cukup terkenal dari sekolah ini adalah, sekolah ini juga menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari luar negeri sebab pendidikan keilmuannya yang tinggi, walaupun itu semua hanya sekitar sepuluh persen dari jumlah siswa lokal yang bersekolah, kebanyakan mereka berasal dari murid pertukaran, melihat kedua wajah gadis itu sudah dapat di perkirakan jika yang satunya merupakan siswi luar negeri dan siswi lokal.


“huh, untuk apa gue harus repot repot!” Farhan mencoba untuk tidak mempedulikannya karena dinilai


tidak ada manfaatnya, saudara bukan, kenalan juga bukan, dia merasa jika ini adalah hal yang bagus untuk sekolah musuhnya. Selain itu mereka pasti orang-orang kaya sebab hanya para berduit saja yang kebanyakan bersekolah di sana.


“tolong seseorang!” siswi yang memiliki rambut berwarna hitam terus menerus meronta dan berteriak berharap akan adanya suatu keajaiban, sementara teman yang satunya lagi berambut merah merasa tidak terlalu di permasalahkan, dia memberikan tas itu tampa beban.


Merasa jika wanita berambut hitam yang meronta memiliki kekuatan yang besar, pereman yang menarik tasnya itu meminta bantuan kepada teman-temannya yang dari tadi hanya menonton saja sambil makan kacang.


Gadis itu mulai mengigit bibirnya saat melihat tiga orang berusaha menarik tasnya, hingga akhirnya tasnya itu telah berpindah tangan.


“nah! Gitu dong! Jadi orang yang nurut!, tenang ajah entar tasnya kami balikin setelah kami ambil isinya!” tawa mereka puas.


Farhan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu karena sudah mendapatkan gambaran kedepannya.


“to-tolong! Jangan ambil uang saya! Aku memerlukannya untuk pulang!” mohon nya yang seakan-akan kehabisan harapan dengan bibir gemetaran.


“enggak bisa pulang ya!” pereman itu ketawa bahagia sambil memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah ”tenang nanti om anterin pulang setelah main sama om, bagaimana jika kita main ke hotel sama teman-teman om!”


Gadis SMA itu semakin ketakutan, dia sudah dapat melukiskan kejadian buruk apa yang akan menimpanya di masa depan, hingga akhirnya dia meronta-ronta lagi ketika tangannya di tarik-tarik, "OM JANGAN OM!"


Para Pereman mulai ketawa lepas, hingga akhirnya pereman yang menariknya itu mencoba berbuat nakal.


“kau cantik banget sih! Seperti orang Jepang. Jangan-jangan kau blesteran ya!” dia berusaha mencium gadis itu, sehingga ekspresinya sudah sangat pucat pasi


Belum sampai bibirnya menyentuh gadis itu tiba-tiba saja ada benda keras yang menghantam kepalanya. Hingga terpental dan mengeluarkan darah.

__ADS_1


“Bre*ngs*k!, siapa itu!” geramnya penuh emosi sambil melihat ke arah datangnya hantaman dan mendapati seseorang sedang berdiri santai dengan senyuman sambil memainkan beberapa batu ditangannya.


__ADS_2