
Hari selanjutnya, Akara dan Alice masih dilatih oleh ayah mereka. Karena masih kesal dengan perlakuan ayahnya sebelumnya, Akara terus memalingkan wajahnya.
"Kenapa Akara? Kamu pasti tidak melanjutkan latihan kemarin 'kan?" ujar ayah Al yang tengah berdiri di depan mereka.
"Ngapain juga latihan seperti itu? Tidak berguna!" Akara kini menengok ke arah ayahnya dan menatapnya dengan tatapan kesal. Walaupun dia bilang begitu, tapi kenyataannya tidak seperti itu.
…
Setelah ayah Al meninggalkan ruang latihan kemarin.
"Kak." Alice begitu bingung dan khawatir, ia hanya bisa berusaha menenangkan kakaknya.
"Tidak apa-apa, ayo lanjut latihan." Akara mengusap kepala adiknya yang sedang mengkhawatirkannya, lalu duduk kembali untuk melanjutkan berlatih.
Akara terus berlatih dengan cara mengeluar masukkan pedangnya ke dalam penyimpanan dimensinya. Ia terus latihan, bahkan sampai matahari hanya menyisakan cahaya kemerahan di langit.
Alice yang sudah kelelahan, hanya duduk menonton kakaknya. Begitu melihat langit kemerahan yang nampak dari jendela, Alice segera berdiri dan mendekati kakaknya.
"Kak, sudah sore,"
"Ah?" Akara menghentikan latihannya dan melihat arah adiknya, lalu melihat ke arah jendela.
"Ohh, ayo!" Ia berdiri dengan perlahan, namun langsung terhuyung, untung saja Alice sigap untuk menangkap kakaknya.
"Kakak terlalu banyak menggunakan energi, istirahat sebentar saja dulu." Alice membantu kakaknya untuk duduk kembali secara perlahan, lalu ikut duduk di sampingnya.
"Hehehe, terima kasih Alice!"
…
"Kenapa ayah lagi? Pasti hanya latihan seperti kemarin!"
"Memang masih menggunakan energi yang sama, tapi.."
"Kan!" seru Akara memotong penjelasan ayahnya.
Ayah Al langsung diam, sambil menatapnya dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Kejadiannya berlangsung cukup lama, bahkan Akara ikut menatapnya dengan kesal. Karena ayah Al tidak bergeming, Akara menghela nafasnya.
__ADS_1
"Huhh baiklah. Maaf ayah, Akara pasti akan berlatih dengan baik, jadi tolong ajari Akara." Anak itu membuang egonya dan berusaha lebih tenang. Alice langsung tersenyum bahagia, melihat kakaknya berbicara seperti itu.
"Ohh Akara, kenapa tiba-tiba berubah?" ujar ayah Al sambil tersenyum menggodanya.
"Ayah jauh lebih kuat dari Akara, tentu saja dengan ilmu dan juga pengalamannya. Akan Akara lakukan apa saja agar bisa, ahh. Akara pasti akan menjadi master bela diri terkuat!" seru Akara dengan penuh semangat dan percaya diri.
"Tentu saja, yang kamu katakan tentang ayah itu benar, makanya tidak akan semudah itu kalau ada anak nakal yang ingin melampaui ayah." Ayah Al kini mengeluarkan dua buah cincin penyimpanan, lalu diberikan kepada anaknya.
Kini Akara dan Alice langsung meraihnya tanpa ragu-ragu.
"Kemarin kalian sudah latihan penyimpanan dimensi, kalian juga sudah mulai terbiasa. Latihan kali ini masih menggunakan energi yang sama, namun berbeda penggunaannya." Ayah Al kemudian duduk, untuk menjelaskan lagi.
"Energi yang digunakan untuk memanipulasi ruang, menjadi bentuk penghalang dan juga pelindung. Penghalang merupakan energi yang menyelimuti suatu area." Ayah Al menjelaskan sambil membuat energi penghalang seperti kubah untuk menyelimuti dirinya. Kubah penghalang yang sedikit transparan, membesar menyelimuti mereka bertiga dan teru melebarkan radiusnya hingga memenuhi ruang latihan.
"Wahh keren!" seru Akara mengagumi penghalang yang ayahnya buat, dan terus melihat ke segala arah.
"Bukankah bisa menggunakan energi biasa ayah?" Alice mengajukan pertanyaan dengan muka yang nampak bingung, lalu mengeluarkan aura ranahnya dan membuat kubah pelindung mengelilingi tubuhnya.
