Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Kekuatan Tersembunyi


__ADS_3

Melihat Akara kesakitan, gadis bertopeng nampak ragu melanjutkannya. Tangan kirinya menggenggam erat, seperti merasakan sakit yang sama dengan Akara.


"Lanjutkan saja!" seru Akara setelah melihat keraguan pada gadis bertopeng.


Perlahan sang gadis melemaskan genggamannya dan mulai melanjutkan ritual. Akara kini tidak sadarkan diri, lalu sesuatu muncul dari tubuh Akara, 2 buah energi berbentuk infinite berwarna merah dan biru terang. Energi yang membawa hawa sangat dingin berwarna biru, lalu hawa sangat panas berwarna merah. Energi dinginnya bahkan sampai membekukan aliran sungai, lalu energi panasnya membakar pepohonan yang ada di hutan.


Mamanya Akara yang tadinya hanya menonton dari rumah, kini telah berada di atas kubah pelindung. Diulurkan tangan kanannya untuk menyentuh kubah secara perlahan, lalu muncul energi dingin dari arah lengan. Energi dingin yang dengan cepat membekukan seluruh kubah pelindung, lalu diketukkan jari telunjuknya pada kubah, hingga membuat kubah hancur berantakan seperti pecahan kaca. Energi pelindung yang harusnya bisa menahan bahkan monster sekuat apapun, namun dengan mudahnya dihancurkan.


Mamanya Akara melayang turun perlahan, dibarengi jatuhnya kristal es dari tubuhnya, dan memadamkan api yang membakar hutan. Setelah itu kubah pelindung mulai terbentuk kembali secara perlahan-lahan hingga akhirnya utuh seperti sediakala.


"Memang bisa menahan monster sekuat apapun, tapi tidak akan menahan sesuatu yang bahkan membuat monster ketakutan," ujar gadis bertopeng seraya melihat ke arah mamanya Akara.


"Lisa, ada apa dengan kekuatanmu?" ujarnya dengan santai, seperti tidak melihat keadaan Akara yang sedang pingsan.


"Perjalanan ruang waktu cukup melelahkan,"


Mamanya Akara hanya tertawa kecil, lalu mendekati anaknya yang tengah melayang di udara. Ia ulurkan tangan kanan ke arah esensi berwarna biru, lalu tangan kiri ke esensi berwarna merah. Walau kedua esensi memiliki energi panas dan dingin yang sangat luar biasa, namun tidak berefek apapun pada mamanya Akara.


"Akara belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik, jangan sampai seperti kakaknya," ujar mamanya Akara sambil perlahan-lahan mulai merapatkan kedua tangannya.


Kedua esensi juga ikut berdekatan, bahkan hingga terjadi ledakan energi yang sangat besar. Saat keduanya bergabung, ada semburan api biru ke arah atas hingga mengenai kubah pelindung.


"Akhh!" Mama Akara cukup kwalahan mengendalikan kedua esensi, sedangkan semburan api biru terus saja terjadi tanpa henti.


"Aku bantu." Lisa sang gadis bertopeng mengangkat tangab kirinya, kini lingkaran sihir di udara mulai menyala. Kilatan-kilatan petir yang tidak beraturan, perlahan menyatu dan mengalir dengan tenang ke dalam esensi.


Semburan api masih saja besar, lalu keduanya menghentakkan energi dari dalam tubuh mereka. Kini tubuh mereka diselimuti oleh energi, energi petir merah muda pada Lisa, juga energi api merah menyala pada mamanya Akara.


Api perlahan-lahan mulai mengecil, dibarengi dengan aliran energi seperti air mengalir ke dalam esensi. Baru beberapa saat, tiba-tiba Lisa terbatuk.


"Uhuk!" Lisa batuk disertai dengan darah yang keluar dari mulutnya.


"Lisa!? Hentikan, jangan memaksakan dirimu!" Mamanya Akara sangat panik, namun Lisa masih tetap mengalirkan energinya.


"Tidak, harus bisa!" teriak Lisa dengan suara sedikit bergetar.


Mama Akara menengok ke arahnya dengan kesal, namun segera menghela nafas begitu melihat air mata yang mengalir di pipinya.


"Huhh, baiklah,"


Kini kobaran api pada tubuh mamanya Akara semakin membesar, bahkan menyamai kobaran api biru sebelumnya. Penyatuan tinggal sedikit lagi, namun lagi-lagi Lisa batuk hingga mengeluarkan darah. Mama Akara hanya bisa mengkerutkan dahinya, mengkhawatirkan gadis cantik itu.

__ADS_1


Saat kedua esensi menyatu, semuanya langsung seketika sunyi. Asap serta api yang memenuhi kubah pelindung hilang begitu saja. Tubuh Lisa dan juga mamanya Akara langsung tersungkur di tanah, sedangkan Akara turun secara perlahan.


