Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Pemadatan Aura Ranah


__ADS_3

Kota Biru, sebuah kota yang kecil, namun cukup ramai. Terlihat banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi suatu bangunan, membawa anak-anak mereka yang baru umur 7 tahun. Sebuah gerbang besar dengan tulisan Akademi Biru di atasnya, menjadi tempat akhir mereka mengantar anak-anaknya. Termasuk seorang pria berbadan besar bersama istrinya yang cantik, mengantarkan anak laki-lakinya. Pakaian yang mereka kenakan cukup memberitahukan bahwa mereka dari keluarga yang kaya.


"Dam, jaga nama baik keluarga Beton!" ujar pria berbadan besar dengan serius kepada anaknya.


"Tidak perlu diulangi, memang anak kita yang terbaik," ujar wanita di sampingnya sambil mengusap kepala anaknya dengan bangganya.


"Tenang saja ayah, ibu!" Dam Beton mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.


"Dam Beton pasti akan menjadi master bela diri terkuat!!" lanjutnya.


Saat Dam Beton ingin berbalik badan ke arah akademi, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki yang berlarian. Sambil menenteng kedua bilah pedang kayu di kedua tangannya, anak itu berteriak.


"Wahh! Mama, lihat!" Anak itu mengacungkan satu pedangnya ke arah akademi, lalu menengok ke belakang. Ada seorang wanita yang berpakaian sederhana, namun sangatlah cantik.


"Akara, jangan berlarian," ujar sang wanita cantik yang berjalan tergesa-gesa mengikuti anaknya.


Kecantikannya membuat dirinya menjadi pusat perhatian para pria di sana, hal itu membuat kesal ibu-ibu lainnya. Ada yang menjewer, hingga memukul suami mereka yang sedang memandangi mamanya Akara.


"Akan aku bantai mereka semua dan menjadi yang terkuat!" seru Akara saat mamanya sudah berada di sampingnya.


"Hahaha, bantai mereka semuanya, jangan sampai tersisa!" seru mama Akara layaknya preman, berbanding terbalik dengan penampilannya yang sangat cantik dan anggun.


Semua orang langsung terkejut, tidak menyangka akan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.


"Rakyat jelata tetaplah rakyat jelata. Mau secantik apa penampilannya, kelakuannya tetap sama saja," ujar salah satu warga sambil geleng-geleng kepala.


"Bukankah dia janda? Tidak pernah aku lihat suaminya,"


"Mungkin anak itu hasil dari hubungan gelap,"


Akara langsung marah saat mendengar celotehan dari para warga di sana, ia lalu mengacungkan pedang kayu miliknya .


"Apa yang kalian bicarakan sialan!?"


Semua orang langsung terdiam, namun wanita dari keluarga Beton mendatangi Akara.


"Memalukan, kalian bersikap seperti itu di depan anak-anak!? Segera pulanglah, kalian masih harus bekerja bukan!?" teriak mama Dam Beton dengan lantang dan tegas kepada orang-orang di sana.


"Maafkan kami," ujar para warga hampir bersamaan.


"Dasar pria tak tau malu!" Salah satu ibu-ibu langsung menjewer telinga suaminya yang tadi ikut membicarakannya.

__ADS_1


"Bukankah itu keluarga beton?"


"Iya, mereka selalu adil seperti biasanya,"


Sambil berjalan pergi, para warga kini membicarakan kebaikan dari keluarga Beton. Salah satu keluarga utama di kota Biru.


"Hahaha keluarga Beton memang hebat, mereka langsung pergi begitu saja," ujar mama Akara sambil memandangi para warga yang berjalan pergi.


"Ahh bukan apa-apa, kalau begitu kami pergi duluan." Mama Dam Beton langsung bergegas mendekati anak dan suaminya.


"Masuklah Dam, ayo ayah." Ia langsung meraih tangan suaminya dan berjalan pergi sembari melambaikan tangan ke arah anaknya.


Di dalam akademi, para siswa baru berkumpul di sebuah lapangan dengan sebuah altar batu di depan mereka. Dam Beton sudah duduk di bagian depan, dikejutkan oleh benda yang membentur kepalanya dari belakang. Ternyata Akara jatuh tersungkur menabrak beberapa orang yang sedang duduk, kemudian salah satu pedang kayu miliknya terlempar hingga mengenai Dam Beton.


