Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Bertahan Hidup


__ADS_3

Alice sontak penasaran dan mematahkan tutup kantong semar yang sudah terbuka, lalu melihat ke dalamnya.


"Ahh!?" Alice langsung terperanjat begitu melihat apa yang ada di dalam kantong, banyak sekali serangga yang telah terperangkap di dalamnya. Gadis itu terperanjat, melompat ke arah kakaknya.


"Benar kak, lihat!" Alice bukannya takut, ia malah memperlihatkan isi kantong semar kepada kakaknya.


Saat melihat isi di dalam kantong semar, Akara tiba-tiba menggendong Alice dan melompat cukup jauh.


Byarr!!


Ada sesuatu yang mengenai air rawa hingga membuat air menyiprat, namun setelah itu tidak ada apa-apa lagi, baik di darat maupun di dalam air.


"Ada apa kak?" Alice masih di gendongan kakaknya dan membawa kantong semar di tangannya.


"Tidak tau, ada yang menyerang tiba-tiba," ujar Akara dengan begitu serius mengamati ke sekitarnya.


"Ada yang datang lagi." Akara kembali melompat, bertepatan dengan hancurnya tanah di bawahnya.


"Keluar kalau berani!" Alice kesal, lalu mengeluarkan aura ranah Maskumambang 1 bola dan 2 bintang energi. Dibuatnya penghalang untuk menyelimuti tubuh mereka, lalu mengumpulkan energi petir di tangannya.


Begitu mendarat, Akara melompat lagi, diikuti oleh hancurnya dahan pohon di belakangnya.


Tanpa berfikir lagi, Alice meluncurkan serangan petir ke arah tempatnya sebelumnya.


Blarrr!!


Petir merah muda menyambar tanah, lalu menyebar ke segala sisi dengan jangkauan lebih dari 3 meter. Sekarang terlihat sesuatu dari dahan pohon yang hancur, sesuatu yang panjang menjulur beberapa meter dari atas pohon lain. Sesuatu daging berwarna putih dengan sedikit merah muda, terlihat lembut dan basah diselimuti cairan kental.


"Bunglon!?" teriak Akara begitu melihat ke ujung benda itu yang ternyata lidah bunglon. Binatang sihir dengan panjang tubuh lebih dari 3 meter, menempel di batang pohon. Kepalanya mengarah ke bawah, membuatnya mudah mengawasi dan menyerang mangsanya.


"Bunglon cahaya kak!" imbuh Alice. "Dia berkamuflase dengan kulitnya, juga memanipulasi cahaya di sekitar tubuhnya agar menjadi transparan." Alice memasukkan kantong semar dan mengeluarkan kedua pedang kayu dari cincin penyimpanan. Gadis kecil ini melompat dari gendongan kakaknya, untuk mendekati lidah bunglon yang masih terjebak dahan pohon.


"Alice! Jangan sembrono!" Akara langsung panik, namun dihentikan oleh adiknya.

__ADS_1


"Jangan mendekat kak, nanti terkena sengatan petirku." Alice yang masih diselimuti oleh energi penghalang, membuat Akara percaya pada adiknya dan mengurungkan niatnya.


Beberapa saat kemudian, Alice mengangkat kedua pedangnya, dibarengi oleh aliran listrik yang menyambar dari pedang ke segala arah. Diayunkannya dengan kuat ke arah lidah bunglon.


Slashh!! Blrrtt!


Lidah bunglon terpotong, namun malah membuat bunglon marah. Muncul aura lingkaran 2 pola berwarna biru tua dia atas bunglon cahaya, lalu tubuhnya menghilang.


"Adek awas!"


Menyadari sesuatu yang bahaya, Akara langsung melompat ke arah adiknya. Akan tetapi, semua itu terlambat.


Pyarr!!


Energi penghalang yang menyelimuti Alice telah hancur, untungnya Akara segera membuat penghalang lagi untuk adiknya.


Brakk!! Pyarr!


Akara ambil kedua pedang kayu tadi, lalu gendong adiknya kembali, setelah itu berlari sekencang mungkin untuk kabur darinya. Akara berlari sambil menyalakan mata ularnya, ia kini melihat hawa panas setiap binatang di hutan. Akan tetapi, ia tidak bisa melihat hawa panas milik bunglon yang merupakan reptil berdarah dingin.


