Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Gadis Misterius


__ADS_3

"Pedangku!?" Akara langsung berdiri dan mengamati ke segala penjuru, namun masih saja tidak menemukan pedangnya.


Setelah itu Akara terdiam, pandangannya tertuju pada sungai di depannya. Tanpa basa-basi, ia langsung melompat kembali ke sungai. Setelah mengambil nafas panjang, ia menyelam lagi ke dalam sungai.


Wanita bertopeng tadi sekarang duduk, mengamati air bergelombang akibat Akara yang mulai tenang. Tidak lama kemudian Akara muncul ke permukaan, menghirup udara segar sambil berenang ke pinggiran.


"Dapat?" ujar wanita bertopeng, padahal jelas-jelas Akara kembali dengan tangan kosong.


"Dapat dilihat bukan!?" teriak Akara sambil menatapnya dengan kesal.


"Ohh… Siapa namamu?"


"Akara," jawab Akara dengan suara lebih tenang, namun raut mukanya masih kesal.


"Akara? Kalau aku panggil saja Si Cantik," ujar wanita bertopeng sambil menunjuk kedua pipinya dengan begitu imut.


"Tidak ada yang nanya! Cantik dari mana? Topeng jelek begitu," ujar Akara sambil menunjuk ke arah muka wanita bertopeng.


"Aku cantik!"


"Jelek!"


"Cantik!" Wanita bertopeng tidak kalah ngototnya dengan Akara, hingga membuat Akara kesal.


Dengan cepat Akara menarik topengnya: "Jele..?" Akara terdiam sesaat begitu melihat wajahnya.


Seorang gadis berusia 20 tahunan dengan wajah tirus, senyuman manis di bibir merah mudanya dan juga kulit putih bersih seperti mutiara. Dengan cepat gadis itu mengenakan kembali topengnya, sedangkan Akara malah berteriak.


"Jelek! Week!" teriaknya sambil menjulurkan lidahnya.


"Hahaha, lihat sepuluh tahun lagi!" ujar gadis tadi sambil berusaha berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Akara, dan muncul dua bilah pedang kayu.


"Ambil pedangku," lanjutnya, lalu muncul kilatan listrik berwarna merah muda di sekujur tubuhnya, dan ia langsung menghilang.


"Wahh keren!" seru Akara kagum melihat kepergiannya, lalu meraih kedua bilah pedang kayu yang terjatuh di depannya.


"Ini, ini pedangku!" teriak Akara, namun kemudian menyadari sesuatu yang aneh dan mengayunkannya.


"Bukan pedangku, tapi." Akara mengamati bilahnya, lalu mengayunkannya kembali dengan begitu luwes.


"Perasaan yang sama." Akara masih merasa heran dengan pedang yang diberikan gadis bertopeng, karena perasaan yang sama dengan pedang lamanya.

__ADS_1


..


Hari mulai sore, langit sudah berubah menjadi merah saat Akara pulang ke rumahnya. Rumah kecil di pinggiran kota, tepat di samping ladang perkebunan menjadi tempat Akara dan mamanya tinggal.


Sebelum membuka pintu, Akara mengusap wajahnya yang masam dan memaksakan tersenyum beberapa kali.


"Mama, aku pulang!" teriak Akara saat membuka pintu.


"Cepatlah mandi, lalu makan!" seru mamanya yang terdengar dari arah dapur.


Setelah Akara mandi, ia kemudian makan bersama mamanya.


"Akara, bagaimana akademinya?" ujar mama Akara saat mengambilkan nasi untuk anaknya.


"Hebat mama!" seru Akara dengan riang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Tadi altar batunya rusak, jadi besok diuji lagi," lanjutnya.


"Ohh, kalau begitu cepat habiskan dan istirahat," ujar mama Akara sambil menaruh piring berisi nasi di depan anaknya.


..


Saat Akara tertidur, mamanya melihat ke arah dua bilah pedang kayu yang Akara taruh di ujung ruangan. Dalam pandangannya, dua bilah pedang kayu tadi diselimuti oleh kilatan listrik berwarna merah muda. Saat ingin menyentuhnya, tiba-tiba saja kilatan listrik cukup besar menyambar.


..


Hari selanjutnya


Akara datang ke akademi, walau dirinya telah gagal memadatkan aura ranahnya, dan gagal diterima sebagai murid akademi. Akan tetapi, dengan penuh percaya diri, Akara menenteng kedua bilah pedang kayu miliknya. Anak kecil itu berbaur dengan anak-anak lainnya, namun ternyata ada yang mengenalinya saat sampai di lapangan utama.