"Akhh!" Dam Beton memegangi kepalanya yang benjol sambil berusaha berdiri, namun sedikit terhuyung.


Akara yang masih tersungkur, langsung panik begitu melihat benjolan di kepala Dam Beton.


"Maaf maaf!" Akara dengan cepat berdiri dan meminta maaf kepada anak-anak yang ia tabrak, lalu berlari menuju ke arah Dam Beton.


"Di mana pedangku!?" Akara ternyata malah melewati Dam Beton begitu saja dan bingung mencari pedang kayu miliknya.


"Bukankah seharusnya kau meminta maaf?" Dam Beton meraih pundak Akara dan menariknya perlahan.


"Karena pedangku?" lanjutnya dengan ragu-ragu.


"Memangnya apa lagi!?" ujar Dam Beton dengan geram.


"Hahaha maaf, maaf." Akara malah tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Dam Beton, lalu ia menyadari bahwa pedangnya di bawah kaki Dam Beton.


"Pedangku!" Akara langsung mengambilnya, sedangkan Dam Beton duduk kembali di kursinya.


"Aku Akara! Siapa namamu?" Akara mengulurkan jabat tangan sambil tersenyum lebar kepada Dam Beton.


"Dam Beton." Dam Beton meraihnya, lalu menepuk kursi di sebelahnya.


"Duduklah, pemadatan aura ranah akan dimulai,"


"Ahh." Akara langsung duduk di sampingnya dan pemadatan aura ranah dimulai.


Seorang pria paruh baya menaiki altar dan memulai acaranya.

__ADS_1


"Selamat datang di akademi. Kalian hanya harus memadatkan tiga bintang untuk bisa diterima di akademi. Nomor urut yang dipanggil, silahkan maju ke depan!"


"Berapa nomormu?" Akara menarik tangan Dam Beton dan melihat kertas di tangannya.


"Berapa?" ujar Akara lagi, padahal ia sudah melihatnya.


"Jelas tertulis 7!" jawab Dam Beton dengan geram.


"Hahaha, aku belum bisa membaca. Kalau punyaku berapa?" Akara kini menunjukkan kertas miliknya.


"Kebetulan sekali, setelah urutanku,"


Pemadatan aura ranah dimulai, siswa nomor urut satu naik ke atas altar. Saat pria penguji mengulurkan tangannya, mulailah menyala ukiran sajak pada altar batu. Para anak-anak sedikit terkejut, namun segera kagum saat melihat cahaya pada altar.


"Lihat di belakang pundaknya, ada sesuatu yang muncul!" seru salah satu anak ketika melihat cahaya keemasan di belakang pundak anak yang diuji. Cahaya yang perlahan membentuk seperti bintang mengambang di belakang pundak.


"Wohh muncul bintang satu!" seru Akara kagum.


"Lihat saja nanti milikku lebih banyak! Aku pasti menjadi master bela diri terkuat seperti Kaisar Amerta!" ujar Dam Beton dengan penuh percaya diri.


"1 bintang gagal! Selanjutnya!"


"Ohh!? Berarti aku akan melebihi Kaisar Amerta!" seru Akara membuat Dam Beton kaget sekaligus kesal.


"Ngomong-ngomong, kamu juga tau Kaisar Amerta?" lanjutnya.


"Tentu saja tau!" Dam Beton kini tambah kesal, namun kemudian menghela nafasnya.


"Siapa yang tidak tau salah satu master terkuat, Kaisar Amerta penguasa benua Amerta. Benua yang kecil, tapi terkuat di dunia ini," lanjutnya.


"Ohh akan aku lampaui!" seru Akara membuat Dam Beton kesal kembali.


"Memangnya semudah itu!?"


"Nomor 7!"


Kekesalan Dam Beton dihentikan oleh panggilan gilirannya, ia perlahan maju dengan tangan yang masih mengepal karena kesal.


"Semangat!" teriak Akara membuat Dam Beton berhenti dan meliriknya sesaat.


Pemadatan aura ranah Dam Beton dimulai, sajak pada altar mulai menyala dan dengan cepat muncul bintang keemasan. Bintang yang ada di belakang pundaknya muncul satu persatu dengan cepat. Semua orang terkejut sekaligus kagum saat melihat bintang ke 5 muncul.

__ADS_1


Setelah 5 bintang, cahaya keemasan melambat membentuk bintang ke 6 dan masih saja menyala hingga akhirnya bintang ke 7.


__ADS_2