"Hahaha, akhirnya." Keduanya tertawa begitu lepas karena lega telah menyelesaikannya.


"Aku masih memiliki esensi petir." Lisa mengeluarkan esensi yang sama, namun memiliki energi petir.


"Mau digabungkan sekalian?" lanjutnya sambil tersenyum lebar, melihat ke arah mama Akara.


"Ohh ayo!" seru mamanya Akara membuat Lisa terbelalak kaget.


"Akan aku akhiri hidupmu agar tidak bisa menikmati hasil kerja kerasmu ini," lanjutnya, mengancam Lisa.


"Ehh, tidak perlu, ratusan tahun aku baru bisa mendapatkannya," ujar Lisa sambil memeluk esensi tadi dengan sayang.


"Jadi, lebih sayang kepada esensi itu daripada Akara?" Mama Akara menggodanya, hingga membuatnya panik dan kesusahan menjawab.


"Itu, tentu saja Akara!"


Mereka kemudian tertawa lepas, mengabaikan Akara yang masih tergeletak tidak sadarkan diri di tanah.


..


"Bukankah kemarin anak itu babak belur? Kenapa sekarang begitu riang?"


"Entahlah, mungkin karena terlalu bodoh,"


"Kebodohan apa yang bisa menyembuhkan luka seperti kemarin dalam semalam!?" serunya membuat mereka terdiam karena bingung, sedangkan Akara terus berlari hingga tidak mendengar perkataan mereka.


Begitu melihat Dam Beton, Akara langsung berlari menghampirinya.


"Heii!" seru Akara sambil melompat di depannya.


"Akara!?" Dam Beton sangat terkejut, bukan karena teriakan tiba-tibanya, namun karena kedatangannya.


"Kau sudah gila!?" Dam Beton menarik Akara dan berbicara berdekatan.


"Kenapa? Hanya belum memadatkan aura ranah, tidak perlu seheboh itu 'kan?" ujar Akara, seolah-olah melupakan kejadian pada hari sebelumnya.


"Seberapa keras kepalamu terpukul? Sampai melupakan semua kejadian kemarin." Dam Beton menarik kepala Akara dan melihatnya dari berbagai sisi.


"Ada apa?" Akara kali ini benar-benar bingung, sedangkan Dam Beton hanya menepuk kepalanya.

__ADS_1


"Dengar!" Dam Beton merangkul Akara, lalu menunduk.


"Kemarin kau berangkat ke akademi, lalu ada tuan muda Cor Beton yang mengejekmu. Tiba-tiba saja kau pukul hidungnya dengan sangat keras, lalu.." ucapan Dam Beton tidak lagi terdengar, kini Akara mengingat kembali kejadian pada hari sebelumnya.


..


"Ehh mau ke mana?" Salah satu senior menghalangi jalan Akara.


"Master bela diri terkuat," lanjutnya, diikuti gelak tawa anak-anak lainnya.


"Hahaha master bela diri terkuat katanya!"


"Seekor semut ingin menjadi naga,"


Tanpa basa-basi, Akara melempar kedua pedang kayunya di udara, lalu mendaratkan pukulan tepat di hidung sang senior. Pukulan yang cukup kuat hingga membuat sang senior terdorong ke belakang, lalu darah mengalir dari hidungnya.


"Berisik kalian! Kalianlah yang sampah hanya bisa banyak bicara!" teriak Akara sambil mengulurkan tangannya ke depan, lalu kedua pedangnya dengan tepat jatuh di genggamannya.


..


Tendangan mengenai perut Akara hingga membuatnya terhempas beberapa meter ke belakang.


"Akhh!" Akara mengerang kesakitan, meringkuk sambil memegangi perutnya.


Melihat lawannya tak berdaya, Cor Beton dengan cepat berlari dan menendangnya dengan sekuat tenaga. Akara kembali terhempas dan tersungkur di tanah, dan saat berhenti langsung memuntahkan darah.


Ada yang merasa iba dengan Akara, namun tidak sedikit juga yang menertawakan Akara. Mereka tidak mampu melakukan apa-apa untuk membantu Akara, hanya bisa memalingkan pandangannya saja.


"Sampah sialan!" Cor Beton mengangkangi dada Akara, lalu melancarkan pukulan bertubi-tubi pada wajahnya.


..


"Hei, kau dengar?" Dam Beton bingung saat Akara bengong dan diam saja.


"Di mana dia!? Di mana Cor Beton!?" ujar Akara dengan geram.


"Mungkin masih di kediaman keluarga Beton, mau apa?"


"Terima kasih!" Akara langsung bergegas lari meninggalkan akademi.


"Tunggu!" seru Dam Beton, lalu tersenyum puas dan berjalan mengikuti Akara.

__ADS_1


__ADS_2