
Akara dan Alice begitu bersemangat setelah melihat aura yang begitu cantik itu. Aura berwarna merah cerah dengan sesekali ada kilatan listrik merah layaknya aura alkemis.
Setelah itu mama Lia perlahan-lahan menaikkan tangannya, seraya melebarnya aura lingkaran. Yang tadinya hanya berukuran selebar piring, kini mulai melebar hingga setengah meter, lalu terus melebar. Saat mama Lia mengangkat tangan sepenuhnya, aura tadi berada tepat di atas kepalanya dan melebar hingga memenuhi ruangan.
"5 pola lingkaran tingkat Naga, intinya ini adalah penguasa dari para monster!" Mama Lia menakut-nakuti Akara hingga membuatnya menelan ludah.
"Di tingkatan ini binatang sihir sudah memiliki pengetahuan yang bahkan melebihi manusia,"
Ekspresi Akara dari takut, langsung berubah menjadi penasaran.
"Heh, maksudnya, mereka juga bisa bicara?"
"Iya, memiliki sifat layaknya manusia, mereka cenderung ganas, tapi ada juga yang baik. Tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka." Mama Lia melepaskan proyeksi energi, lalu berjalan perlahan meninggalkan Akara.
"Istirahatlah, kamu besok masih harus berlatih," ujar mama Lia sambil melambaikan tangan, namun tetap berjalan.
…
Saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun, Akara berjalan sendirian di tengah hutan. Hutan yang berada di lembah belakang rumahnya, belum cukup jauh karena masih terlihat jelas rumah di belakangnya.
"Kak Akara!" teriak seorang gadis kecil dari kejauhan, ia sedang berlari mengejar kakaknya. Akar dan pohon tumbang yang lalu-lalang di hadapannya tidak menjadi rintangan, ia dengan mudah melompatinya walau setinggi dan sebesar apapun.
"Kenapa mengikuti kakak?" ujar Akara begitu Alice sampai di sisinya.
"Kak Akara ini! Setidaknya tanya dulu 'Cantik kenapa di sini?' 'Cantik mau ke mana?' tidak basa-basi sama sekali!" Alice cemberut kesal, namun langsung berubah ketika melihat kakaknya tersenyum. Gadis kecil ini langsung meraih lengan kakaknya dan memeluknya.
"Mau cari obat apa kak?" lanjutnya.
"Adek Alice ini! Setidaknya tanya dulu 'Kakak mau ke mana?' 'Ngapain di sini?' tidak basa-basi sama sekali!" Akara menirukan gaya adiknya tadi, lalu tertawa ketika melihat adiknya cemberut.
"Kakakk!!"
…
Beberapa saat yang lalu, Akara ingin berlatih alkimia dengan mama Lia. Ia sudah penuh semangat menuju ruang latihan, namun langsung terkejut begitu sampai di dalam. Mama Lia sudah berada di sana dengan tungku pemurnian, namun tidak ada bahan sama sekali.
__ADS_1
"Cari sendiri bahannya," ujar mama Lia dengan santainya.
"Kenapa tidak langsung latihan saja?" Akara langsung kecewa, namun diabaikan oleh mamanya. Wanita cantik itu malah berjalan keluar ruangan, meninggalkan Akara begitu saja, lalu berhenti saat sampai di depan pintu.
"Kamu harus tau di mana mereka tumbuh, bagaimana cara mendapatkannya, sampai pemurnian, maka akan tau seberapa berharganya pil yang kamu buat." Mama Lia memberi wejangan, sebelum akhirnya lanjut berjalan menuju rumah.
"Baiklah mama Lia, tunggu aku!" teriak Akara saat mama Lia mencapai teras rumah, anak kecil itu langsung berlari ke arah hutan.
Mama Lia berhenti, menengok dan tersenyum sekilas, lalu masuk ke dalam rumah. Saat sampai di lantai 2, Alice langsung mendekatinya.
"Kak Akara di mana? Bukankah mama Lia sedang melatihnya?"
"Kakakmu sedang mencari bahan obat, kenapa cantik?" Mama Lia dengan santai duduk di sofa bersama mama lainnya.
"Cantik, temani saja kakakmu!" ujar wanita cantik yang bertubuh mungil.
"Tentu saja mama Serin!" seru Alice yang langsung bergegas lari, namun dihentikan oleh mama Rani.
