Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Kemarahan Alice


__ADS_3

Pemimpin hyena tersungkur, begitu juga dengan Akara. Melihat para hyena menerjang ke arahnya, Akara langsung membuat penghalang. Ia segera berdiri setelah berhasil menahan serangan para hyena.


"Sialan!" Akara mengayunkan pedangnya memutar, menebas para hyena di sekitarnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja pemimpin hyena menggeram, lalu hentakan ada energi darinya. Muncul sebuah lingkaran seperti cincin di atasnya, lingkaran berwarna biru tua. Setelah itu tubuhnya dipenuhi oleh energi hitam yang cukup pekat.


“Apa yang terjadi!?” Akara kebingungan sekaligus panik, lalu melihat ke arah kawanan hyena lainnya.


“Kawanan hyena juga sama!” teriak Akara begitu melihat ke arah kawanan hyena, mereka juga mengalami gejala yang sama dengan pemimpinnya. Akan tetapi, ada sedikit perbedaan, aura lingkaran di atasnya berwana putih, sedangkan pemimpinnya berwarna biru tua.


Akara kini benar-benar dikelilingi oleh hyena yang sudah sangat marah. Mereka menggeram, memperlihatkan gigi tajamnya yang diselimuti oleh air liur.


Segera Akara membuat penghalang, serta berposisi bertahan dan mewaspadai segala arah.


Tiba-tiba saja salah satu hyena melesat dengan sangat cepat, menyisakan bekas tapak kakinya dan juga debu yang tertiup.


Pyarr!!


Penghalang yang Akara buat langsung hancur, dibarengi padamnya aura ranah, padahal hanya dengan satu serangan. Bukan serangan pemimpin hyena, tapi hanya kawanannya.


"Akh!" Akara kini meringis menahan sakit, membuatnya menjadi hilang fokus dan lengah. Akan tetapi, para hyena jelas tidak akan memberinya kesempatan.


"Akhhh!" Akara terkena cakaran pada lengannya, lalu mengayunkan pedangnya dengan asal ke arah belakang. Pedangnya tidak mengenai satu hyena pun, namun ia malah terkena cakaran hyena lainnya.


Seperti menjadi bulan-bulanan saat bermain lempar tangkap bola, Akara dicakar bergantian dari segala sisi. Anak itu mulai lemas karena kehabisan energi, hingga membuatnya terhuyung setiap kali terkena serangan.


Tiba-tiba Akara merasa kesal, tatapannya tajam dan berdiri tegap. Walau tubuhnya sudah penuh luka cakaran hingga mengeluarkan darah.


"Aku bantai kalian!" Akara tiba-tiba merunduk, mengindari serangan hyena yang menerjangnya. Setelah itu ia melompat seperti pegas, sambil menghunuskan pedangnya ke arah perut hyena.


Kini serangannya benar-benar melukai hyena, bahkan menembus perutnya. Teriakan kesakitan hyena terhenti begitu Akara menarik pedangnya dengan paksa, lalu mengibaskan pedangnya, membuat darah korbannya menyebar dari pedangnya.


"Sini!" Akara kembali mengeluarkan aura ranahnya, lalu membuat penghalang dan berposisi menyerang. Wajah Akara yang serius dengen tatapan tajamnya, sesaat kemudian dihiasi oleh mata ularnya. Mata menyala berwarna merah dengan campuran biru, begitu indah sekaligus menakutkan bagi musuhnya.


Anak itu melesat, menerjang ke arah kawanan hyena. Pergerakannya kini jauh lebih cepat dari sebelumnya, juga meningkatkan kekuatannya. Diincarnya leher hyena, mengayunkan pedangnya dengan begitu luwes, melewati mayat hyena untuk menerjang kawanan yang lain.


Saat ada hyena yang menyerang dari belakang, Akara dapat mengetahuinya dan reflek cepat mengibaskan pedangnya. Kini ia ubah haluan dan mengejar sisa-sisa kawanan hyena yang beruaaha kabur, mengabaikan pemimpinnya.

__ADS_1


Melihat Akara mengejar kawanannya, pemimpin hyena kini mengejarnya, lalu menerjangnya, namun berhasil dihindari. Ia kemudian menggeram kesal, namun anak itu tetap mengabaikannya dan mengejar sisa-sisa kawanan hyena.


Saat sudah berhasil membunuh semua hyena, kini ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah pemimpin hyena. Tubuhnya diselimuti oleh darah para hyena, berdiri tegap seolah-olah menantang pemimpin hyena di depannya.


Pemimpin hyena menggeram, memperlihatkan gigi tajamnya, juga ada darah yang mengalir dari luka di kepalanya. Keduanya berjalan mendekat secara perlahan, lalu tiba-tiba saja berlari.


