Pendekar Sekolah

Pendekar Sekolah
Tinju Besi


__ADS_3

Suasana di tempat itu sudah semakin tegang, sudah hampir ratusan jurus mereka saling beradu semenjak lima belas menit pertarungan berlangsung,


walaupun musuh dalam kondisi terluka dan kekurangan darah akan tetapi Farhan masih belum bisa melumpuhkannya,


bahkan bagi dia yang telah mencapai tingkatan lumayan tinggi dalam dunia persilatan masih bisa merasa kewalahan melawan musuhnya.


Farhan mulai menyesali rutinitas hariannya, kenapa setiap hari waktunya kebanyakan dipakai untuk bermain game dan nolep seharian di kamar,


jika seandainya saja setiap hari dia mempunyai rutinitas meningkatkan stamina seperti push up seratus kali, squad jump seratus kali, sit up seratus kali, dan berlari sejauh sepuluh kilo meter sudah pasti kondisinya tidak akan selelah ini.


Dirinya hanya bisa berharap supaya kesadaran musuh cepat terenggut sebab darahnya yang mengalir tampa henti.


Dilain sisi kepala perampok itu sudah semakin terpojok oleh Farhan, bukan karena Farhan merupakan lawan yang tidak bisa dia lawan, akan tetapi ini semua sebab sulitnya dia mempertahankan kesadarannya saat ini, bahkan berdiri pun sudah merupakan keajaiban baginya, Akhirnya dia mencoba memfokuskan tujuannya untuk melarikan diri.


“Sial! Aku sudah tidak bisa lebih lama lagi.” Kini dirinya memasang kuda-kuda mencoba untuk menggunakan serangan andalannya.


Kepala Perampok itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum mencoba menyerang Farhan secara langsung,


Farhan yang melihat situasinya semakin sulit dikendalikan akhirnya juga mencoba menyerahkan seluruh tenaganya kepada pukulan terakhir


“sebenarnya jurus ini belum sempurna, mungkin saja efeknya hanya dibawah lima persen, tapi kurasa cukuplah untuk menghentikan orang yang sudah terluka seperti dia”.


dia memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam dan memasang kuda-kuda, seluruh tenaga yang terkumpul pada seluruh tubuhnya dialirkan kepada tangan kanannya,


Farhan berusaha mempertahankan tenaga itu sambil menunggu momentum yang pas untuk melepaskannya.


Disaat musuhnya sedang maju berusaha menyerang Farhan, Farhan menggocek musuhnya dengan menunduk sedikit dan langsung meledakkan pukulannya tepat mengenai bagian dadanya.


“Tinju Besi”


Seketika itu musuhnya terpental jauh ke tembok hingga temboknya itu hancur, jangankan tembok hancur, bahkan angin yang terhempas dari pukulan itu mampu membuat jemuran kering.

__ADS_1


Pereman itu muntah darah seketika, dia merasa organ tubuhnya seperti bergeser, karena rasa sakit yang hebat sampai-sampai dia merasa mati rasa pada sekujur tubuhnya, perlahan pandangannya mulai gelap dan tak sadarkan diri.


“aku tak tau apakah jurus ini baik atau tidak”


Dilain sisi Farhan juga merasakan efek dari jurusnya, dia memegangi tangannya yaang merasa berantakan di bagian dalam, rupanya jurus ini seperti pedang bermata dua, yang mana jurus ini mampu membuat tulang hancur menjadi abu bila mana menggunakannya,


beruntung Farhan menggunakannya dalam jumlah yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari pada upil, akan tetapi tetap saja dia harus menerima efeknya, tulangnya pun patah dan tak bisa menggunakan tangannya lagi, beruntung musuhnya sudah kehilangan kesadaran sehingga tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.


Tidak lama setelah kejadian itu puluhan orang dengan memakai jaket hitam berlambangkan beruang hitam di punggungnya memasuki ruangan, Farhan yang mengetahui hal itu hanya bisa tersenyum pahit. “ ini sebabnya aku benci Pahlawan”


“Tuan muda!, apa tuan muda tak apa-apa!” tanya mereka serempak


“Telat anjim!” jawab Farhan sedikit kesal.


