Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Pembangkitan Kekuatan


__ADS_3

Keduanya kini saling menyerang walau hanya serangan Akara yang berhasil, namun tetap saja tidak menyebabkan luka. Kelincahan dan kecepatan Akara jauh melebihi Cor Beton, namun tidak memiliki kekuatan sama sekali.


Kebiasaan Akara menunduk saat menyerang disadari oleh Cor Beton, ia lalu melesatkan pukulan ke arah bawah. Akara terkejut dan melompat ke samping, namun Cor Beton langsung melakukan tendangan memutar. Tendangan mengenai perut Akara hingga membuatnya terhempas beberapa meter ke belakang.


"Akhh!" Akara mengerang kesakitan, meringkuk sambil memegangi perutnya.


Melihat lawannya tak berdaya, Cor Beton dengan cepat berlari dan menendangnya dengan sekuat tenaga. Akara kembali terhempas dan tersungkur di tanah, dan saat berhenti langsung memuntahkan darah.


Ada yang merasa iba dengan Akara, namun tidak sedikit juga yang menertawakan Akara. Mereka tidak mampu melakukan apa-apa untuk membantu Akara, hanya bisa memalingkan pandangannya saja.


"Sampah sialan!" Cor Beton mengangkangi dada Akara, lalu melancarkan pukulan bertubi-tubi pada wajahnya.


Akara tidak bisa melakukan apa-apa lagi, tubuhnya sudah sangat lemas menerima semua pukulan. Pada setiap kali pukulan, menyebabkan luka lebam, bahkan luka sobekan pada wajah kecilnya. Saat pandangan Akara mulai gelap, terdengar suara pria samar-samar karena telinganya berdenging.


"Apa yang terjadi!? Kalian, hentikan!"


..


Saat tersadar, Akara sudah berada di sebuah ruangan, dan sedang berbaring dengan muka dibalut perban. Dengan cepat Akara membangunkan tubuhnya dan menarik perban di mukanya. Hanya tersisa bekas luka di wajahnya, dan terlihat ada sisa-sisa ramuan pada perban.


Mendengar robekan perban, seorang perawat perempuan membuka korden dan mendekati Akara. Dikeluarkannya satu butir pil dari cincin penyimpanan dan diberikan kepada Akara.


"Makanlah pil ini agar lukamu benar-benar sembuh sepenuhnya,"


Akara menghiraukannya dan malah turun dari ranjangnya.


"Terima kasih." Akara berhenti sesaat, lalu berjalan lagi meninggalkan ruangan.


"Tunggu dulu!" Sang perawat berusaha menahan Akara, namun gagal karena anak kecil itu langsung berlari.


Baru beberapa meter meninggalkan ruangan, Akara secara kebetulan bertemu dengan Cor Beton. Segera ia memperlambat langkahnya, namun pandangannya tetap fokus ke depan.


Cor Beton menyeringai, lalu berhenti. "Buru-buru mau ke mana 'Calon master bela diri terkuat' !?"


Akara hanya bisa terus berjalan, mengepalkan tangannya dengan raut muka geram. Dia menyadari ketidakmampuannya dan terus melangkah maju meninggalkan Cor Beton.

__ADS_1


"Jangan sampai jatuh ya, sampah sepertimu tidak mungkin dibandingkan dengan tuan muda ini!" teriak Cor Beton saat Akara mulai menjauh darinya, setelah itu ia tertawa dengan puasnya.


..


Akara ternyata tidak langsung pulang ke rumahnya, ia berjalan menuju hutan yang sebelumnya ia lalui. Sungai besar yang ada di dalam hutan dengan nuansa tenang dan nyaman.


Gadis bertopeng ternyata masih di sana, ia mengamati Akara dari atas dahan pohon. Ia ingin mendekati Akara saat melihat bekas luka di mukanya, namun segera ia urungkan niatnya. Tangannya yang tengah menjulur ke arah Akara, kini mengepal dengan erat. Kuku di jarinya yang lentik, bahkan melukai telapak tangannya yang ramping.


Saat Akara duduk di tepian sungai, gadis bertopeng itu barulah mendekatinya. Cara turunnya seakan terbang dengan begitu anggun, melebarkan gaun merah mudanya dan memperlihatkan kulit putih mulusnya.


"Ada apa dengan wajahmu?" sapa sang gadis sambil duduk di samping Akara.


"Bukan urusanmu," jawab Akara cuek, tanpa menoleh.


"Kenapa masih di sini?" lanjutnya sambil menoleh sekilas.


