Pendekar Sekolah

Pendekar Sekolah
PERAMPOKAN III


__ADS_3

Kepala perampok mengucapkan keinginan membunuh nya itu dengan lantang,


tampa dia sadari di saat dirinya sedang lengah sebab bertarung dengan pikirannya sebilah pisau telah terlebih dulu melayang ke arah tangannya tepat bersebelahan dengan urat nadi, mungkin jaraknya sekitar satu sentimeter saja.


Farhan tersenyum sebab misi pengalihannya berhasil. Sebenarnya dia sudah merencanakannya dari awal semenjak ada seseorang yang menyerangnya dengan pisau,


adapun alasan Farhan membanting orang itu kebelakang adalah agar dia dapat melumpuhkannya sembari merebut pisaunya itu dan menyembunyikan nya ke dalam lengan bajunya tampa di ketahui oleh mereka semua,


Dan terbukti rencananya itu sukses, hanya memancing emosinya sedikit saja dia sudah melonggarkan kewaspadaannya. “emosi akan lebih cepat membunuh mu ketimbang sebutir peluru di pertarungan” itulah yang dikatakan oleh ayahnya


Tampa berpikir panjang dengan segera Farhan berlari dan menghabisi beberapa


perampok yang tersisa dengan seni bela dirinya,


tentu mereka semua tidak siap akan serangan yang mendadak tiba, terlebih erangan komandan mereka yang menjerit kesakitan membuat semua perampok fokus menatap ke arahnya.


Dengan hitungan detik saja semua perampok di sana sudah dibuatnya pingsang dengan sekali jurus.


Inilah kelebihan Ilmu Silat yang dipelajarinya ketimbang kebanyakan ilmu-ilmu bela diri yang lainnya, sebab ilmu silat itu dapat mengetahui titik lemah lawan dengan cepat sehingga mudah sekali untuk menghabisinya, terlebih jika orang itu merupakan orang-orang awam seperti mereka, yang hanya mengandalkan otot ketimbang seni atau otak.


“fiuh! Lumayan juga untuk pemanasan” Farhan mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menghilangkan penat di pundaknya, dia merasa jika pekerjaannya itu telah selesai dalam hitungan detik, tetapi dia tidak menyangka jika sebenarnya pimpinan pereman itu masih sanggup berdiri.


Tampa Farhan sadari dia cukup ceroboh, pemimpin pereman itu tiba-tiba saja


melompat ke arahnya dan mengunci lehernya dengan jurus kaki guntingnya.


“JANGAN SENANG DULU ANAK DAJJAL!” bengisnya sambil mempertahankan kuncian nya.


Preman itu menahan rasa sakit pisau di tangannya, dia mengetahui jika seandainya pisau itu di cabut maka akan menyebabkan luka yang sangat fatal sebab darahnya akan mengalir dengan deras, terlebih kemungkinan untuk menyayat urat nadinya sangat tinggi sebab jaraknya yang sangat dekat, ini akan menjadi PR untuknya.


Farhan mengumpat dengan kesal, ingin sekali dia meneriaki kebodohannya akan tetapi kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut, untung saja kakinya masih bisa bebas sehingga dia turut mengunci lawannya dengan kaki hanya saja kondisinya lebih diuntungkan sebab ke dua tangannya masih bisa digerakkan dengan bebas.

__ADS_1


Farhan bisa saja mati ditempat jika lebih lama sebab kehabisan napas dan patah tulang lehernya, akan tetapi mengetahui jika kedua tangan Farhan berusaha membuat luka yang lebih serius terhadap tangannya yang tertancap pisau membuat pemimpin perampok itu lebih memilih untuk mundur dengan cara berguling kebelakang.


“baru kali ini aku melihat anak berbakat silat di usia muda sepertimu, penilaian ku kau adalah sabuk Biru” pujinya sambil tetap waspada kearahnya dan mencabut pisau tersebut dari tangannya, tentu taruhannya adalah darah yang keluar deras akan tetapi ini lebih baik dari pada bertarung dengan nyawa di ujung tanduk.


“uhk-uhk!, kupikir kita akan ke akhirat bersama!” Farhan mulai mengontrol


napas dan mengendalikan tubuhnya yang terasa sangat sakit di leher.


“tak ku sangka teknik penguncian mu kuat sekali, selain itu kau berani mencabut pisau itu tampa kehilangan nyawamu aku mulai ragu jika kau adalah orang biasa!”


