
“Andre, woi Andre, bangun!”.
Seorang anak anggota perampok berusaha membangunkan temannya yang sedang pingsan, setelah mendapatkan hasil yang tidak diinginkan dia melaporkannya kepada pimpinan.
“Bos!, Andre pingsang, sepertinya lehernya patah tapi beruntung napasnya masih lancar .”
Orang yang sedang menguasai para perampok kini menoleh kearah Farhan sambil menaikkan alisnya dan mencoba menganalisa kemungkinan yang ada.
“Bravo, Bravo!, Good Luck anak muda! baru kali ini aku melihat orang sepertimu, siapa namamu!” pemimpin perampok mengatakannya sambil tepuk-tepuk tangan, ini menandakan jika sebenarnya dia masih meremehkan laki-laki yang membuat temannya itu pingsan.
“panggil saja aku “orang yang kebetulan lewat””, walaupun Farhan mengatakannya dengan santai dan terasa sedikit mengejek akan tetapi tetap saja dia tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun,
dia tau banyak kemungkinan yang akan terjadi di dalam arena pertempuran, terlagi dalam kondisi kalah jumlah seperti ini, pengalaman ini didapatkannya setelah banyak sekali mengikuti tawuran sekolah.
Para perampok hampir semuanya merasa sangat kesal dengan jawaban yang ada, bahkan sebagian dari mereka banyak yang mengumpat dengan keras dan bersiap untuk menyerang dia, untung saja aksi mereka itu segera di hentikan oleh pemimpinnya dengan mengangkat tangan.
“Aku mengerti maksudmu! Kau hanyalah seorang yang hanya bertindak sebagai pahlawan bukan?”
“maaf saja ya! Tetapi sebenarnya aku membenci pahlawan sebab pahlawan datangnya selalu kesiangan, tujuanku kesini adalah menendang mu dari Toko ini!” balas Farhan sambil memasang kuda-kudanya.
Merasa dirinya sedang diremehkan oleh bocah ingusan, pemimpin perampok merasa otaknya sudah meleleh, dia merasa diungguli sebab menang jumlah, langsung saja dia memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghakimi Farhan “habisi dia!”
Farhan mulai mengambil napas dalam-dalam sebelum beradu fisik dengan mereka, kini dirinya berhadapan dengan belasan anggota yang telah dilengkapi dengan senjata,
serangan pertama dijatuhkan dari orang yang berada tepat di belakangnya, akan tetapi Farhan dapat merasakan keberadaannya dengan sangat jelas,
sebelum hantaman balok tepat mengenai kepalanya, Farhan sudah menggeser kan dulu kepalanya dan menangkap serangan itu, dia membantingnya ke tanah dan dilanjutkan dengan hantaman lutut di kepala yang mengakibatkan orang itu pingsan.
Farhan melakukannya dengan sangat cepat dan rapih yang bahkan seakan-akan kejadian itu hanya terjadi dalam kedipan mata saja,
adapun alasan Farhan melakukannya dengan sepintas adalah karena dia tau jika dalam kondisi dikeroyok hal yang paling efektif adalah membuat musuhnya langsung pingsan atau tidak berdaya dalam sekali jurus, sebab akan menjadi sangat merepotkan jika mereka bangkit kembali seakan-akan tidak pernah tumbang.
__ADS_1
mudah saja bagi seorang pendekar ahli untuk mengibas abis para musuhnya akan tetapi sulit bagi mereka jika harus berhadapan terhadap stamina,
ini jugalah yang Farhan dapatkan dari setiap perkelahiannya, sehingga dia memiliki pemikiran “menghabisi musuh dalam satu jurus itu berarti engkau telah menghemat sepuluh jurus”.
Selanjutnya Farhan mengamati dua orang di hadapannya yang akan siap menyerangnya dengan linggis,
dengan sigap dia mengunakan satu tangan sebagai pijakan di lantai dan langsung menendang kedua orang tersebut lalu menghabisi salah satunya yang tersungkur dengan sebuah kuncian cepat,
walaupun itu tidak membuatnya pingsan tetapi itu cukup untuk mematahkan tangannya sehingga dia tidak akan bisa lagi ikut berpartisipasi dalam pertarungan.
Secara serentak empat orang menyerang Farhan secara bersamaan, Farhan bisa dengan jelas merasakan keberadaan mereka sebab indra keenamnya sudah sangat terlatih,
akhirnya Farhan memutuskan untuk mengambil linggis orang yang sudah dipatahkan tangannya untuk menangkis serangan mereka, membuat Farhan mundur berguling ke belakang.