"Cantik benar, tapi tidak efisien. Kekuatannya hanya setara dengan ranah yang kita capai, lalu tidak bisa lebih lebar lagi. Kalau energi ruang yang ayah ajarkan, bahkan bisa lebih luas dari rumah. Selain untuk bertahan, energi ruang yang tipis juga bisa untuk mendeteksi." Ayah Al menonaktifkan penghalangnya, lalu membuat energi pendeteksi. Seperti hentakan energi yang bergerak menjauh dari tubuhnya, namun sangatlah tipis hingga Akara dan Alice hampir tidak menyadarinya.
"Itu juga sama dengan energi yang dikeluarkan untuk memperkuat tubuh." Alice kembali mengeluarkan aura ranahnya dan membuat hal yang mirip dengan ayahnya.
"Bisa seperti ini?" Ayah Al tiba-tiba saja menghilang, lalu muncul kembali seperti semula.
"Apa-apaan tadi!?" Akara tercengang hingga mendekati ayahnya.
"Itu untuk kamuflase, akan ayah ajarkan lagi setelah kalian bisa dan terbiasa menggunakan pelindung maupun penghalang." Ayah Al kembali berdiri, diikuti oleh kedua anaknya yang nampak sedang tertarik untuk mempelajarinya.
"Ayo ayah! Ajari!" seru Akara dengan penuh semangat.
“iya-iya." Ayah Al meraih tangan anak-anak.
"Akan ayah bantu merasakan energinya, nanti kalian sendiri yang mencobanya," lanjutnya, lalu muncul energi yang mengakir dari tangan ayahnya menuju cincin penyimpanan. Beberapa saat kemudian terbentuklah kubah penghalang yang mengelilingi ketiganya.
"Rasakan aliran energinya dan juga momentum yang terbuat." Ia tetap menggenggam tangan anaknya, lalu kedua anak kecil itu memejamkan mata untuk merasakan energi yang mengalir.
Belum sampai setengah menit, ayah Al sudah melepaskan tangan anak-anaknya.
__ADS_1
"Sekarang kalian buat sendiri!"
"Oke!" seru Akara, namun dikejutkan oleh Alice yang sudah membuat penghalang.
"Wahh! Alice hebat!" serunya lagi.
"Hahaha, Akara, kamu selalu saja dikalahkan adikmu." Ayah Al kembali menggoda Akara, namun anaknya itu tidak terpancing.
"Mau bagaimana lagi, adikku yang cantik memang hebat!" Akara mengusap kepala adiknya dengan senyuman bangga di wajahnya.
"Kan masih menggunakan cincin penyimpanan ini kak, kalau dengan energi sendiri belum tentu langsung bisa," ujar Alice berusaha merendah, namun kakak dan ayahnya tetap tersenyum kepadanya.
"Sekarang giliranku!" Akara mulai mencobanya, namun ternyata langsung berhasil. Walau begitu, ekspresi wajah Akara malah menjadi begitu datar.
"Ayah, kenapa begitu mudah? Tidak ada tantangan sama sekali," ujar Akara dengan begitu lesu.
"Ohh?" Ayah Al langsung terkekeh, lalu mengambil cincin penyimpanan di jari kedua anaknya.
"Sekarang cobalah!" lanjutnya dengan mendongakkan kepalanya sekilas, seolah-olah menantang Akara.
Merasa tertantang, Akara langsung mencobanya, namun tidak terjadi apa-apa. Ia mencobanya lagi, sampai mengepalkan tangannya, bahkan hingga menunduk dan mengeratkan kedua tangannya.
"Tidak ada tantangan sama sekali?" sindir ayahnya.
"Ayah?" Alice ternyata telah berhasil membuat penghalang, membuat ayahnya tersenyum bangga kepadanya. Akara yang tadinya sedang bersusah payah mencoba, malah jadi menyombongkan adiknya.
"Lihat ayah! Adikku hebat bukan?"
Ayah Al tidak menjawabnya, namun malah langsung memukul ke arah Alice.
Bugghh! Crangg!
Kubah penghalang yang Alice buat hancur berantakan seperti pecahan kaca. Walau tubuhnya tidak terkena serangan, tapi Alice langsung berteriak kesakitan.
"Akhhh!" teriaknya, lalu beberapa saat kemudian teriakannya tidak bersuara hingga akhirnya tubuhnya melemah. Matanya terpejam karena telah tidak sadarkan diri, lalu tubuhnya terjatuh.
Ayah Al dengan sigap menangkap tubuh anaknya, lalu menghilang begitu menangkapnya. Akara yang masih tercengang, kini panik dan melotot karena begitu marah.
__ADS_1