Gadis bertopeng tidak menjawabnya, namun malah mengeluarkan sebutir pil dari cincin penyimpanannya.


"Nih!" Ia raih tangan Akara dan ditaruhnya di telapak tangannya.


"Pil penyembuhan, makanlah dan bekas luka itu akan langsung menghilang,"


"Aku kembalikan," tolak Akara sambil mengulurkan kembali pil di telapak tangannya.


"Dengarkan ya!" Gadis bertopeng kini berbicara dengan geram.


"Wajah itu aset yang berharga, juga bukan milikmu sendiri. Itu akan menjadi milik para gadis yang menjadi pasanganmu. Jangan sampai ada bekas luka, paham!?"


Tanpa menjawabnya, Akara langsung memakan pil penyembuhan itu. Bekas luka di wajahnya langsung sembuh dengan cepat.


"Tadi kalah apa menang?" ujar gadis bertopeng sambil mengayunkan kakinya di permukaan air sungai. Lagi-lagi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Akara.


"Ahh membosankan, nanti mana ada gadis lain yang suka denganmu selain aku," ujar gadis bertopeng sambil menundukkan kepalanya dan menengok ke arah Akara.


"Ajari aku teknik bela diri." Akara menoleh, lalu memandanginya dengan serius.

__ADS_1


"Tolong?" ujar gadis bertopeng dengan riang.


"To, long." Akara terbata karena terpaksa.


"Hehe." Gadis bertopeng akhirnya mengangkat kepalanya kembali, lalu melebarkan kedua telapak tangannya. Muncul dua buah gulungan kertas dari dalam cincin penyimpanannya.


"Ini mudah," ujar gadis bertopeng sambil memajukan gulungan kertas di kiri lalu kanan. "Ini sulit,"


Akara langsung meraih gulungan di tangan kanannya, gulungan yang sulit, namun gadis bertopeng tidak melepaskannya begitu saja.


"Tidak hanya sulit, tapi sangat menyakitkan. Bisa berkembang dengan pesat, namun juga bisa membuat kemacetan ranah, bahkan kematian. Masih yakin?"


"Tidak perlu ditanyakan lagi!" seru Akara, lalu sang gadis bertopeng menjentikkan jarinya.


Muncul pelindung energi berbentuk kubah yang amat besar mengelilingi mereka. Ukurannya yang amat besar dapat dilihat dari rumah Akara dan mamanya hanya tersenyum melihatnya.


"Apa itu!?" Akara cukup terkejut, namun juga kagum memandangi kubah pelindung yang menyelimuti mereka.


"Hanya pelindung, agar tidak ada yang mengganggu, bahkan monster sekuat apapun tidak bisa menembusnya," ujar Gadis bertopeng sambil membuka gulungan.


Ia menjentikkan jarinya lagi dan listrik merah muda menyambar tanah di sekitar mereka. Sambaran listrik membentuk sajak seperti pada altar, namun jauh lebih besar dan lebih rumit. Akara hanya bisa kagum melihat semua itu tanpa berkata sepatah katapun.


"Berdirilah tenang di atasnya, persiapkan dirimu dengan rasa sakit yang sangat luar biasa," ujar sang gadis bertopeng sambil melemparkan gulungan kertas ke udara hingga membuatnya melayang.


"Em!" Akara hanya mengangguk dengan yakin, menunggu sang gadis bertopeng memulai ritualnya.


Diangkatnya kanan kanannya, lalu muncul lingkaran sihir dengan sajak rumit di udara. Lingkaran sihir berwarna merah muda dengan petir yang menyambar-nyambar.


"Aku mulai!" seru gadis bertopeng, lalu diayunkannya tangan kanan tadi mengarah kepada Akara. Hal itu dibarengi oleh sambaran petir dari segala sudut lingkaran sihir, semuanya berpusat pada tubuh Akara.


"Akhhh!" Akara sontak berteriak kesakitan begitu petir mengenai tubuhnya.


Melihat Akara kesakitan, gadis bertopeng nampak ragu melanjutkannya. Tangan kirinya menggenggam erat, seperti merasakan sakit yang sama dengan Akara.


"Lanjutkan saja!" seru Akara setelah melihat keraguan pada gadis bertopeng.

__ADS_1


Perlahan sang gadis melemaskan genggamannya dan mulai melanjutkan ritual. Akara kini tidak sadarkan diri, lalu sesuatu muncul dari tubuh Akara, 2 buah energi berbentuk infinite berwarna merah dan biru terang. Energi yang membawa hawa sangat dingin berwarna biru, lalu hawa sangat panas berwarna merah.


__ADS_2