"Lihat! Itu dia sampah yang bahkan tidak dapat memadatkan auranya." Seorang anak laki-laki seumuran Akara menunjuk ke arahnya, memberitahukan kepada anak-anak yang umurnya lebih tua dari mereka.


Semua pandangan seketika mengarah kepada Akara, waktu terasa terhenti dari sudut pandang anak kecil itu. Semua tatapan mata yang mengasihani, juga merendahkannya terasa amat mencekam.


Saat waktu terasa berjalan kembali, kini terdengar suara tawa, dan bisik-bisik yang sedang membicarakannya.


"Hahaha malang sekali, hidup apa yang akan ia jalani tanpa aura energi,"


"Tentu saja hidupnya tidak akan lama,"


"Memang sudah ditakdirkan sebagai sampah seumur hidupnya,"

__ADS_1


Dengan tatapan tajam, Akara menengok ke arah mereka hingga cukup membuat terkejut. Setelah itu, ia melanjutkan berjalan kembali.


"Ehh mau ke mana?" Salah satu senior menghalangi jalan Akara.


"Master bela diri terkuat," lanjutnya, diikuti gelak tawa anak-anak lainnya.


"Hahaha master bela diri terkuat katanya!"


"Seekor semut ingin menjadi naga,"


Tanpa basa-basi, Akara melempar kedua pedang kayunya di udara, lalu mendaratkan pukulan tepat di hidung sang senior. Pukulan yang cukup kuat hingga membuat sang senior terdorong ke belakang, lalu darah mengalir dari hidungnya.


"Berisik kalian! Kalianlah yang sampah hanya bisa banyak bicara!" teriak Akara sambil mengulurkan tangannya ke depan, lalu kedua pedangnya dengan tepat jatuh di genggamannya.


"Tuan Cor Beton!" Beberapa anak panik dan segera membantu senior yang telah Akara pukul.


Setelah mengusap darah di hidungnya, Cor Beton mengeluarkan aura ranahnya. Aura 5 bintang energi muncul di belakang pundaknya dibarengi hentakan energi.


"Beraninya menyerang tuan muda keluarga Beton!"


Akara menyilangkan tangannya ke depan, untuk menahan hentakan energi dari Cor Beton. Sesaat kemudian, Akara membuka kembali tangannya dan melihat aura ranah milik Cor Beton. Kejadian itu membuat anak-anak berdatangan dan mengerumuni mereka.


"Tuan muda? Kalah dengan Dam Beton, hahaha sampah!" teriak Akara sambil tersenyum merendahkan.


Semua orang terkejut dengan keberanian Akara, lebih tepatnya kenekatan karena telah emosi.


"Sampah!?" Cor Beton kini benar-benar marah, terpancar energi dari kedua kepalan tangannya.


"Tidak sadar diri!" Cor Beton berlari menerjang Akara, namun pukulannya dengan mudah dihindari. Saat Cor Beton berbalik badan, Akara sudah siap melancarkan pukulan, dan lagi-lagi tepat mengenai hidungnya.


Hentakan energi seperti hembusan angin terjadi, tidak disangka, Cor Beton tidak bergeming sama sekali dengan pukulan Akara.


"Heh!" Cor Beton menyeringai, membuat Akara sedikit terkejut dan segera melompat menjauh.


"Sekarang tau 'kan perbedaan antara kita? Hahaha." Cor Beton tertawa puas diikuti oleh anak-anak lainnya.


Akara sedikit kebingungan, namun sesaat kemudian menenteng kedua pedangnya dengan yakin, seolah-olah siap menantangnya.


Cor Beton kembali menyeringai, kini ia menghentakkan energinya, lalu berlari. Akara melesat, lalu menunduk untuk menghindari serangan dan juga menusukkan pedangnya pada perut Cor Beton. Menyadari serangannya tidak mempan, Akara melompat ke samping.


Keduanya kini saling menyerang walau hanya serangan Akara yang berhasil, namun tetap saja tidak menyebabkan luka. Kelincahan dan kecepatan Akara jauh melebihi Cor Beton, namun tidak memiliki kekuatan sama sekali.

__ADS_1


Kebiasaan Akara menunduk saat menyerang disadari oleh Cor Beton, ia lalu melesatkan pukulan ke arah bawah. Akara terkejut dan melompat ke samping, namun Cor Beton langsung melakukan tendangan memutar. Tendangan mengenai perut Akara hingga membuatnya terhempas beberapa meter ke belakang.


__ADS_2