"Tunggu Alice!" Mama Rani mengeluarkan sepasang pedang kayu dari cincin penyimpanan, lalu melemparnya ke arah Alice.
Mama Violet yang tadinya duduk dengan tenang, kini begitu tertarik saat melihat sepasang pedang kayu tadi.
"Pedang itu?"
"Iya, pedang yang menemani Akara latihan sejak kecil. Padahal dulu aku membuatnya dari balok kayu biasa, tapi jadi begitu bermakna akibat gadis kecil itu," jawab mama Rani.
…
Akara dan Alice sudah sampai di pinggir sebuah hutan, yang di bawahnya merupakan rawa dengan air berwarna gelap seperti air teh. Dipenuhi oleh pohon berukuran kecil, namun lurus tinggi menjulang. Akar di bawahnya menyebar seperti akar bakau, juga ada banyak akar Bajakah yang menggantung di mana-mana.
"Ada ikan kak!" Alice begitu bersemangat saat melihat ada ikan di pinggir rawa, ia kemudian jongkok dan mengulurkan tangannya ke air. Belum sampai menyentuh air, Alice dikagetkan oleh sesuatu.
Clapp!!
Seekor ikan seukuran lengannya melompat dari dalam air, dan hampir menggigit tangannya.
__ADS_1
"Kakkk." Alice dengan wajah memelas menoleh ke arah kakaknya, bahkan adaair mata yang menyelimuti mata cantiknya.
"Hati-hati." Akara tersenyum dan mendekatinya dengan tenang, lalu meraih tangan adiknya. Dibantunya berdiri, laku berjalan menjauh beberapa langkah dari rawa.
"Padi beras hijau, bunga teratai merah, lumut spiritual, seharusnya ketiga bahan ini ada di sekitar rawa." Akara menoleh ke segala sisi, untuk memeriksa apakah ada tanaman obat yang ia cari.
"Ada berapa bahan yang harus dicari kak?"
"5, padi beras hijau, bunga teratai merah, rumput spiritual, Andaliman ungu, Kapulaga batu. Dua bahan terakhir nanti kita cari saat pulang,"
Saat Akara menjelaskannya, Alice malah berlari beberapa meter dari kakaknya. Gadis kecil itu mendekat ke pinggir rawa hingga cukup membuat Akara khawatir dan mengejarnya.
"Kak itu!" seru Alice sambil menunjuk ke suatu tanaman yang tumbuh di rawa.
Tanaman karnivora yang memiliki daun panjang menjuntai, lalu ada sebuah kantung di ujungnya. Kantong berwarna merah dengan adanya tutup di ujungnya, dan beberapa tutupnya terbuka. Ukurannya tidak besar, dengan kantungnya yang hanya seukuran kepalan tangan anak-anak.
"Kantong semar merah!?" Akara cukup terkejut melihatnya dan kemudian mengamatinya dengan seksama. Ekspresi wajah Akara yang bersemangat, perlahan-lahan berubah menjadi bingung.
"Kenapa kak, kok jadi bingung?"
"Kantong semar merah merupakan tanaman yang sangat langka, lihatlah kantongnya yang masih tertutup." Akara menunjuk ke arah kantong yang ukurannya lebih kecil dan dengan tutup yang masih rapat menempel.
"Sangat langka? Ayo ambil!" Alice langsung membuat sebuah kubah penghalang kecil di atas air, lalu digunakannya sebagai pijakan.
"Ohh praktis juga." Akara cukup kagum melihat adiknya memanfaatkan energi yang seharusnya digunakan untuk bertahan, ternyata bisa digunakan untuk hal lainnya.
"Tunggu! Jangan… ambil semuanya." Akara telat memperingatkan adiknya, Alice sudah mencabut tanaman itu sampai ke akar-akarnya.
"Kenapa kak?" Alice dengan polosnya bertanya sambil mengangkat tanaman yang ia cabut.
"Seharusnya jangan dicabut, biarkan mereka tetap tumbuh. Yang bermanfaat hanya yang masih tertutup, sedangkan yang terbuka lihatlah, ada banyak serangga di dalamnya,"
Alice sontak penasaran dan mematahkan tutup kantong semar yang sudah terbuka, lalu melihat ke dalamnya.
"Ahh!?" Alice langsung terperanjat begitu melihat apa yang ada di dalam kantong, banyak sekali serangga yang telah terperangkap di dalamnya. Gadis itu terperanjat, melompat ke arah kakaknya.
__ADS_1