
Mereka kemudian berjalan perlahan sambil mengamati benda-benda di sekitarnya, hingga akhirnya terlihat seseorang di tengah ruangan. Seorang pria berbadan besar,ia berdiri di sebuah altar, memegang sebuah pedang dan juga palu besar. Altar batu besar yang mirip altar pemurnian, dipenuhi peralatan penempaan dan juga tungku pembakaran. Api besar yang berkobar di belakangnya bahkan membuat Alice merasa panas, walau dengan jarak cukup jauh.
“Wohh, senjata yang bagus paman!” Akara langsung melompat ke atas altar, dan mengagetkan pria tua tersebut.
“Ehh!? Siapa kau bocah!? Kenapa bisa masuk ke dalam sini!?” bentak sang penempa dengan suara garangnya, ia berbalik badan, memperlihatkan armor berwarna kehijauan yang ia kenakan. Seorang pria tua berbadan berbadan besar, memiliki kumis dan janggut yang panjang.
“Tadi penasaran saja dengan rumah ini, lalu masuk, mmm pintunya tidak dikunci.” Akara menjelaskannya dengan begitu santai sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
“Benarkah?” ujar sang laki-laki sambil menengok ke arah pintu masuk, lalu pandangannya tertuju pada Alice yang ada di bawah altar.
"Kalian berdua! Kalau bermain jangan di sini, berbahaya!" bentaknya setelah melihat Alice, namun gadis kecil itu malah ikut melompat ke atas altar.
"Tenang saja paman, kakak dan aku tidak akan merusak satu senjata pun," ujar Alice dengan nada tenang dan santai.
“Paman, boleh ajari aku menempa senjata?” ujar Akara dengan senyum lebarnya, sambil berjalan mendekati tungku pembakaran. Alice dan juga sang penempa cukup terkejut dengan ucapan anak laki-laki itu.
“Hahaha bocah, kenapa ingin belajar menempa?” Sang penempa meletakkan senjatanya, kemudian mendekati Akara. Tungku penempaan yang masih ada kobaran api yang besar, namun Akara dengan begitu santai mendekatinya.
“Ehehe senjata tempaan paman yang dipajang di dinding sangat keren! Aku juga ingin mempunyai senjata tempaanku sendiri, bisa membuat senjata sesuai yang aku inginkan, bebas memakainya, kalau rusak bisa aku perbaiki sendiri. Dari semua itu ada yang paling penting, aku akan menjadi master bela diri terkuat, sekaligus melampaui kemampuan menempa paman!” seru Akara dengan penuh percaya diri.
“Hahaha, memangnya semudah itu bocah? Jadi penempa harus memahami ribuan jenis batu-batuan, dan juga menguasai banyak sekali teknik penempaan.” Sang penempa mengambil beberapa batu di depannya, lalu melemparkannya ke arah Akara.
“Tentu saja paman! Sama seperti menjadi alkemis ‘kan? Harus mengetahui jenis-jenis tanaman obat, apa saja efeknya, lokasi-lokasi tanaman itu tumbuh, cara merawatnya, apa yang akan terjadi jika penggabungan dua tanaman atau lebih, dan banyak sekali teknik pemurnian, dari yang dikeringkan, ditumbuk, hingga harus menggunakan api.” Akara menjelaskan panjang lebar hingga membuat sang penempa bingung.
“Sudah sudah! Malah jadi aku yang pusing,” ujar sang penempa sambil memegangi kepalanya sendiri.
“Hehe maaf paman." Akara meletakkan batu-batu tadi di samping pedang yang habis ditempa, lalu berjalan ke arah Alice.
“Oh iya bocah, siapa namamu?”
“Akara,” jawabnya dengan membelakangi sang penempa.
"Akg!?" Sang penempa terbelalak, hingga mematung sesaat.
__ADS_1
Karena tidak mendengar jawaban lagi, Akara kemudian berbalik badan untuk memeriksanya. Raut mukanya langsungnya berkerut, bertanya-tanya kenapa sang penempa mematung.
“Anak tuan Al!?” teriak sang penempa dengan sangat keras, hingga membuat kedua anak kecil di depannya kaget.
“Ehh paman! Ada apa?” Akara langsung mendekatinya, namun Alice segera menarik tangannya. Gadis kecil itu kemudian bersembunyi di belakang badan kakaknya.
“Hahaha, sebenarnya tadi aku sudah berniat ingin mengajarimu, tapi jadi malas setelah mendengar siapa ayahmu,” ujar sang penempa ssmbil berjalan turun dari altar batu.
