Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Ambisi


__ADS_3

Pemadatan aura ranah Dam Beton dimulai, sajak pada altar mulai menyala dan dengan cepat muncul bintang keemasan. Bintang yang ada di belakang punggungnya muncul satu persatu dengan cepat. Semua orang terkejut sekaligus kagum saat melihat bintang ke 5 muncul.


"Bintang 5? Jenius terbaik!"


"Tidak aku sangka, ada jenius sepertinya satu angkatan dengan kita!"


Setelah 5 bintang, cahaya keemasan melambat membentuk bintang ke 6 dan masih saja menyala hingga akhirnya bintang ke 7.


"Berhasil memadatkan 7 bintang pada usia 7 tahun, keluarga Beton selalu saja mengejutkan!" seru pria paruh baya yang melakukan pengujian, hal itu diikuti oleh tepuk tangan dan sorakan anak-anak lainnya.


"Hahaha hebat!" Akara ikut kagum dan berdiri, lalu perlahan maju saat Dam Beton mulai turun.


"Nomerku lebih tinggi darimu, jadi bintangku juga!" lanjutnya dengan penuh percaya diri.


"Mana bisa!" seru Dam Beton dengan geram.


"Tentu bisa! Hahaha." Akara langsung berlari menuju altar dan pemadatan aura ranahnya dimulai. Sajak mulai menyala, namun tidak lama kemudian padam.


"Apa yang terjadi!?"


"Tidak muncul bintang sama sekali? Apa seburuk itu bakatnya?"


"Apa dia memang tidak memiliki bakat sama sekali?"


Anak-anak semuanya bingung sekaligus panik, begitu juga sang penguji. Akan tetapi, Akara malah mengetuk-ngetuk altar menggunakan pedang kayu miliknya.


"Paman, benda ini tidak kuat menampung kekuatanku!" seru Akara kepada pria paruh baya yang melakukan pengujian.


"Ganti benda yang lainnya!" lanjutnya.

__ADS_1


"Altar ini sudah ada dari ratusan tahun yang lalu, tidak mungkin rusak begitu saja," ujar pria penguji sambil mengamayi sajak yang terukir pada altar.


"Karena sudah tua itu jadi rusak." Akara seakan tidak terjadi apa-apa masih saja tenang, ia kini malah duduk bersila di atas altar.


"Bocah, kau turunlah terlebih dahulu!" Pria penguji mengusir Akara untuk turun, dan segera memanggil peserta selanjutnya.


"Nomor urut selanjutnya!"


Akara segera turun bersamaan dengan dibarengi naiknya anak selanjutnya. Dengan santainya Akara duduk di tangga dan membelakangi altar pengujian.


"4 bintang energi! Lulus!" suara pria penguji kembali terdengar dan Akara langsung berdiri lagi dan melompat ke atas altar.


"Aku lagi!" teriaknya kepada pria penguji.


Tanpa menjawab, pria penguji kembali mengulurkan tangannya saat Akara sudah berdiri tepat di tengah altar. Cahaya kembali muncul dari ukiran sajak pada altar, membuat Akara langsung tersenyum lebar. Akan tetapi, takdir berkata lain, cahaya pada altar kembali padam.


"Paman, kenapa seperti ini lagi!?" Akara langsung berteriak kesal, tangannya mengepal erat hingga terlihat gemetaran. Suasana saat itu langsung sunyi, anak-anak lainnya juga merasa bingung dengan apa yang terjadi.


"Bakat apa!?" Akara berteriak sangat keras dan mulai meneteskan air mata.


"Aku akan menjadi master bela diri terkuat! Apa-apaan dengan benda rusak ini!?" lanjutnya.


"Semangatmu memang bagus nak, tapi bakatmu sudah ditentukan oleh takdir. Tidak bisa diubah lagi." Pria penguji perlahan mendekati Akara yang sedang menangis dan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Akara.


Dengan sekuat tenaga, Akara menepis tangan pria paruh baya itu, hal itu membuat semua orang terkejut. Tatapan tajam Akara yang kesal, kini terhentak seakan ada yang menusuk tubuhnya, ia melihat ke arah anak-anak lain yang tengah merasa kasihan kepadanya.