Pereman itu hanya membalasnya dengan tersenyum tipis sambil menyiapkan kuda-kudanya, sebenarnya mereka bersama-sama berada diposisi yang tidak menguntungkan,


Farhan sudah kehabisan sebagian besar tenaganya demi menghadapi para keroco-keroco tadi, sementara pereman itu telah kehilangan banyak darah, jika tidak dilakukan pertolongan secepatnya dia bisa terkena anemia, selain itu dia tidak bisa terlalu mengandalkan satu tangannya sebab tangan yang lain terluka parah.


Langkah awal yang dia terapkan adalah melemparkan pisau itu kearah Farhan,


untungnya dengan sigap Farhan berhasil menghindarinya akan tetapi dia hampir


Mereka saling mengadu tinju dan tendangannya, tetapi anehnya orang itu


berhasil menghindari serangan Farhan, bukannya menghindari sih, lebih tepatnya


sering menangkap serangan Farhan dan mencoba untuk mengelintirnya,


untung saja Farhan dengan sigap selalu mendapatkan posisi yang tepat agar terhindar arahan pelintir yang lebih parah.


“sial! Jika seandainya kondisiku fit sudah aku remukin bocah ini ratusan kali!” geram pereman itu kesal.


Farhan yang tadinya merasa di atas angin kini lebih memilih menjaga jarak dulu kebelakang sambil menganalisis lawannya.


“siapa kau sebenarnya!” Farhan mulai bertanya

__ADS_1


“apa maksud mu!”


Farhan sebenarnya sudah mendapatkan gambaran tentang semua teknik yang


telah dilakukan orang itu, akan tetapi dia mulai ragu.


“tak ada gunanya berpikir lebih jauh, lebih baik aku mencobanya.”


Dia mulai mendekati lawannya untuk saling bertukar jurus sekaligus membuktikan hipotesis nya,


awalnya mereka terlihat seimbang namun setelah mengadu jurus sebanyak belasan kali di saat Farhan memukulnya, dengan sigap sikut orang itu menepisnya dan langsung menarik lengan Farhan kebelakang berusaha menghantam punggungnya dengan sikut,


beruntung Farhan yang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi langsung loncat salto memelintir tangannya dan mundur kebelakang.


“sudah kuduga kau bukanlah orang biasa, sebelumnya aku hanya berpikir jika kau sebenarnya hanyalah orang yang berutal, tetapi setelah mengadu jurus terakhir ternyata seranganmu berfokus pada pengendalian enam ruas tubuh berupa siku, leher, lutut, pinggang, sendi dan bahu. Dan hanya ada satu saja ilmu beladiri di dunia ini yang menerapkan hal itu, itu adalah systema kan!”


“hebat juga kau bocah, biasanya orang sudah ku kirim ke kuburan duluan sebelum menyadari hal itu” ucapnya tersenyum tipis,


sebenarnya dalam hatinya dia mengumpat keras, karena akan menjadi pertarungan yang membahayakan jika seorang pendekar silat bisa mengetahui jurusnya, sebab kemampuan terbesar dari pencak silat adalah dapat mengetahui kelemahan lawan dengan cepat, sehingga bisa dikatakan ilmu silat tergolong ilmu yang mematikan juga seperti systema.


Tapi masalah yang lebih besar adalah dirinya sedang terluka parah di tangannya, sudah lima menit berlangsung semenjak pertandingan ini di mulai,


dan sudah banyak darah segar yang mengalir, bahkan mempertahankan kesadaran adalah suatu keajaiban, ditambah dia sudah mengetahui teknik bela diri miliknya, ini akan menjadi pertarungan yang merepotkan


“sial kondisi semakin buruk, jika begini terus percuma juga gue berhasil membunuhnya, yang ada setelah itu gue hanya kehabisan darah dan pingsan di jalan, gue harus segera pergi dari sini!”ucapnya dalam hati.


“hai bocah! Bagaimana jika kita hentikan pertarungan ini, aku akan mengaku


kalah dan segera mundur dari tempat ini!”


“hmm.., mundur ya, oke! kita akan mundur setelah aku menyaksikan mu kehabisan darah disini”

__ADS_1


“semfack! Rupanya dia telah menilai situasinya dulu ketimbang gue!” dengusnya kesal.


__ADS_2