“Ehh, kenapa dengan ayah!?” Akara terus mengikuti sang penempa, bersama dengan Alice yang memeluk lengannya.
“Woi Jade! Di mana pesan, ehh Akara, Alice?” Ayah Al tiba-tiba berada di atas altar batu, membuat kedua anaknya terkejut dan berbalik badan.
“Ayah?” keduanya sontak bingung dengan keberadaan ayahnya yang tiba-tiba.
“Barangnya sudah selesai, jadi mau melihatnya tidak?” ujar sang penempa yang berdiri di antara tumpukan batu, menunggu ayah dan anak itu berbincang-bincang.
“Jade, ngomong-ngomong, kenapa anakku di sini?” ujar ayah Al sambil berjalan perlahan-lahan.
“Ohh baguslah!” Ayah Al mengusap-usap rambut Akara sambil tersenyum lebar, namun Akara hanya tersenyum kecut.
Jade berhenti berjalan, lalu menengok ke belakang.
“Tapi aku tolak,” ujarnya singkat, lalu berjalan lagi.
“Apa maksudmu?” Ayah Al bertanya tanpa berekspresi dan mempercepat jalannya, meninggalkan anak-anaknya untuk mengejar Jade sang penempa.
“Yaa, awalnya aku berniat menerimanya, tapi jadi malas setelah tau kalau dia adalah anakmu,” jawab Jade tanpa menghentikan langkahnya.
“Seharusnya kau tambah semangat setelah tau kalau dia anakku,” ujar ayah Al dengan santai, berjalan di samping Jade.
“Kalau anakmu bisa menempa, lalu apa tugasku?”
“Tenang saja, aku masih tetap mengandalkanmu. Akara juga tidak mungkin langsung bisa menguasainya ‘kan? Tunggu sampai Akara hampir menyamaimu, baru aku melupakanmu,” ujar ayah Al dengan santai bercanda dengannya.
__ADS_1
Jade langsung menoleh ke arah ayah Al dengan tatapan tajam, lalu menghentikan langkahnya. Tidak lama kemudian ia menghela nafasnya, dan berbalik badan ke arah Akara.
“Baiklah baiklah! Akara, kau aku angkat jadi muridku, tapi bukan karena anak dari tuan Al. Bisa atau tidaknya dirimu di masa depan adalah hasil kerja kerasmu sendiri,” ujar Jade yang langsung melanjutkan berjalan setelah selesai bicara.
“Siap paman Jade! Maksudku guru!” seru Akara dengan lantang, perasaan bahagia tersirat di wajahnya yang tersenyum lebar.
“Panggil paman saja,” ujar Jade tanpa melihat ke belakang.
“Bagus anakku, curi semua ilmu dia. Paman Jade itu penempa terbaik di seluruh dunia.” Ayah Al mengacungkan jari jempolnya kepada Akara, lalu melanjutkan berjalan.
Setelah beberapa meter berjalan, mereka sampai di depan pintu berangkas yang sangat besar. Pintu dari logam yang terlihat sangat kokoh, hanya ada satu lubang kunci kecil.
Paman Jade membuka armor bagian depannya, lalu mengambil sesuatu.
Cring cring!
Bunyi seperti lonceng kecil yang amat banyak terdengar, saat paman Jade mengeluarkan benda dari dalam armornya. Suara itu ternyata berasal dari kunci yang amat banyak, padahal lubang kunci di pintu berangkas hanya ada satu.
“Jade, sudah aku bilang untuk menggunakan cincin penyimpanan pemberianku,” ujar ayah Al begitu melihat belasan kunci di tangan paman Jade.
“Tidak praktis, kalau hilang akan hilang semua hartaku,” ujar paman Jade yang sedang berjalan mendekati pintu berangkas, lalu memasukkan kuncinya.
Klekk!
Mekanisme kunci terbuka, namun paman Jade memasukkan kunci yang lain.
Klekk!
Mekanisme kedua terbuka, tapi tetap saja memasukkan kunci lain hingga belasan kunci.
Ayah Al dan kedua anaknya nampak sangat bosan menunggu, terlihat dari raut wajah mereka yang mengkerut.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pintu berangkas terbuka dengan sendirinya. Energi keluar dari dalam berangkas, seperti hembusan angin yang cukup kencang dan berhenti setelah berangkas terbuka sepenuhnya.
__ADS_1