Tebasan Akara yang memutar, membuat dua kali tebasan dalan satu putaran. Tebasan pertama untung menangkis cakaran hyena, sedangkan yang kedua mengenai di bawah lehernya. Akan tetapi, tidak satu kali putaran saja, Akara terus memutar hingga membuat luka yang lurus dari leher, samping, hingga belakang tubuhnya.


Setelah mendarat, Akara langsung berbalik badan dan melesat lagi, namun Akara tiba-tiba lemas hingga tersungkur. Melihat musuhnya lemah, pemimpin hyena langsung melompat untuk menerjangnya.


Blarrr!!


Guntur berwarna merah muda menyambar tubuh pemimpin hyena, lalu muncul bayangan seorang gadis yang diselimuti oleh listrik merah muda. Tubuh hyena langsung tersungkur, dengan beberapa luka bakar hingga gosong karena guntur.


Akara terbelalak saat melihatnya, ia teringat kembali akan gadis bernama Lisa. Saat kepergiannya juga ada energi listrik berwarna merah muda yang menyelimuti tubuhnya.


"Lisa?" Akara terbayang topeng yang Lisa pakai saat gadis itu mendekatinya dan jongkok di depannya.


"Kak Akara!?"


"Alice?" ujar Akara yang masih tengkurap di tanah.


"Ini kelakuan papa 'kan?" Alice dengan geram bertanya kepada kakaknya, sorot matanya yang tajam membuat buku kuduk Akara merinding.


"Ahaha, siapa lagi?" ujar Akara dengan tawa canggungnya.


"Awas saja nanti!" Alice langsung berdiri kembali, sambil mengepalkan tangannya.


"Emm, adek, bantu kak Akara berdiri," ujar Akara.


"Ahh maaf kak!" Alice langsung panik dan segera membantu kakaknya berdiri. Mereka kemudian berjalan menuju rumah, dengan Akara yang dirangkul oleh adiknya.


Saat di perjalanan, tiba-tiba saja ada seskor serigala yang mencegat mereka. Serigala dengan aura lingkaran putih membuat Akara cukup panik, namun tidak dengan Alice. Suasana hatinya yang tengah buruk membuatnya menjadi emosi seketika. Tanpa basa-basi, ia langsung mengeluarkan aura ranah 1 bola dan 2 bintang energnyai. Tangan kanan memapah kakaknya, sedangkan tangan kiri untuk mengumpulkan energi. Hanya beberapa detik saja energi terkumpul dan ia luncurkan serangan guntur pada serigala yang berusaha menyerang mereka.


Blarrr!!

__ADS_1


Sengatan guntur berwarna merah muda langsung membuat serigala terkapar, juga menghancurkan rumput serta tanah di bawahnya. Akara kembali bergidik merinding melihat adiknya, lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan aura ranah yang belum Alice tutup.


Ternyata keputusan Alice tetap membuka ranahnya memang benar, karena ada yang menghalangi jalannya lagi. Seekor kalajengking besar dengan aura lingkaran yang sama berwarna putih, langsung terkapar kembali setelah menerima guntur cinta Alice.



Alice membawa kakaknya yang tengah terluka menuju kamar.


"Kak, Alice carikan mama Lia dulu ya," ujarnya setelah membaringkan kakaknya di tempat tidur.


"Terima kasih," ujar Akara sambil tersenyum.


Alice lali mengangguk dan berjalan keluar kamar, lalu menutup pintu kamar dengan pelan.


"Papa!" teriak Alice setelah menutup pintu kamar kakaknya.


Dug! Dug! Dug!


Suara langkah kaki Alice begitu jelas terdengar saat meninggalkan kamar kakaknya.


"Dia tadi bilang mencari mama Lia 'kan? Kenapa berteriak papa?" Akara kembali bergidik merinding melihat kelakuan adiknya.


"Papa!" kembali terdengar suara teriakan Alice membuat Akara terkekeh.


"Ada apa Alice?" Mama Lia menengok dari atas tangga, sedangkan Alice masih berada di bawah tangga.


"Papa di mana!?" seru Alice dengan begitu kesal.


"Oh iya, kak Akara sedang terluka." Alice berubah dengan cepat menjadi begitu cemas.


"Di mana?" Mama Lia langsung bergegas turun.


"Di kamarnya." Alice menuntun jalan mama Lia menuju kamar kakaknya, namun segera sadar akan sesuatu dan berhenti, lalu berbalik arah.


"Ada apa cantik?"

__ADS_1


"Papa!" teriaknya lagi membuat mama Lia menepuk jidat.


__ADS_2