Tentu semuanya itu adalah anggota beruang hitam yang merupakan penjaga wilayah ini dan sekaligus anak buah dari ayahnya,


Melihat kondisi tangan Farhan yang bengkak mereka hanya bisa menghelakan nafas dan menundukkan diri, habis mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, selain itu mereka juga perlu waktu untuk mengumpulkan anggota sekaligus berjalan kesini.


Dan benar saja dia adalah adik ayahnya Farhan yang sekaligus memimpin mereka dan mengajari mereka termaksud Farhan ilmu seni bela diri khususnya pencak silat,


Tante Sarah namanya, walaupun usianya tergolong hampir tua tetapi dia masih betah menjomblo, tetapi anehnya entah mungkin karena dia salah makan obat atau gimana, tubuhnya masih terlihat mulus, cantik, dan muda, seperti orang berusia 24 tahun,


bahkan dari caranya berpakaian pun dia sudah seperti ABG dengan pakaian jaket


tebal ketat yang gesper nya dilepas beserta dalamannya yang ketat sehingga dada besarnya juga terlihat pres body.


“luka ini! Aku kan sudah bilang, jangan gunakan jurus itu sebelum kau menguasai tenaga dalam bujang!” ucap wanita itu setelah memperhatikan tangan Farhan.


Farhan hanya bisa menggeleng–gelengkan kepala sambil menghela napas, dia hanya memikirkan apa yang akan terjadi jika seandainya dirinya tidak melepaskan jurus itu,


“maaf Tante! Dia sangat merepotkan sebab menguasai systema”

__ADS_1


“apa systema? Bukannya itu seni bela diri tentara korea!, dan kurasa tidak banyak orang di indonesia yang menguasainya sebab tidak populer disini.”


“itu sebabnya tan!, aku juga merasa aneh" jawab Farhan sambil berdiri, dia merasa tugasnya telah selesai dan membiarkan markas saja yang mengurusnya, tapi sebelum dia pergi dia dicegah oleh Tantenya.


“Tunggu! Aku kan sudah bilang panggil aku kakak!” jawabnya kesal sambil menjewer telinga Farhan dengan pelan.


“idih! Jangan sok ngarep dah! Inget umur woi! Bahkan memanggilmu Tante saja sudah merupakan pujian!” balas Farhan meronta sambil melepaskan jewerannya.


Tante sarah hanya bisa cemberut saja dengan jawabannya itu, bahkan mulutnya sendiri sampai manyun, sebenarnya ini memang sudah menjadi rutinitas mereka sehingga menjadi hal yang wajar, tetapi beda halnya jika yang memanggilnya itu adalah orang lain atau anak buahnya, bahkan pacarnya sendiri lari dari dia sebab kena hantaman jika memanggilnya begitu.


“terus bujang mau kemana!, bukankah sebaiknya tulang bujang yang patah di gip dulu!” ucap Tante Sarah penuh perhatian,


“aku masih ada kerjaan!  Tenang saja akan ku urus di sangkal putung, sisanya ku serahkan pada kalian!” jawab Farhan yang mulai pergi meninggalankan mereka.


Tante Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepergiannya lantas dia memberikan perintah kepada anak buahnya.


“kalian bereskan tempat ini! Tinggalkan mereka semua di depan kantor polisi, dan ambil semua harta perampok-perampok ini yang berada di mobil.”


                        **********************************************


Farhan memegangi tangannya yang bengkak sambil berjalan ketempat Linda, mengetahui kondisi Farhan yang terluka parah setelah memasuki tokonya Linda mulai panik.


“apa yang terjadi dengan tanganmu!”


“tak apa, hanya patah tulang, bisa kau panggilkan kak Lisa” pintanya


“patah tulang kok nggak apa-apa! Ayo masuk ke ruang tamu, biar aku panggilkan Kak Lisa!”


Farhan mengangguk pelan, kemudian Linda meninggalkannya terburu-buru ke tempat kakaknya yang berada di rumah bagian belakang.


Kini Farhan berjalan menuju ruang tamu sambil membayangkan kembali rasa nonstalgianya.

__ADS_1


“kuharap sangkal putung kak Lisa kali ini bisa lebih halus sedikit”


__ADS_2