Pendekar Sekolah

Pendekar Sekolah
Farhan VS Pereman


__ADS_3

Farhan telah berjalan beberapa langkah meninggalkan tempat itu dan berusaha untuk tidak mempedulikan mereka.


tapi secara refleks tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar jika dia blesteran dari Jepang,


entah apa yang terjadi, tampa dia sadari tangannya sudah memungut beberapa batu dan melemparkannya kepada orang yang berusaha mempermalukan gadis itu di depan umum.


Farhan tersenyum kaku saat menyadari tindakannya, entah itu karena takdir atau karena ada hubungannya dengan masa lalu, tetapi dia tau jika hal yang sedang dilakukannya ini akan menjadi merepotkan.


“Bedebah!”


Pereman yang terkena hantaman batu darinya menatap Farhan dengan penuh murka dan amarah, matanya memerah, tampa pikir panjang dia langsung berlari kearah Farhan untuk membalasnya,


Farhan menganalisa bahaya yang ada, dia tau jika melawan mereka semua ketika dalam kondisi tangan patah merupakan pilihan yang buruk, sebab hanya bisa menggunakan tiga puluh persen kemampuannya setara dengan sabuk putih, tapi jika berlari Farhan tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi kedepannya kepada Linda, sebab sebelumnya mereka sudah melihat jika Farhan berjalan bersama Linda


Akhirnya Farhan berusaha tetap tenang menghadapi mereka dengan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.


“Makan nih!”


Farhan menggeser kan kepalanya disaat sebuah tangan mencoba meninjunya, dengan kecepatan yang dia miliki, Farhan menjagal kakinya dengan sebuah tendangan dan di akhiri dengan hantaman keras batu di bagian leher belakangnya.


Mereka semua kaget melihat kejadian itu, Para pereman tidak menyangka jika orang yang tangannya terluka itu dapat melumpuhkan temannya dalam satu tarikan napas, yang mereka pikirkan adalah pasti orang itu mati mendapatkan konsekuensinya.


Mereka semua murka dan bangkit menghadapi Farhan.


“Woi Bocah tengil!, mau jadi pahlawan loe!”


“maaf aja ya!, tapi gue benci pahlawan karena datang nya selalu telat!”


“Kurang ajar!”

__ADS_1


Mereka semua naik pitam mendengar jawaban yang menyepelekannya, tampa perlu ada yang mengemandoi lagi mereka semua maju mengelilingi Farhan.


Farhan mencoba menjaga jarak dan mencari celah walaupun itu hanyalah sekecil upil, dia sadar jika berhadapan dengan mereka hanya menggunakan satu tangan akan sangat sulit mengingat jumlahnya sekitar selusin.


Serangan dari belakang mencoba untuk memeluknya, Farhan melompat salto kebelakang dengan menggunakan kepala musuh sebagai tumpuannya, dengan secepatnya dia menghantamkan batu ditangan kearah kepala bagian belakang hingga ancur dan membuatnya tidak sadarkan diri.


Walaupun musuh telah tumbang satu tapi dia masih belum bisa bernapas lega, dua orang dari samping kanan dan kiri berusaha menendangnya, untung saja Farhan memiliki insting indra keenam yang bagus sehingga dia bisa menyadarinya.


Dia menunduk dan menendang kaki orang sebelah kiri dengan ke dua kakinya dan menjadikan satu tangan sebagai tumpuan di tahan, al hasil dikarenakan kaki yang satunya sedang terangkat sebab ingin menendang Farhan tapi gagal, orang itu menjadi tidak memiliki pijakan dan mendarat dengan kaki yang sangat lebar, tentu itu akan terasa sangat sakit dan pilu, bahkan kakinya sendiri terasa tidak bisa dibuat berjalan lagi.


Setelah melakukan hal itu Farhan mencoba berdiri secepatnya dan langsung menghantamkan sikutnya kearah musuh bagian kanan dengan cara berputar cepat dan memberikan demage yang sangat Fatal.


"untung mereka hanyalah orang biasa yang tidak melatih tubuhnya, sebab akan merepotkan jika mereka semua pendekar walaupun sabuk putih" gumannya yang setelah melihat orang yang terkena hantaman sikutnya itu tidak sadarkan diri.


Farhan menyadari jika seandainya mereka itu hanyalah orang biasa, sebab jika seorang pendekar pasti tidak akan langsung pingsan setelah terkena serengan itu paling-paling hanya muntah-muntah. Farhan menatap


mereka dengan harapan semoga perkelahiannya kedepannya tidak terjadi apa-apa.