Farhan berdiri dan menatapi keempat orang itu yang sedang berusaha memburunya, Dengan sigap dia melemparkan linggisnya tepat ke kepala seseorang diantara mereka yang menyebabkan dia pingsan seketika setelah mendapatkan pendarahan di kepalanya.
Dikarenakan sebagian pikiran ketiga orang itu pecah karena kejadian tersebut, Farhan maju dua langkah dan menghindari serangan dari dua orang lantas menangkap kepala dua orang tersebut dan saling membenturkannya hingga mereka pingsan.
Dengan hitungan detik saja Farhan berhasil menumpas kan lima dari belasan pereman tersebut.
Sekarang mereka semua sedang menahan diri dulu karena sudah merespon akan kejadian yang ada,
setelah kehilangan beberapa anggotanya mereka menyadari jika menghadapi orang
di depannya dengan cara biasa mereka pasti akan kalah, orang yang berada dihadapannya ini bukanlah tandingan mereka.
Begitu juga dengan pimpinan mereka, senyum tinggi yang sebelumnya menghiasi dirinya kini berubah menjadi senyum kecut, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk bermain kotor.
“hentikan!” teriak pimpinan tersebut sambil menodongkan pisau kearah seorang pegawai perempuan dan menjadikanya sebagai sandera.
“Cih!” Farhan mengumpat didalam hati, tidak disangka jika lawannya itu begitu hina.
__ADS_1
Serentak Farhan menghentikan aksinya dan menatap tajam kearah orang tersebut, akan tetapi tiba-tiba saja seorang diantara mereka berlari menyerang Farhan dengan pisau,
Farhan secara reflek menyerangnya dengan pukulan yang menghantam ke dagu dan membantingnya kebelakang
“WOI! BERHENTI ANJIMMMM!!!!!” teriak pimpinan itu semakin menjadi-jadi
“sorry reflek!” Farhan mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.
“MATAMU REFLEK! GUE BILANG BERHENTI, BERHENTI B*ANGSAT!!” bacotnya dengan begitu berapi-api
Farhan berusaha santai untuk menghadapi alasan tersebut, dia berusaha untuk mengendalikan situasi dikala itu
“hmm.., memangnya kenapa ya aku disuruh berhenti?” tanyanya polos
Sejenak ucapan itu menggelegar kan suasana, terutama para pegawai yang ada, mereka merasa jika Farhan tidak bisa membaca situasi. Tak hanya itu Bos para pereman juga merasa geram karena jawaban itu.
“APA? KENAPA KAU BILANG! MATA LOE BUTA YA! GUE LAGI NYANDERA ORANG! LOE MAU ORANG INI GUE BUNUH!!”
“Bentar dulu, gue tau kalo loe lagi nyandera seseorang, tapi apa hubungannya orang itu dengan gue. Saudara bukan, pacar bukan, memangnya gue ini polisi yang harus menurunkan senjata karena sandera lalu karena kebodohannya polisi itu harus ditembak,”
Jawaban itu membuat suasana makin mencengkram, para pegawai di Toko itu
hanya bisa mengumpat dan mengutuk karena jawaban Farhan,
pegawai yang ditahan pun merasa putus harapannya dan berpikir jika dia akan meninggalkan dunia ini dalam usia masih muda, bahkan dia sampai sempat mengucapkan salam dan permintaan maaf kepada orang tuanya walaupun itu semua hanya dilakukannya di dalam hati.
Tetapi beda hal dengan apa yang dipikirkan oleh para perampok, di dalam hatinya mereka menjadi cemas sebab jika apa yang dikatakan Farhan benar, maka tidak ada gunanya juga mereka menyandera seseorang, mau tidak mau mereka harus berhadapan dengan Farhan.
Begitu juga dengan pemimpin perampok, dia sudah berada diposisi dilema antara emosi dan berpikir, ingin rasanya dia merenungkan ucapan Farhan yang tadi, akan tetapi karena rasa emosinya sudah cenderung ke arah delapan puluh persen dia mulai lama berpikir dan ujung-ujungnya dia tidak memakai akal sehat nya.
“baiklah! Jika itu yang kau katakan, kita akan lihat ekspresi mu setelah aku mencabut satu nyawa dulu!”.
__ADS_1