
Farhan mengetahui dengan jelas maksud dari perkataannya itu, itu merupakan
sebagai sebuh perkataan ancaman untuk segera meninggalkan tempat ini, Farhan
hanya menebak jika dia sudah mengetahui identitas dirinya.
“Di-dia,” Regina menoleh ke arah Farhan” dia teman kami” jawabnya.
“Nona muda, Nona muda seharusnya tidak berteman dengan orang asing, apalagi
orang seperti dia!” ucapnya tegas.
Regina dan Yukiko justru malah melotot kearah para pengawalnya.
“Apa maksudmu dengan orang asing!, dia telah menyelamatkan kami dari para
pereman, seharusnya kamu malu sebab tidak bisa menjaga kami!, minta maaf
sana!” tegas Regina membentak pengawalnya
“Ta-tapi”
“nggak ada tapi-tapian, cepat!”
Pengawal itu merasa terkunci mulutnya saat dibentak oleh Regina, dengan
perasaan campur aduk dan sedikit kesal, dia menatap ke arah Farhan.
“baiklah orang asing yang berbahaya namun terhormat, kami meminta maaf!”
Farhan tidak menjawabnya melainkan hanya tersenyum canggung, dia menyadari jika orang yang dihadapinya ini
tidak memiliki rasa yang sungguh-sungguh, seperti dipaksakan.
“Nona Muda, Kak Wei ingin berbicara kepada anda!” ucap seorang pengawal yang lain,
“benarkah” Regina menaikkan alisnya “Dimana?”
“Di Kafe tidak jauh dari sini”
Regina mengangguk, dia sudah mengira topik apa yang akan di bahas, sehingga menyuruh Yukiko untuk pergi ke
Audisi duluan bersama Linda dan Farhan
“baiklah sepertinya kita akan berpisah disini,” Regina tersenyum ramah kepada Yukiko Linda dan Farhan, ”semoga berhasil!”
“terimakasih ya kak atas bimbingannya” jawab Linda senang sementara Farhan hanya mengangguk
Mereka berpisah dan meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
“kenapa kak Wei ada disini!” Regina menoleh ke arah supirnya
“Tentu saja membahas bisnis kita selanjutnya”
Regina menghela napas panjang atas ketidak pekaan supirnya, yang dia maksud adalah kenapa kak Wei harus berada disini, bukannya dia masih harus mengurus beberapa Mafia pelabuhan.
“Nona muda! Apa nona muda tau siapa laki-laki yang berada di taman tadi” supir yang hanya mengamati tadi meliriknya dari arah sepion.
Regina hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “aku tak tau, tapi yang jelas latar belakangnya sakral!” Supirnya tersenyum dan mengangguk mendengarnya.
“benar! Lihatlah ini” dia memberikan beberapa Foto kepadanya. “kami juga mendapatkan laporan tentangnya setelah melebarkan jangkauan komunikasi, menurut intel dia memiliki marga bernama Ragna, tangannya patah sebab pertarungan kemarin,”
“benarkah!\, jika benar dia pasti menggunakan jurus `Tinju Besi`\, ceroboh sekali”
Regina menutup sampul foto sambil menggeleng-geleng kepala, rupanya dugaannya benar setelah melihat
pertarungan Farhan.
“oh iya! Apa kau juga memiliki informasi tentang kakeknya?”
Supir itu sejenak memperhatikan Regina dari sepion sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya.
“sayang sekali, tadi aku sempat mendengar jika dia belajar Ninjutsu dari kakeknya”
Supir berbadan kekar dengan memiliki nama `Alex` di seragam bajunya terkejut mendengarnya\,
Dia bahkan sampai ngerem mendadak dipinggir jalan dan mengakibatkan Regina yang duduk di belakang terbentur sofa.
Regina sungguh kesal dengan supirnya, dia langsung mencekiknya.
“Yakin matamu!, kalo jalan yang benar, kau mau membuat hidungku pesek apa?”
Regina terus-menerus mencekiknya dengan kuat hingga terdengar suara tulang yang patah, seseorang
pasti akan mati jika tulang lehernya patah, tapi beda hal dengan supirnya, dia dapat memulihkan kondisi patah tulangnya dengan sangat cepat
“Cih! Jika seandainya kau tidak memiliki rawa rontek kau pasti sudah mati!” dengusnya kesal
“uhk-uhk” Alex menggenggam lehernya yang masih nyeri, rasanya seperti terhimpit baja. “maaf nona, aku hanya terkejut, bukankah Ninjutsu itu sudah lama hilang semenjak sekutu kita mendominasi perang dunia ke dua?”