Baru saja Farhan berharap, tapi tiba-tiba saja mereka mengeluarkan pisau dan golok dari balik pakaiannya sehingga membuat suasana makin merinding,


Farhan menghela napas panjang-panjang dan mengumpat melihat mereka semua, akhirnya dia lebih memilih untuk memfokuskan pertarungannya sebab melawan sembilan orang dengan satu tangan bukanlah hal yang mudah,


bahkan orang-orang yang menontonnya dari jauh seperti teater sampai menahan napas dan histeris melihat kondisi seperti itu, tidak sedikit juga dari mereka yang memanggil ambulan karena mengira pasti dia akan mati, inilah anehnya orang-orang zaman sekarang, ada perkelahian seperti ini mereka semua hanya pada menonton.


Secara serempak mereka semua maju secara bersamaan, Farhan menghindari serangan yang ada sambil berjalan mundur, bahkan para penonton yang berdiri di belakangnya juga ikut lari membubarkan diri.


Sedikit demi sedikit Farhan berhasil memberikan serangan balik, sayangnya serangan-serangan itu tidak memberikan efek fatal kepada mereka sehingga mereka selalau bangkit setelah di hajar.


Pertempuran diantara mereka semakin memanas, Farhan berusaha sebaik mungkin menghindari serangan pisau yang mencoba mengkoyaknya, hingga akhirnya dia terpojokkan dan terjatuh, melihat kesempatan emas itu dua orang di antara mereka tidak menyia-nyiakannya, langsung saja mereka mengayunkan pisaunya dari atas sampai bawah.

__ADS_1


Farhan menangkis serangan itu dengan menggunakan tangannya yang di Gip, untung saja Gip nya itu di buntal dengan begitu keras, sehingga hanya meninggalkan bekas goresan pada Gip nya.


Walaupun dia dalam kondisi terpojok, Farhan tidak tinggal diam dia mengamati situasi dengan cermat dan melompat kebelakang hingga akhirnya dia berdiri dekat dengan sebuah pipa besi yang lumayan keras,


Farhan tersenyum dikit, dia merasa melihat sebuah harapan, seorang diantara mereka maju dan menusukkan pisaunya ke arah Farhan, dengan sigapnya Farhan menangkap tangannya dan langsung membantingkannya kearah pipa besi dengan sangat keras hingga bengkok dan terlihat akan lepas,


Kakinya tidak dia sia-siakan, dengan cepat dan kuat dia menendang pipa itu hingga akhirnya terlepas dan menangkapnya.


“sudah lama aku tidak menggunakan ini, ku harap aku masih belum lupa” Farhan menatap kearah mereka semua sambil menggenggam ujung pipa yang bengkok seperti senjata.


“aku harap kalian semua belum sarapan, atau akan menyesalinya” senyum Farhan sinis.


Mereka semua maju secara serempak, Farhan kini lebih memilih menyerang sebab memiliki senjata yang memumpuni, dengan keahliannya, dia mampu menghindar dan menangkis semua serangan yang di berikan dengan pipanya,


Dengan satu pukulan yang telak, seseorang diantara mereka muntah-muntah sebab terkena dibagian perutnya,


Farhan menghadapi mereka dengan berutal, bahkan sebagian dari mereka ada yang terkena kepalanya hingga memar berdarah, sebagian dari mereka kadang juga tak sadarkan diri sebab kerasnya benturan, akhirnya dengan waktu singkat dia mampu membalikkan keadaan.


Semua orang yang melihat kejadian itu merasa takjub, tidak menyangka seseorang yang akan diperkirakan mati akan membalikkan keadaan dengan begitu cepatnya, hanya karena dengan satu senjata saja bisa membalikkan arus pertarungan,


bahkan diantara mereka ada yang menyesal sebab telah memanggil jasa penggali kubur, dan tidak sedikit juga dari mereka yang mengumpat keras sebab kalah taruhan mengira Farhan akan kalah.


Sebenarnya ilmu silat yang Farhan gunakan juga dicampurkan dengan teknik Kyokushin Karate, dia menjadikan pipa itu sebagai Tonfa, ini semua sebenarnya juga diajarkan oleh perguruannya, hanya saja Farhan mencampurkan beberapa gerakan sedikit dari pendidikan Kakeknya sepuluh tahun silam.


Semua pereman yang berada ditempat itu berbaring di tanah, kebanyakan diantara mereka muntah-muntah dan tidak bisa melanjutkan pertarungan.


Farhan mengambil napas panjang untuk menstabilkan paru-paru dan jantungnya, sebab kendala utamanya selalu saja dengan stamina, dia melakukannya dengan cara berlutut satu kaki sebab semakin lelahnya.


Ketika Farhan mengira kondisinya sudah terkendali tiba-tiba saja seorang diantara mereka berdiri dan menjadikan Gadis blesteran jepang itu sebagai sandra, dengan cara memeluknya dari belakang dan menodongkan pisaunya ke arah leher

__ADS_1


Semua orang menahan nafas melihat kejadian itu, begitu juga Farhan yang menatapnya dengan dingin.


__ADS_2