Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Ranah Merosot


__ADS_3

“Hah!?” Akara melihat ke segala sisi dan tidak menemukan adiknya, melainkan ada seekor ular phiton raksasa yang sedang mendongakkan kepalanya. Phiton itu sedang berusaha menelan sesuatu, masih terlihat sepasang kakinya saja di mulut sang ular.


“Akg!" Akara terbelalak mematung, melihat adiknya yang tengah ditelan oleh phiton raksasa.


"Woi ular! Telan aku juga!” Akara berlari ke arah ular dan saat sang ular membuka mulut menerjang ke arahnya, Akara melompat masuk ke dalam mulutnya. Walau ularnya sangat besar, tapi di dalamnya sangat sempit. Lubang yang berlendir dan terus bergerak seolah-olah mencengkeramnya.


Akara tidak dapat membuka mata maupun bernafas, ia hanya merangkak untuk mencari keberadaan tubuh adik nya. Setelah menemukan, Akara segera memeluk adiknya, lalu mengeluarkan aura ranahnya dan membuat penghalang. Secara paksa, penghalang itu melebarkan perut phiton raksasa, lalu Akara menggunakan energi dinginnya.


"Akhhh!!" teriak Akara karena frustasi sekaligus emosi hingga membuat dirinya diselimuti energi dingin. Aura ranah satu bola energi berputar dengan cepat dan bertambah cepat.


Perut ular yang menggembung karena adanya penghalang di dalamnya, mulai membeku di bagian itu saja. Beberapa saat kemudian, ada pedang kayu yang menusuk perut ular dari dalam. Karena membeku dengan sempurna, perut ular berlubang seperti bongkahan.


"Akhhh!" dengan frustasi Akara menebas perut ular hingga terbelah, lalu dirinya keluar. Sebelum aura ranahnya padam, bola energi tadi pecah dan berubah menjadi 9 bintang energi.


Ternyata tubuh Alice sudah diselimuti penghalang lain, membuat dirinya terhindar dari energi dingin milik kakaknya.


"Alice!" Akara walau sudah kehabisan energi hingga kesulitan bernafas, ia tetap menghawatirkan adiknya. Segera ia periksa detak jantung adiknya, lalu menjatuhkan dirinya di samping Alice begitu mengetahui adiknya baik-baik saja.


Hanya beberapa saat setelah berbaring, Akara menejamkan matanya perlahan, ia mulai kehilangan kesadarannya.



"Kak! Kak Akara!" terdengar suara teriakan seorang gadis yang memanggil namanya.


Ngiiiiiing!!

__ADS_1


Telinga Akara berdenging, membuat suara tadi tidak terdengar lagi. Semuanya terlihat gelap, namun beberapa saat kemudian ia mampu membuka matanya.


Matahari telah tenggelam di ujung cakrawala, menyisakan cahaya senja yang hanya menyinari langit. Alice kini tengah berdiri, memegang kedua pedang kayunya dan berkuda-kuda bertahan. Di belakangnya ada kakaknya yang baru saja membuka matanya, namun langsung terkejut dengan apa yang ia lihat.


Alice tengah bertarung, melawan kawanan kelelawar yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Saking banyaknya kawanan kelelawar, membuat langit yang petang bertambah menjadi gelap. Walau sudah ada puluhan kelelawar yang jatuh tersetrum, namun tidak terasa berkurang sama sekali.


"Alice!?" Akara tercengang, sekaligus khawatir dengan adiknya yang sudah dipenuhi luka. Luka akibat gigitan dan cakaran kelelawar, membuat sedikit darah keluar pada setiap lukanya.


"Kak Akara, syukurlah, sudah bangun." Alice terbata-bata karena terlalu lemas dan sesekali diserang oleh kelelawar.


Akara sontak berdiri, lalu merebut kedua pedang adiknya dan melakukan tebasan memutar. Belasan kelelawar langsung terjatuh akibat tebasan Akara, namun adiknya ternyata terhuyung. Segera Akara tangkap tubuhnya menuju pelukannya dan membuat penghalang. Para kawanan kelelawar menabrak penghalang dan tidak bisa menembusnya.


"Alice, masih sadar?"


"Ayo lari!" Akara berlutut membelakangi adiknya, lalu meraih tangan Alice agar ia jatuh di punggungnya.


