
Di ruang keluarga lantai 2, keluarga Akara berkumpul, kecuali kepala keluarga mereka.
"Benar mama, Alice sendiri yang mengambilnya kok!" seru Alice yang berada di samping kakaknya, sedang berdebat dengan mama Lia yang ada di depannya.
"Kalau beneran ada, pasti sudah mama Lia ambil dari dulu,"
"Mama Lia tidak percaya? Kak, keluarkan kak!" Alice begitu ngotot.
"Memang benar itu kantong semar merah, tapi tidak ada fluktuasi energi sama sekali." Akara menjelaskannya, lalu mengeluarkan tanaman yang ia maksud.
"Tidak mungkin!" Mama Lia cukup terkejut dan langsung mengambil tanaman dari tangan Akara. Setelah mengamatinya, ia langsung melihat ke arah Alice dengan tatapan tajam, lalu bertanya dengan pelan, namun menakutkan.
"Kenapa dicabut!?"
Merasa bersalah, Alice langsung memalingkan wajahnya dan pura-pura tidak tau.
"Ituu, tidak sengaja kepleset masuk ke dalam rawa saat mau mengambilnya,"
"Hahaha, si cantik kenapa ceroboh sekali?" sahut mama Rani yang duduk di samping mama Lia, dan ikut mengamati tanaman kantong semar merah.
"Pintar sekali mencari alasan ya," ujar mama Lia sambil tersenyum, lalu meletakkan kantong semar di atas meja yang ada di depan mereka.
"Memang benar ini kantong semar merah, tapi masih terlalu muda dan belum menyerap energi sama sekali." Mama Lia menjelaskannya dengan tenang, namun membuat Alice menunduk karena kecewa.
"Setelah semua yang kami lalui, ternyata sia-sia," ujarnya dengan begitu murung.
"Kata siapa sia-sia?" ujar mama Lia sambil tersenyum lebar, membuat Alice mengangkat wajahnya kembali.
"Kalian bisa bertarung bersama dan bertambah kuat 'kan?" lanjut mama Lia menghancurkan ekspektasi Alice, hingga membuatnya tambah murung, bahkan membungkuk dan meletakkan wajahnya di atas meja.
"Hahahaha." Mama Lia dan mama Rani tertawa puas, begitu juga dengan mama Violet yang tidak bisa menahan tawanya.
"Soal itu mama." Akara membuat mereka memperhatikan, bahkan Alice mengangkat badannya kembali.
"Ranah Akara telah merosot." Akara mengeluarkan aura ranahnya yang telah turun menjadi 9 bintang energi.
__ADS_1
"Ehh, bagaimana bisa!?" Semuanya terkejut, kecuali Alice yang masih murung.
"Alice dimakan ular," jawab Akara singkat membuat mamanya kebingungan.
"Dimakan?"
"Iya, Alice dimakan ular, jadi aku ikut masuk ke dalam perut ular untuk menyelamatkannya," ujar Akara sambil tersenyum lebar.
"Hahaha, pantas saja kalian bau busuk sekali kemarin." Mama Rani malah tertawa puas, sedangkan Alice malah menunduk malu.
"Tapi memang benar tidak sia-sia kok," ujar mama Serin, membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
"Lia, jelaskan yang benar," lanjutnya dengan begitu santai.
"Baiklah… Seperti yang mama bilang tadi, ini benar-benar kantong semar merah. Tapi…" Mama Lia menjelaskannya sambil memetik kantong semar merah pada setiap tangkainya.
"Memiliki efek yang berbeda karena belum menyerap energi alam. Kantong semar merah pada umumnya mengembalikan energi sepenuhnya, kalau ini meregenerasi ulang sel. Juga menjadi salah satu bahan pil awet muda." Mama Lia sudah memisahkan kantong yang masih tertutup dan yang sudah terbuka.
"Ini kalian bawa, suatu saat pasti berguna." Mama Lia memberikan kantong semar merah yang masih tertutup pada Akara dan Alice, masing-masing berjumlah 3.
"Tidak perlu, memangnya mama Lia siapa?" Mama Lia langsung menolaknya, lalu Akara melihat ke arah mama Rani.
"Tidak tidak!" tolak mama Rani, lalu ke arah mama Serin.
