Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Ayah dan Haremnya


__ADS_3

Akara merasa lemas, telinganya berdenging dan mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis kecil, yang umurnya lebih muda darinya. Gadis itu sedang berdiri di samping ranjang, tempat Akara sedang tidur. Ruangan di sekitar juga terasa sangat asing bagi Akara, ruangan yang cukup besar dan cukup modern dibandingkan kamarnya yang berdinding kayu.


Melihat Akara bangun, gadis itu malah terlihat panik dan belari ke belakang kursi. Digunakannya kursi itu untuk bersembunyi, dengan sesekali mengintip ke arah Akara.


"Halo?" sapa Akara sembari melambaikan tangannya.


"Kamu siapa? Ini di mana?" lanjutnya..


"Alice," ujarnya dengan pelan, dan saat ingin melanjutkan ucapannya, Akara malah memotongnya.


"Alis? Kenapa dengan alisku?" Akara malah memeriksa alisnya, dari kiri dan kanan.


"Bukan!" seru Alice sambil keluar dari persembunyiannya, lalu kembali bersembunyi saat Akara melihat ke arahnya.


"Namaku Alice," lanjutnya dengan suara pelan sambil sedikit mengintip.


"Alice? Hehe maaf, aku kira alis. Hah, alis!?" Akara teringat kembali saat Lisa memperkenalkan diri, saat itu Lisa mengucapkan namanya sambil menujuk ke arah alisnya.


"Kak Akara, tidak apa-apa?" Alice keluar lagi dari persembunyiannya, mendekati Akara yang terlihat kebingungan.


"Tidak apa-apa," jawab Akara sambil menyingkapkan selimut, lalu menyadari sesuatu.


"Bagaimana bisa tau namaku!?" serunya sambil menurunkan kedua kakinya dari ranjang, namun masih duduk.


"Alice itu adikmu," jawab mamanya Akara sambil membuka pintu kamar, lalu masuk bersama dengan 3 wanita cantik lainnya.


"Kapan mama melahirkan lagi?" Akara kebingungan sambil memandangi adiknya, namun Alice langsung berlari menuju salah satu wanita yang baru saja masuk ruangan. Wanita yang sangat cantik, namun bertubuh mungil dengan tinggi hanya 150cm.


"Mama, mereka siapa?" ujar Akara lagi saat melihat mamanya tertawa mendengar pertanyaan sebelumnya.


"Ini mama Serin, mamanya Alice," jawab mama Akara sambil menunjuk ke arah Alice dan mamanya.


"Lalu ini mama Violet," lanjutnya mengenalkan wanita cantik yang sedikit lebih tinggi darinya, dengan tinggi 172cm.


"Tuan Akara," ujar Wanita yang begitu cantik nan anggun, dengan sorot mata yang tajam, namun juga terlihat penurut. Gaunnya yang bernuansa hitam dan ungu sangatlah cocok dengan namanya dan juga warna pupil matanya.


"Dan ini mama Lia," lanjutnya memperkenalkan wanita terakhir.

__ADS_1


"Hallo Akara!" seru mama Lia dengan suara ceria dan begitu bersahabat. Wanita yang tidak kalah cantik dengan ketiganya, juga terlihat riang dan ceria seperti mamanya Akara, namun memancarkan aura keibuan yang begitu teduh.


"Hallo," jawab Akara sambil mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.


"Lalu siapa nama mama?" ujar Akara kepada mamanya sendiri.


"Ahh? Hahaha mama Rani," jawabnya dengan begitu malu karena anaknya sendiri belum mengetahui namanya.


"Begitulah Rani," ujar mama Serin, sambil geleng-geleng kepala heran.


"Ya, mau bagaimana lagi." Mama Lia juga ikut-ikutan heran.


"Ahahaha, maafkan. Oh iya Akara, mereka juga seperti mama, istrinya ayahmu." Mama Rani malah dengan begitu riang memperkenalkan para istri suaminya.


"Orang tua itu menikah lagi saat meninggalkan kita!?" Akara kini kesal, bahkan memanggil ayahnya dengan sebutan orang tua.


"Hahaha bukan, bukan, ayahmu menikahi kami berempat sudah dari dulu," jawab mama Rani, kemudian keempat wanita itu menertawakan kelakuan Akara.


Saat Akara ingin berdiri, tiba-tiba terhuyung lagi, membuat keempat mamanya secara bersamaan membungkuk, menahan tubuhnya.