"Persetan dengan bakat, persetan dengan takdir! Gelar master bela diri terkuat akan aku miliki bagaimanapun caranya! Semua itu bukan karena bakat, tapi dengan kerja keras dan kepintaranku!" Akara berteriak dengan lantang, lalu mengangkat pedang di tangan kanannya ke arah anak-anak lainnya. Tangisannya mereda, dan tangan kirinya kini mengusap sisa air matanya yang mengalir di pipinya.


"Kalian yang dianggap jenius berbakat, akan aku buat tidak berkutik melawanku! Akan aku buat takdirku sendiri! Walaupun harus melawan Dewa sekalipun, pasti akan aku lakukan dan akan aku lampaui!" teriaknya, lalu berjalan pergi meninggalkan altar batu. Tatapan mata yang tajam terus melihat ke depan tanpa memperhatikan pandangan anak-anak lainnya.

__ADS_1


Semuanya benar-benar sunyi kala itu, tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali selain langkah kaki Akara. Langkah kaki yang mantap terdengar sangat jelas, namun kemudian terdengar lebih cepat saat Akara berlari meninggalkan akademi.


Masih dengan muka yang kesal, Akara memasuki hutan dan berjalan di pinggir sungai besar dengan arus yang tenang. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan sekitar seolah-olah tanpa tujuan, namun akhirnya ia tersadar saat melihat seseorang berjalan di atas tebing.


Tebing dengan tinggi belasan meter, tepat di sisi sungai. Seorang wanita dengan gaun merah muda, namun mengenakan topeng yang jelek berjalan begitu anggun di atas tebing. Seolah meniti sebuah tali, ia merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan.


"Woi! Bahaya!" Akara sontak panik saat wanita itu terus berjalan walau hampir mencapai ujung tebing, ia langsung berlari mendekatinya. Benar saja, wanita itu terus berjalan hingga terjatuh dari tebing. Posisi jatuhnya tetap berdiri tegap, meluncur menuju sungai di bawahnya.


Akara tambah panik, ia langsung melompat begitu mencapai tempat paling dekat. Setelah Akara menceburkan diri, wanita tadi terjatuh sangat kuat hingga menyebabkan ombak di sungai. Walau arusnya cukup tenang, tapi Akara tetap kesulitan saat tersapu oleh ombak dari jatuhnya wanita tadi.


Karena terus terdorong ombak, Akara menarik nafas panjang, kemudian menyelam ke dalam air. Wanita tadi terlihat tidak bisa berenang dan panik karena tenggelam. Tanpa basa-basi, Akara langsung berenang ke arahnya, lalu mengambil udara lagi sebelum menyelam dan meraih tangannya.


Setelah berhasil meraih tangan wanita itu, Akara langsung berenang ke permukaan. Tubuhnya ditarik di pinggir sungai sebelum Akara tersungkur, lalu membalikkan badannya. Keduanya terengah-engah kehabisan nafas dengan tubuh basah kuyup.


Setelah beberapa detik, Akara berusaha duduk dan menatap wanita itu dengan kesal.


"Apa yang kau lakukan!?" teriaknya tepat di depan muka wanita bertopeng.


"Jatuh," ujar wanita bertopeng dengan masih terengah-engah. Suara seorang gadis yang begitu lembut terdengar sangat indah walau hanya satu patah kata.


"Kalau itu aku juga sudah tau! Kenapa bisa jatuh!"


"Jatuh, karena berjalan di atas tebing," jawabnya seakan-akan tanpa beban.


"Akkhhh!!" Akara berteriak sangat kesal, lalu terhentak kaget saat menyadari pedang kayu miliknya telah hilang.


"Pedangku!?" Akara langsung berdiri dan mengamati ke segala penjuru, namun masih saja tidak menemukan pedangnya.


Setelah itu Akara terdiam, pandangannya tertuju pada sungai di depannya. Tanpa basa-basi, ia langsung melompat kembali ke sungai. Setelah mengambil nafas panjang, ia menyelam lagi ke dalam sungai.

__ADS_1


Wanita bertopeng tadi sekarang duduk, mengamati air bergelombang akibat Akara yang mulai tenang. Tidak lama kemudian Akara muncul ke permukaan, menghirup udara segar sambil berenang ke pinggiran.


__ADS_2