"Pegangan yang erat!" seru Akara begitu Alice sudah digendongnya, lalu berlari sekuat tenaga. Penghalangnya ia lepas, lalu mengaktifkan mata ularnya, agar dapat memandu jalan di kegelapan.


Di atas sebuah pohon yang tinggi, tidak jauh dari Akara dan adiknya, ada seseorang yang memakai topeng serigala. Di bawahnya, tepatnya di sekitar kakak-beradik tadi pingsan, ada belasan binatang sihir yang telah mati.


Akara terus berlari, dengan sesekali ada kelelawar yang berhasil melukainya. Luka di lengan hingga membuat bajunya sobek, lalu Akara menyadari adiknya dan membuat penghalang di belakang adiknya. Penghalang yang hanya satu sisi saja, menempel di punggung Alice, namun beberapa saat kemudian, mereka terjatuh. Ia tersungkur, begitu juga adiknya yang terlempar satu meter di depannya.


"Minggir!" Akara langsung berbalik badan, menenteng kedua pedang kayu dan mengayunkannya. Mukanya begitu kesal dan frustasi, dengan sorot kata yang tajam. Ia tebas kawanan kelelawar yang mengejarnya, namun langsung terhenti ketika mendengar suara kawanan yang lebih besar di belakangnya.


Segera Akara memasukkan pedangnya dan menggendong kembali tubuh adiknya, lalu berlari lagi sebelum kawanan itu berhasil mencapainya.

__ADS_1


Akhirnya Akara melihat sorot lampu di kejauhan. Walau hanya sebuah sorot lampu, hal itu bagaikan sebuah harapan yang besar bagi Akara. Melihat kesempatan untuk lepas dari kekacauan yang bagaikan neraka baginya.


Akara keluarkan aura ranahnya, aura ranah yang telah merosot dari 1 bola energi menjadi 9 bintang energi. Ia gunakan sisa-sisa energinya untuk menguatkan kakinya. Kecepatan berlari Akara meningkatkan, namun kawanan besar kelelawar tidak kunjung menjauh.


"Akhh!" Akara berteriak frustasi, menonaktifkan mata ularnya dan fokus berlari. Kini apa yang di depannya tidak dapat ia lihat, hanya batang pohon saja yang masih ia sadari.


Mendengar teriakan kakaknya, Alice hanya bisa menangis karena sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Di belakang punggung kakaknya, mempererat pelukan pada tubuhnya.


Kini daratan yang ditempuh mulai menanjak, karena lokasi desa tempat Akara tinggal berada di atas pegunungan. Akan tetapi, kecepatan Akara berlari tidak menjadi pelan, ia tetap pada kecepatan yang sama. Walau beberapa kali ujung ranting pohon mengenai wajah dan tubuhnya, namun tidak ia rasakan lagi.


Akhirnya mereka sampai di ujung desa, sudah terlihat sebuah bangunan di lereng pegunungan. Bangunan yang cukup besar, seperti berada di dalam perut gunung. Di situlah Akara sudah tidak kuat lagi, ia langsung terjatuh dan tersungkur.


"Kak." Alice segera berusaha berdiri, walau terlihat kesulitan hingga lututnya gemetaran. Berjalan beberapa langkah mendekati kakaknya, lalu membalikkan badan kakaknya yang tersungkur.


"Sampai desa?" ujar Akara sambil tersenyum lebar, padahal muka dan tubuhnya sudah penuh luka.


"Iya," jawab Alice juga dengan tersenyum, namun masih mengalir air mata di pipinya, menahan tangis.


"Itu?" Akara sontak kaget, melihat kawanan kelelawar yang masih mengejarnya. Akan tetapi, kawanan itu tiba-tiba saja menyebar, tepat beberapa langkah dari keduanya. Tidak seperti menabrak penghalang, namun malah kabur menyebar seperti ada yang mereka takutkan.


Mereka hanya bisa mematung terdiam, mengamati keajaiban hingga para kelelawar benar-benar pergi. Setelah itu mereka perlahan-lahan saling menatap, lalu Akara tersenyum, diikuti oleh adiknya.


"Ayo pulang kak." Alice berdiri, mengeluarkan aura ranah Maskumambang 1 bola 2 bintang energi, lalu menarik tangan kakaknya untuk dibantunya berdiri. Ia rangkulkan tangan kakaknya dan memapahnya perlahan-lahan menuju rumah.


"Terima kasih," ujar Akara sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2