Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Perpisahan dan Janji


__ADS_3

Di kediaman keluarga Beton, Lisa mendatangi suatu bangunan yang terdengar tangisan banyak orang. Saat ia membuka pintu, ada beberapa orang yang sedang mengerumuni jasad Cor Beton. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan satu-persatu tangisan mereka berhenti begitu melihat kedatangan Lisa.


Kedatangan wanita bertopeng misterius, tentu saja membuat mereka terkejut dan langsung berposisi menyerang. Dikeluarkan aura ranah mereka yang hanya aura satu bola energi ranah Maskumambang.


"Siapa kau!?"


"Berani-beraninya menyusup ke kediaman keluarga Beton!"


Lisa tidak memperdulikannya dan dengan tenang berjalan menuju ke arah dua pedang kayu yang tergeletak di lantai. Pedang kayu yang ia berikan kepada Akara, kini telah berlumuran darah dari Cor Beton. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia lalu berjalan ke luar ruangan.


..


"Kemari kalian semua!" Akara berteriak, sambil mengangkat kedua tangannya dan muncul belasan kristal es yang melayang di sekitarnya.


Para anggota keluarga Beton cukup ragu dan gentar kala itu, namun tiba-tiba Akara terhuyung dan belasan kristal es yang ia buat mulai hancur.


Crang!!


"Bunuh!" Yon Beton dengan semangat meluncurkan serangannya kepada Akara yang telah tidak berdaya.


Wush!


Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berdiri di depan Akara.


"Kalian menyerang anak kecil?"


Semua orang langsung terkejut, bukan karena 4 kata yang ia lontarkan, melainkan kedatangannya yang secara tiba-tiba. Walau ingin melarikan diri, namun mereka sudah tidak bisa lagi membatalkan serangannya.


Brushh!!


Hanya dengan tepisan punggung jarinya, laki-laki itu berhasil membuat Yon Beton dan anggota keluarga Beton lainnya terhempas beberapa meter jauhnya. Hal itu sontak membuat mereka ketakutan dan kabur. Bagaimana tidak, Yon Beton yang sudah di ranah Sinom 3 bola energi saja dihempaskan begitu saja, bahkan tanpa harus mengeluarkan aura ranahnya.


Akara yang sudah tersungkur di tanah hanya bisa menatapnya dengan kagum, ia terus menatapnya saat laki-laki itu berbalik badan dan berjongkok untuk membantunya berdiri.


"Ingin terlihat kuat di depan mama boleh, tapi jangan memaksakan diri," ujar sang laki-laki saat mengangkat tubuh Akara untuk berdiri.


Akara masih terus menatapnya, lalu mundur satu langkah.


"Paman keren!" serunya, namun langsung terhuyung karena masih sangat lemah. Untung saja laki-laki itu segera merunduk untuk memegangi tubuh Akara, hingga tidak membuatnya jatuh.


"Paman?" Laki-laki itu bertanya sambil tersenyum kecut.


"Akara, dia ayahmu." Mamanya ikut merunduk, lalu tersenyum lebar.


"Ayah?" Akara masih bingung dan tidak percaya akan kata-kata mamanya.

__ADS_1


"Lepas!" Anak kecil itu tiba-tiba berontak, melepaskan tangan ayahnya dari tubuhnya. Walau sedikit terhuyung, tatapan tajamnya terus menatap ke arah ayahnya.


Saat ayahnya mulai berdiri, Akara langsung menyundul perutnya.


Buggh!


"Akhh." Ayahnya berpura-pura kesakitan sambil menunduk kembali.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Meninggalkan mama!" Akara mulai melancarkan pukulan demi pukulan ke arah perut ayahnya.


"Mama kesulitan selama ini!" Akara terus memukulnya dan berteriak dengan suara bergetar karena menangis. Kepalanya ditempelkan pada dada bawah ayahnya, dengan kedua tangan terus memukul perut ayahnya.


Ayahnya kini mengkerutkan dahinya merasa menyesal, lalu kembali tegak berdiri dan mengusap kepala anaknya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia terus mengusap kepala anaknya yang sedang memukulinya.


"Mama, mama membesarkanku, sendirian. Membesarkan anak nakal sepertiku!"


"Akara!" bentak mamanya, lalu menghela nafas dan berjongkok di samping anaknya.


"Kamu anak kebanggaan mama," lanjutnya dengan suara lembut, lalu meraih kepala Akara ke dalam pelukannya.


Kini Akara langsung memeluk erat mamanya, lalu tangisannya bertambah kencang hingga tersedu-sedu.