“itu dia!, aku yakin sekali dengan mataku, ketika dia menggunakan pipa besi saat bertarung serangannya begitu lincah dan mahir seperti Ninjutsu, bahkan pencak silat dan Kyokushin Karate hanyalah sebagian kecil, walaupun Ninjutsu itu bukanlah hal yang besar tetapi orang yang berhasil menguasainya di saat seperti ini pasti memiliki latar belakang yang berbeda, terlebih katanya dia mempelajari bahasa jepang dari kakeknya”
Supir itu kembali menancapkan gasnya agar tidak membuat kak Wei menunggu lebih lama
“Baiklah Nona muda, kami akan mencarikan informasi tentang kakeknya, jika seandainya benar maka kemungkinan dia memiliki hubungan dengan Mafia Te...”
“Teratai Angin” ucap Regina memotong sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela.
*****
Matahari semakin menanjak ke atas memberikan efek panas kepada atsmosfir bumi, Farhan,Linda,Yukiko,dan seorang pengawal berjalan bersama menuju Gedung Audisi yang jaraknya kurang dari satu Kilo meter.
__ADS_1
“aku tak tau apa yang kau rencanakan, tapi jangan berharap untuk menyelakai Putri Yukiko!”
Farhan tersenyum tipis menedengar bisikan
tak mengenakan itu, dia sama sekali tidak menutupi aura permusuhannya,
“Dia memanggil Amelia dengan sebutan putri, kurasa dia memang memiliki latar belakang yang luar biasa”gumannya
Melihat peringatannya tidak di pedulikan sama sekali pengawalnya itu mendengus kesal, ingin sekali dia memukul Farhan ditempat, tapi keinginannya itu sirna setelah menyadari Yukiko memperhatikan
dirinya.
“Dengarya tangan kilat! Walaupun aku pernah kalah oleh mu tapi jangan berharap aku tak bisa menghajarmu!”
Suasana diantara mereka semakin canggung sampai akhirnya tiba di Gedung besar bertuliskan nama `STARS` di atasnya\,
“Kita sudah sampai!, bagaimana jika masuk bersama!” Yukiko menyarankan,
Linda tersenyum mendengarnya, “kami ingin makan siang dulu, kalian masuklah duluan”
Sebenarnya Yukiko ingin ikut bersamanya, tapi pengawalnya itu mencoba untuk menghalanginya,
“Putri Yukiko, sebaiknya anda masuk duluan, anda harus menemui manager terlebih dahulu!”
Dengan berat hati Yukiko meninggalkan mereka. “ya sudah kita akan bertemu lagi!”
Mereka berdua masuk, sementara pengawalnya itu menatap Farhan tajam menandakan sesuatu.
“Kau menyadarinya?” tanya Farhan kepada Linda.
“tentu, aura pembunuh seperti itu siapapun pasti akan menyadarinya, asalkan dia memiliki pengalaman.” Ucap Linda membuat Farhan tersenyum kecil.
“Maaf ya membuatmu jadi tidak nyaman!” sambungnya melihat Farhan
“tak apa-apa, lagi pula ini masalah kami, ayo kita mencari makan!”
*****
“Nasi goreng spesial dan es teh manis satu!”
“ Lemon tea dan Pasta macaroni komplit satu!”
Linda dan Farhan memesan beberapa menu hidangan yang berada di restoran tidak jauh dari tempat audisi, restoran ini menyediakan tempat makan didalam dan diluar,
khusus di bagian luarnya disediakan payung besar di setiap meja agar pelanggan tidak kepanasan bila panas, dan tidak kehujanan bila hujan,
“ kau harus mengurangi makan mie mu!” tegur Linda kepada Farhan
“itukan jika mie yang mengandung micin, tapikan kalo Pasta tidak ada bedanya dengan nasi!” Jawabnya ketawa kecil dan melemparkan pemandangannya ke atas payung.
Linda tersenyum canggung, walaupun memang benar jika Pasta memiliki kandungan tepung karbohidrat yang tinggi tapi tetap saja budaya menjadikan mie sebagai makan nasi masih terasa asing baginya, bahkan baginya belum dinamakan makan jika belum makan Nasi.
__ADS_1
“Terserah loe aja dah, BTW kau sudah memiliki Handphone baru, apa loe akan berhenti kerja di toko ku besok” Linda melirik Farhan yang sedang asyik memainkan Handphone nya.