"Tidak perlu," tolak mama Serin, lalu ke arah mama Violet dan dijawab dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Baiklah kalau begitu." Akara memasukkan ketiga kantong semar merah ke dalam penyimpanan dimensinya, lalu berdiri.
"Boleh Akara jalan-jalan?"
"Hati-hati," ujar keempat mamanya hampir bersamaan.
"Kak ikut!" Alice langsung berdiri dan berlari mengejar kakaknya.
Di luar rumah, Akara berjalan ditemani oleh Alice yang memeluk lengannya.
__ADS_1
"Mau ke mana kak?"
"Itu kemarin ada rumah besar di bawah sana, tapi rumah itu seperti berada di dalam pegunungan ini," ujar Akara membuat Alice bersemangat dan penasaran.
"Benarkah!? Ayo periksa!"
Setelah sampai di depan rumah yang dituju, mereka berhenti sebentar dan cukup tercengang. Sebuah rumah yang diukir di tebing pegunungan, dengan satu pintu besar dan jendela palsu, ada juga beberapa pilar besar nan tinggi. Semuanya terbuat dari batu marmer yang diukir dan dipoles dengan begitu indah.
"Ayo kak segera masuk!" Alice kini menarik lengan kakaknya untuk segera memasuki bangunan besar itu.
Dengan satu sentuhan saja, pintu besar yang terbuat dari marmer membuka sendiri.
Ngeeeekkk!! Glengg!
Pintu masuk terbuka sepenuhnya, lalu terlihat sebuah aula ruangan yang besar, dengan luas dan tinggi yang mencapai belasan meter. Suasana yang dingin dirasakan keduanya begitu melangkahkan kakinya ke dalam, namun langsung tercengang saat melihat ke sekeliling.
Di ruangan itu ada sebuah jalan lurus menuju sebuah lorong di sisi lain, dengan sisi kanan dan kiri dipenuhi oleh bebatuan dan logam yang berserakan. Bebatuan dengan warna, ukuran dan bentuk yang berbagai jenis. Pada dindingnya, ada banyak senjata yang tertata rapi mengitari segala sisi. Senjata berbagai bentuk, warna dan juga berbagai jenis ada di sana.
“Keren!” Akara melompat ke atas bebatuan dan mendekati senjata yang ada di dinding. Ia mengangkat tangannya seakan mengusap senjata dan berjalan menyusuri dinding.
“Ini di dalam pegunungan?” Alice berjalan perlahan hingga berada di tengah-tengah ruangan, lalu mengamati ke segala sisi.
“Masih ada ruangan lagi kak!” seru Alice kepada kakaknya yang sedang mengamati senjata di dinding.
Akara kemudian mendekati adiknya, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju lorong. Lorong dengan ukiran batik yang indah, memenuhi dinding samping dan atasnya.
"Indah sekali kak," ujar Alice sambil melihat ukiran di dinding lorong.
Beberapa meter saja berjalan, mereka menemukan ruangan yang lebih besar lagi. Saat melangkah ke dalam ruangan yang berada di dalam perut pegunungan, mereka seakan melangkah ke dimensi yang berbeda. Keduanya tersentak oleh energi yang ada di dalam ruangan itu.
“Apa ini?” Akara mengamati energi yang mengisi ruangan dan menyelimuti tubuhnya, kemudian melihat ke sekitar yang hampir sama dengan ruangan sebelumnya. Ruangan penuh dengan batu-batuan dan senjata di sisi tembok, yang membedakan adalah jumlah energi yang dipancarkan lebih banyak, serta ada artifak berbagai jenis.
"Kemungkinan besar energi dari senjata dan bebatuan di sini kak." Alice mendekati bebatuan yang ada di sisi jalan, lalu mengambil salah satunya.
"Energi yang begitu murni." Akara terus mengamati ke sekelilingnya, kekagumannya akan ruangan itu tidak kunjung mereda, bahkan semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan perlahan sambil mengamati benda-benda di sekitarnya, hingga akhirnya terlihat seseorang di tengah ruangan. Seorang laki-laki berbadan besar, memiliki kumis dan janggut yang panjang. Ia berdiri di sebuah altar memegang sebuah pedang dan juga palu besar. Altar batu besar yang mirip altar pemurnian, dipenuhi peralatan penempaan dan juga tungku pembakaran. Api besar yang berkobar di belakangnya juga membuat keduanya merasa panas, walau dengan jarak cukup jauh.