"Berbaring dulu, kamu sudah pingsan selama dua minggu lebih," ujar mama Lia sambil mengangkat selimut dari kasurnya, lalu menyelimuti tubuh Akara begitu anak itu ditidurkan oleh mama Rani.


Melihat keakuran keempat wanita itu, Akara begitu kebingungan.


"Kenapa Akara? Memangnya kenapa kalau kami berempat akur?" ujar mama Serin, mamanya Alice sambil tertawa kecil.


"Tidak, bukan begitu." Akara kebingungan ingin menjawab apa.


"Hehehe, ehh, ada apa cantik?" ujar Mama Serin begitu melihat anaknya yang sedang khawatir menatap Akara.


"Mama, kak Akara tidak apa-apa?" ujarnya dengan begitu imutnya, ia belum berani bertanya langsung kepada Akara.


"Tanya saja kepada kakakmu." Mama Serin kini malah menggoda anak-anaknya, hingga membuat Alice bersembunyi di belakangnya.


"Tenang saja! Kakakmu ini calon master bela diri terkuat, jadi tentu saja kuat!" seru Akara dengan penuh semangat, padahal beberapa saat yang lalu hampir tersungkur karena lemas.


"Beneran kak!?" seru Alice sambil keluar dari persembunyiannya dan kini berani mendekati Akara.

__ADS_1


"Tentu!" seru Akara lagi sambil mengacungkan jempolnya ke arah dirinya sendiri.


"Ehh ada apa?" Mama Lia masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makanan yang terlihat mengebul karena masih hangat.


"Si cantik sudah berani mendekati kakaknya ternyata," lanjut mama Lia membuat Alice bersembunyi kembali di belakang mamanya.


Mereka kemudian menertawakan kelakuan Alice, namun tidak dengan mama Violet. Ia selama ini hanya diam saja, namun sekarang berjalan perlahan mendekati mama Lia dan meraih nampannya. Dibawanya nampan tadi menuju Akara dan duduk di tepi ranjang. Disendokkan bubur yang masih hangat, lalu ditiup agar lebih dingin sebelum menyuapi Akara.


"Buka mulutnya tuan," ujarnya saat menyuapi Akara.


"Aku Akara!" seru Akara karena tidak nyaman dipanggil tuan.


"Tuan Akara aaa." Mama Violet tetap menyuapinya dan tetap memanggilnya tuan.


Akara hanya pasrah dan mulai membuka mulutnya.



Hari selanjutnya, Alice pagi-pagi sekali sudah berada di kamar Akara, ia ragu-ragu saat ingin membangunkan kakaknya. Saat ingin menyentuh pundaknya, ia urungkan, lalu malah menengok ke kanan dan kiri.


Saat melihat vas bunga, ia langsung mendekatinya dan diambil, lalu ingin dijatuhkan. Lagi-lagi ia urungkan hal itu dan dikembalikan vas bunga tadi ke tempat semula. Kemudian pandangannya tertuju pada sepasang pedang kayu milik kakaknya, yang ditaruh pada cantolan di dinding.


Segera ia dekati pedang itu, namun saat sudah berjarak sekitar 1 meter, tiba-tiba saja kedua pedang kayu itu melesat ke arah Alice. Pedang itu terbang dengan cepat hingga membuat Alice terkejut, kemudian melayang sesaat di sekitar tubuhnya dan terjatuh.


Brakk!!


Jatuhnya kedua pedang kayu membuat Akara terbangun.


"Ahh Alice, ada apa?" Akara bangun dan mendekati adiknya yang masih mematung, akibat terkejut dengan reaksi pedang kayu.


"Kok pedangku di situ?" Akara lalu mengambil pedang kayu miliknya yang berada di bawah Alice.


"Maaf kak," ujar Alice yang terlihat sedikit takut.


"Tidak apa-apa," jawab Akara sambil tersenyum lebar, agar adiknya tidak merasa bersalah lagi.


"Itu kak, mama sudah menunggu di ruang makan,"

__ADS_1


"Oh ayo!" Akara langsung meraih tangan adiknya dan bergegas menuju ruang makan.


Sesampainya di sana, Akara langsung melepaskan tangan adiknya dan berlari ke arah ayahnya. Dengan cepat ia ayunkan pedangnya ke arah tengkuk ayahnya yang sedang duduk.


__ADS_2