Ia tidak bisa melihatnya, namun instingnya cukup kuat untuknya menghindar. Beberapa kali serangan lidah bunglon berhasil dihindari Akara. Anak itu terus berlari sambil menghindari tempat yang ada binatang sihirnya.


Saat melihat sekilas ke belakang, Akara dikejutkan oleh sesuatu ketika kembali melihat depan. Seekor kalajengking, dengan ukuran lebih besar dari bunglon sedang berdiri di depannya. Tubuhnya tidak memiliki hawa panas, jadi Akara tidak bisa mendeteksinya.


Segera Akara melompatinya, namun ternyata ekor kalajengking itu sudah mengarah kepadanya. Ia segera membuat penghalang lagi, sambil memiringkan badannya untuk menghindar.


Pyarr!!


"Akhhh!"


Penghalangnya hancur, membuat Akara kesakitan dan terlempar hingga menabrak dahan pohon.


Brakk!!

__ADS_1


Bunglon cahaya ternyata menabrak kalajengking sesaat setelah Akara terjatuh. Saat Akara ingin berdiri kembali, tiba-tiba ia seperti ditekan oleh gravitasi yang sangat kuat. Akara kiri seperti merangkak, bertumpu menggunakan kedua kaki dan tangannya, lalu melihat ke arah kedua binatang sihir. Kalajengking ternyata mengeluarkan auranya, aura berwarna merah satu pola.


"Tingkat legendaris!?" Akara sangat tercengang sekaligus panik, lalu.


Bless!!


Ia kini terbelalak ketika melihat ekor kalajengking menembus tubuh bunglon cahaya. Tubuh yang seharusnya sangatlah keras, bahkan lidahnya saja bisa menghancurkan batang pohon dan tanah yang diserangnya.


Seperti melihat terror yang amat menyeramkan, Akara berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, namun tetap saja kesusahan.


Slebb!! Kreekk!!


Kalajengking menarik ekornya hingga terlepas dari tubuh bunglon cahaya. Bukannya memakan mangsanya, ia malah menengok ke arah Akara.


"Akkhhhh! Maaf Alice." Akara berdiri sekuat tenaga, lalu berlari meninggalkan adiknya.


Akara kemudian mengeluarkan kantong semar merah, dan memetik satu kantong yang telah terbuka.


“Sini incar aku!” Akara berhenti dan berbalik, lalu menggoyang-goyangkan kantong semar merah di tangannya. Aroma kantong semar membuat kalajengking tertarik kepadanya dan mengejar Akara.


Kalajengking mengejarnya dengan cepat, namun Akara sangat lihai melewati lebatnya hutan. Anak itu juga mengaktifkan kembali mata ularnya, untuk melihat ke segala sisi, termasuk adiknya yang ditinggalkan cukup jauh.


Akara melompat ke atas dahan pohon, dan melihat beberapa titik panas yang berkumpul. Segera ia melompat turun dan memancing kalajengking ke arah titik panas itu. Tidak lama Akara berlari, ia menemukan kawanan singa betina yang sedang berburu.


“Woii! Ada makanan buat kalian!” teriak Akara sambil melemparkan kantong semar merah yang sudah terbuka ke arah kawanan singa betina, lalu berlari kembali ke arah kalajengking . Kawanan singa betina mengejarnya karena kesal sekaligus untuk buruannya.


“Aku siapkan hadiah buatmu!” ujar Akara saat mendekati kalajengking , ia kemudian mengecohnya untuk kabur darinya. Saat kalajengking terkecoh dan berbalik badan ingin mengejar Akara, dari belakangnya ada kawanan singa betina yang malah menyerangnya. Pertempuran terjadi pada kalajengking dengan kawanan singa betina, mereka melupakan Akara yang telah pergi jauh.


“Ahahaha aku kembali, aku kembali!” ujar Akara sambil kesuasahan bernafas saat sudah sampai di tempat adiknya ditinggalkan.


“Hah!?” Akara melihat ke segala sisi dan tidak menemukan adiknya, melainkan ada seekor ular phiton raksasa yang sedang mendongakkan kepalanya. Phiton itu sedang berusaha menelan sesuatu, masih terlihat sepasang kakinya saja di mulut sang ular.


“Akg!" Akara terbelalak mematung, melihat adiknya yang tengah ditelan oleh phiton raksasa.

__ADS_1


__ADS_2