
"Akhhh!" teriaknya, lalu beberapa saat kemudian teriakannya tidak bersuara hingga akhirnya tubuhnya melemah. Matanya terpejam karena telah tidak sadarkan diri, lalu tubuhnya terjatuh.
Ayah Al dengan sigap menangkap tubuh anaknya, lalu menghilang begitu menangkapnya. Akara yang masih tercengang, kini panik dan melotot karena begitu marah.
Beberapa saat kemudian ayah Al muncul kembali. Ia muncul sendirian tanpa Alice yang sebelumnya ia bawa.
Dengan suara gemetar dan geram, Akara bertanya kepada ayahnya.
"Apa-apaan tadi!?"
"Kenapa? Memangnya ada kekuatan yang bisa didapatkan begitu saja? Semua pasti ada konsekuensinya, ada sebab dan akibat. Jangan banyak bicara! Lakukan latihanmu!" Ayah Al dengan tatapan garang, menjawab pertanyaan anaknya yang masih mematung. Tatapan tajamnya, tidak membuat Akara gentar sama sekali.
"Kenapa ayah menyerangnya!?” Akara kembali bertanya dengan suara gemetar, namun masih diam berdiri.
“Akara, cobalah!” Ayah Al menghiraukannya, malah menyuruh Akara untuk segera mencobanya.
Akara mengangkat tangan kanannya yang sudah mengepal, lalu berposisi seperti ingin memukul. Akara memejamkan mata, lalu menghirup nafas dalam-dalam.
"Huhhh." Akara hembuskan udara yang ia hirup sembari melemaskan tangannya. Ia segera mencobanya, namun tidak seperti tadi, ia sekarang bisa melakukannya. Kubah penghalang berwarna putih transparan terbentuk mengitadi tubuhnya.
Akara tidak senang maupun menyombongkan diri, namun menatap ayahnya dengan tatapan tajam.
"Heh!" Ayah Al mengepalkan tangannya, lalu mengangkatnya hingga berposisi seperti ingin memukul. Sama persis seperti yang Akara lakukan tadi.
Akara tidak bergeming sama sekali, namun kemudian ayahnya melancarkan serangan.
Crangg!!
Penghalangnya pecah seperti kaca, lalu Akara meringis kesakitan hingga limbung. Walau begitu, ia masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak kehilangan kesadarannya.
“Seluruh tubuhku terasa sangat sakit, sekaligus seperti ditekan oleh benda yang sangat berat,” ujar Akara sambil meringis menahan sakit.
"Apa itu yang Alice rasakan tadi!?" lanjutnya dengan geram, sambil menatap ayahnya dengan sorot mata yang tajam.
“Akara, lakukan lagi,” ujar ayah Al dengan nada kalem, mengabaikan keluhan dari anaknya.
“Ayah, tidak puaskah melihat kedua anakmu kesakitan!?” Akara masih terus menatap ayahnya dan mengabaikan perintahnya.
“Akara.” Ayah Al kembali memanggil anaknya saat perintahnya tidak dilakukan.
“Ayah! Alice juga merasakan sakit seperti ini!?” kini Akara berteriak, sambil menarik baju ayahnya.
"Huhh baiklah!" Akara melepaskan baju ayahnya, namun masih terlihat kekesalan di wajahnya. Setelah itu ia membuat kembali penghalang yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Hah!?" Akara sedikit terkejut setelah berhasil membuat penghalang untuk kedua kalinya. Setelah itu ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh penghalang di depannya, hingga telapak tangannya sepenuhnya menyentuh penghalang.
“Apa yang kau rasakan?” ujar ayahnya sambil tersenyum lebar.
“Penghalangnya lebih kuat dari yang sebelumnya?” Akara dengan ragu menoleh ke arah ayahnya, untuk bertanya kepadanya.
"Semuanya butuh usaha dan pengorbanan. Kamu bisa terus menaikkannya hingga menjadi pertahanan yang absolut, tapi usaha dan pengorbanannya juga jadi semakin besar," ujar ayah Al sembari mengusap kepala Akara.
"Lalu Alice?" Akara dengan bingung bertanya.
"Tenang saja, Alice hanya kehabisan energi saja, sudah ayah serahkan kepada mama Lia," ujarnya sambil tersenyum.
"Ahh baiklah... Jadi, semakin dihancurkan, maka akan semakin kuat?" ujar Akara dan dijawab oleh ayahnya dengan anggukan.
Akara kembali membuat penghalang, lalu bersiap seolah-olah menahan serangan.