"Katakan sesuatu!" ujar mama Akara dengan suara seperti berbisik, namun geram kepada suaminya.


"Ah?" Ayah Akara malah kebingungan dan terlihat sangat gugup.


"Uhh itu, Akara! Sekarang ayah sudah ada di sini, tidak perlu menghawatirkan mama lagi. Ayah akan selalu ada untuk kalian,"


Begitu mendengar ucapan ayahnya, Akara langsung melepaskan pelukan mamanya, lalu menarik tangan ayahnya. Dengan muka amat kesal dan serius, Akara bergegas menuju ke arah kediaman keluarga Beton.


"Mau ke mana?" ujar mamanya membuat Akara berhenti.


"Biarkan ayah membersihkan keluarga Beton," jawab Akara dengan tegas, lalu melanjutkan berjalan.


"Akara, jangan lakukan itu," ujar mamanya sambil perlahan berjalan ke arahnya.


"Kenapa mama!? Mereka telah membuat kita seperti ini, ayah juga terlihat sangat kuat untuk menghancurkan mereka." Akara tetap ngotot, walau telah dilarang oleh mamanya.


Melihat hal itu, ayah Akara berjongkok di depan anaknya.


"Akara, pernah melihat pohon padi?" ujarnya dan dijawab anggukan oleh Akara.


"Pohon padi akan semakin menunduk bila biji atau isinya semakin banyak. Kita harus mencontoh pohon itu. Kalau manusia mempunyai kekuatan besar, lalu seenaknya sendiri, apa yang akan terjadi? Pasti akan merugikan orang lain, contohnya seperti keluarga Beton. Itu baru satu, coba kalau setiap orang kuat seperti itu, pasti dunia ini akan hancur,"

__ADS_1


Akara kini mulai tenang, dan mendengarkan penjelasan ayahnya dengan begitu hikmat.


"Jadi orang kuat tidak harus secara kekuatan, tapi juga kuat hati dan pikiran. Kuat hati berarti sabar dan bisa mengendalikan amarah, lalu kuat pikiran berarti harus memiliki ilmu yang bermanfaat. Semua itu juga harus digunakan dengan baik dan benar, baik atau benar saja belum cukup, haruslah baik dan benar. Biarkan saja keluarga Beton, mereka juga kemungkinan telah jera,"


"Baik ayah." Akara sudah kembali tenang dan menuruti ucapan ayahnya.


"Baiklah kalau begitu, ayah ingin membawa Akara dan mama ke suatu tempat. Kita akan pindah ke sana," ujar ayah Akara sambil berdiri kembali, lalu istrinya memeluk lengannya dan menyenderkan kepala.


"Pindah? Ahh, tunggu dulu di sini, Akara mau ke suatu tempat!" Akara langsung berlari terburu-buru, meninggalkan ayah dan mamanya.


"Mau ke mana? Jangan,"


"Biarkan saja," ujar mama Akara, memotong ucapan ayahnya sambil tersenyum.


..


Di sungai tempat Akara dan Lisa bertemu, Akara berlari hingga tersandung beberapa kali dan hampir jatuh.


"Cewek aneh!" teriak Akara.


Lisa sedang berdiri di dahan pohon sambil mengusap pedang kayu milik Akara, ia langsung melompat, tepat di depan Akara.


"Jaga dengan baik!" Lisa melemparkan kedua pedang kayunya ke arah Akara.


"Kenapa bisa ada di kamu?" Akara cukup terkejut, lalu mengamati dengan seksama kedua pedang kayunya.


"Aku harus pergi," ujar Lisa dengan suara lesu, padahal kalimat itu juga yang akan Akara katakan.


"Hah!? Ke mana?"


"Dengar!" Lisa begitu serius memegang kedua pipi Akara.


"12 tahun lagi, temui aku di akademi Amerta," lanjutnya dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Akara.


"Baiklah." Lisa kini melepaskan topengnya, lalu muncul kilatan listrik berwarna merah muda di sekujur tubuhnya. Kilatan yang semakin lama semakin banyak.


"Tunggu! Siapa namamu?" ujar Akara.


"Lisa!" jawabnya sambil menunjuk ke arah alisnya, lalu dengan cepat tubuhnya menghilang seperti tersedot ke dalam dimensi lain.


"Ingat, 12 tahun lagi di akademi Amerta!" suara teriakan Lisa bergema walau dirinya sudah tidak berada di sana.


Kini Akara kembali berlari menuju tempat kedua orangtuanya menunggu.


"Akara!" seru mamanya begitu anaknya terlihat kembali. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Akara lemas dan tidak sadarkan diri saat berlari.

__ADS_1


__ADS_2