“Ayah, coba serang aku lagi!”
“Beneran? Berani menahan rasa sakitnya?” goda sang ayah kepada anaknya.
“Alice saja bisa, tentu saja aku sebagai kakaknya pasti bisa!” seru Akara dengan percaya diri, lalu diserang oleh ayahnya secara tiba-tiba.
Prangg!!
"Serang lagi!" seru Akara, dan ayahnya tanpa ragu-ragu langsung menyerangnya.
Prang!!
Setelah itu, Akara kembali membuat penghalang dan hancur berkali-kali, hingga terdengar suara kesakitannya semakin keras.
"Akh, lagi!"
Prangg!!
"Akhh! Lagi!"
Prangg!!
"Akhhh!!" teriak Akara, terlihat begitu kesakitan, juga suara nafasnya yang memburu. Setelah kembali tenang, Akara membuat penghalang lagi.
"La.."
Prangg!!
__ADS_1
Ayah Al langsung memukulnya dan menghancurkan penghalangnya. Akara terlempar ke udara, suara teriakannya tidak terdengar lagi, lalu mulai tidak sadarkan diri. Segera ayah Al melesat untuk menangkap tubuh anaknya, sebelum terjatuh dan terbentur ke lantai.
Melihat anaknya pingsan, ia hanya tersenyum bangga, lalu tiba-tiba saja mereka berada di dalam rumah. Tepatnya di langai dua dan di sana ada keempat istrinya.
"Al!" Mama Lia langsung mendekati suaminya yang tengah menggendong tubuh pingsan Akara.
"Sudah aku bilang jangan berteleportasi di dalam rumah!" Mama Lia memarahinya sambil berkacak pinggang.
Ayah Al nalah tersebut lebar, membuat mama Lia tidak jadi marah.
"Jangan sampai ditiru Akara dan Alice, akan berbahaya kalau asal berteleportasi,"
"Baik istriku, lalu ini Akara dibawa ke mana?"
"Bawa saja ke kamarnya, tidak ada yang terluka 'kan?" ujar mama Lia sambil memeriksa tubuh Akara, namun tidak ditemukan luka.
Setelah membawa Akara ke kamarnya, ayah Al segera menuju ke lantai dua untuk bertemu dengan para istrinya.
"Bagaimana dengan Akara?" ujar mama Serin begitu suaminya mendekat, sedangkan mama Rani malah melambaikan tangan agar suaminya duduk di sampingnya.
"Sini sini sini!" seru mama Rani sambil melambaikan tangan dan menepuk sofa di sampingnya.
"Pingsan setelah 5 kali kenaikan," ujarnya setelah duduk di antara mama Rani dan mama Violet. Kedua istrinya langsung memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya. Mama Rani terus tersenyum sambil memandangi wajah suaminya, namun mama Violet tetap tenang tanpa ekspresi.
"Ohh, bagus juga anak itu," ujar mama Serin yang berpawakan tenang, namun juga serius.
"Pedang kayu milik Akara, siapa yang memberikannya?" Ayah Al bertanya sambil menatap mama Serin, namun malah mama Rani yang ada di sampingnya terkejut.
"Kenapa kaget? Aku bertanya kepada Serin," ujar ayah Al sambil menahan tawa, namun istrinya itu memalingkan wajahnya.
"Itu… Dari Jade! Dia memberikannya untuk Akara." Mama Rani menatap suaminya sambil tersenyum lebar, namun kemudian senyumnya berubah menjadi canggung.
"Jade bertahun-tahun tidak keluar, saat aku kunjungi saja malah mengabaikanku," ujar ayah Al, sambil sekilas mengangkat sebelah alisnya. Hal itu membuat mama Rani semakin gugup.
"Al, memangnya apa salahnya?" sahur mama Serin yang duduk di depannya.
"Iya, kamu ini kenapa?" Mama Lia ikut-ikutan memojokkan suaminya.
"Aku senang melihat kalian akur, tapi keakuran kalian menjadi kompak untuk memojokkanku," ujar ayah Al dengan lesu, namun para istrinya malah tertawa kecil.
"Hanya ada sepasang saja pedang seperti itu, pedang kayu yang sebenarnya fosil kayu yang telah mengkristal. Hanya satu orang saja yang memakainya sebelum Akara," ujar ayah Al dengan serius.
"Regera, orang itu telah menghilangkan ribuan tahun, kamu terlalu memikirkannya," ujar mama Serin dengan tenang, namun membuat mama Violet yang biasanya tenang jadi terkejut.
__ADS_1