Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Keluarga Beton


__ADS_3

"Hei, kau dengar?" Dam Beton bingung saat Akara bengong dan diam saja.


"Di mana dia!? Di mana Cor Beton!?" ujar Akara dengan geram.


"Mungkin masih di kediaman keluarga Beton, mau apa?"


"Terima kasih!" Akara langsung bergegas lari meninggalkan akademi.


"Tunggu!" seru Dam Beton, lalu tersenyum puas dan berjalan mengikuti Akara.


..


Di depan kediaman keluarga Beton, Akara berdiri tepat di depan gerbang masuk. Mengambil ancang-ancang, lalu berteriak sekeras-kerasnya.


"Cor Beton sialan!! Keluarr!!"


Para penjaga yang terkejut, langsung berlarian menuju sumber suara. Kediaman yang sangat luas hingga membutuhkan beberap penjaga di gerbang depannya.


"Woi bocah, apa yang kau lakukan!?"


"Pergi! Jangan buat onar!"


Akara tidak menghiraukan peringatan pata penjaga, ia malah berlari masuk, menerjang para penjaga dan melewatinya begitu saja.


"Cepat tangkap bocah itu!"


Mereka dipermainkan oleh kelincahan Akara dan akhirnya anak itu sampai di halaman utama. Sebuah lapangan yang cukup luas, tepat di depan sebuah bangunan besar.


"Cor Beton, keluar!" teriak Akara lagi sambil berlari menghindari kejaran para penjaga.


"Keluar pengecut sialan!" teriak Akara lagi, namun tiba-tiba ada seseorang yang melesat dengan sangat cepat. Ditangkapnya kedua tangan Akara dan dipiting di bagian belakang badan.


"Akhhh!" Akara hanya bisa berteriak kesakitan saat tubuhnya dipiting hingga terangkat.


"Tuan Yon Beton!"


"Maafkan kami telah gagal menangkap pembuat onar itu." Para penjaga langsung menunduk ketika melihat pria yang sedang memiting Akara.


"Pergilah pergilah." Yon Beton hanya mengibaskan punggung tangannya untuk mengusir para penjaga. Setelah penjaga pergi, Yon Beton melepaskan pitingan Akara.

__ADS_1


Sontak Akara langsung melakukan tendangan memutar, namun langsung ditangkisnya dengan begitu mudah. Setelah itu Akara terdiam memandangi pria yang terlihat berwibawa itu.


"Bocah, tau tempat apa ini?"


"Tau! Tempatnya pengecut Cor Beton itu!" teriak Akara dengan kesal sambil menunjuk ke arah bangunan di sampingnya.


"Hahaha pengecut? Dia tuan muda keluarga cabang kami, penghinaanmu tidak bisa dimaafkan begitu saja." Yon Beton menundukkan kepalanya dan menatap Akara dengan tatapan menyeramkan.


Walau begitu, Akara tidak gentar, malahan ia tatap kembali.


"Tuan Yon Beton, maafkan Dam Beton yang tidak bisa menghentikan kelakuan anak itu." Dam Beton tiba-tiba saja mendekati mereka dan langsung menundukkan kepalanya.


Yon Beton dengan perlahan mengangkat kembali tubuhnya, lalu berbalik badan untuk melihat Dam Beton.


"Ohh, jenius keluarga kami, apa yang terjadi?"


Dam Beton berdiri tegap kembali, lalu menjelaskan kejadian di hari kemarin kepada Yon Beton. Setelah mendengarkan penjelasan dari anak kecil itu dengan seksama, Yon Beton berjalan menuju bangunan di sampingnya lapangan.


"Cor Beton keluarlah!" serunya dengan tegas, lalu pintu depan terbuka dengan tergesa-gesa. Muncul Cor beton yang didampingi oleh ayahnya seperti sedang ketakutan.


"Tuan Yon Beton, ada apa?" ujarnya ayah Cor Beton dengan tutur kata yang halus dan begitu menghormati Yon Beton.


"Ta, tapi tuan, anak itu yang memukul Cor Beton terlebih dahulu." Ayahnya Cor Beton masih berusaha mencari kebenaran untuk anaknya.


"Awal masalahnya apa? Cor Beton yang menghina anak ini terlebih dahulu, dia bilang sampah? Lihatlah anakmu, sebagai tuan muda keluarga Beton, tapi masih kalah dengan Dam Beton," ujar Yon Beton sambil meraih pundak Dam Beton.


Cor Beton dan ayahnya sontak kringat dingin karena panik, bahkan tidak bisa berkata-kata.


"Memukuli anak yang tidak bisa memadatkan aura di depan banyak orang, bahkan ia menggunakan aura energinya? Cepat minta maaf!"


"Aku tidak butuh minta maaf!" teriak Akara, membuat Yon Beton dan Dam Beton tersenyum sambil saling menatap.


"Lakukan pertarungan melawanku!" tantang Akara sambil menghunuskan kedua pedangnya.


Cor Beton dan ayahnya langsung tersenyum bahagia begitu mendengar ucapan Akara. Walaupun begitu, mereka masih harus menunggu keputusan dari Yon Beton.


"Kalau begitu yang nak Akara mau, Cor Beton, bagaimana denganmu?"


"Tentu saja!" seru Cor Beton penuh percaya diri.

__ADS_1


Mereka kemudian bersiap-siap di tengah-tengah lapangan, dengan keluarga Beton yang mengelilingi mereka. Akara menenteng kedua bilah pedang kayu miliknya, sedangkan Cor Beton yang penuh percaya diri dengan tangan kosong.


Suara tabuhan gong besar menjadi pertanda mulainya pertandingan. Saat Akara melesat, Cor Beton membuka aura ranahnya. Aura energi 5 bintangnya cukup untuk membuat tubuhnya kuat menahan serangan pedang kayu milik Akara. Walau begitu, Cor Beton terlihat meringis kesakitan saat Akara menebas lehernya.


Kini Cor Beton melakukan serangan balik, pukulan demi pukulan terus ia lancarkan, namun selalu Akara hindari. Serangan Akara juga kini ia tangkis, bahkan sebagian besar ia hindari setelah merasakan serangan petama Akara cukup membuatnya sakit.


Sambil duduk santai di kursi, Yon Beton berbisik kepada Dam Beton yang ada di sampingnya.


"Lihatlah tingkahnya, kesulitan melawan seorang sampah. Posisi tuan muda menang seharusnya dimiliki olehmu, bukan si sampah Cor Beton itu,"


"Baik tuan Yon Beton." Dam Beton menjawabnya dengan serius, namun wajahnya tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Senyuman lebar yang terpancar, namun juga tatapan licik saat melihat pertarungan Akara dan Cor Beton.


"Oh iya, nanti temani aku menemui wanita cantik di ujung kota,"


"Ahh, itu tuan Yon Beton." Dam Beton nampak ragu-ragu saat ingin melanjutkan ucapannya.


"Ada apa?"


"Wanita itu, adalah mama dari Akara," ujar Dam Beton dengan ragu-ragu.


"Bocah itu!?" Yon Beton tidak bisa menutupi keterkejutannya, suaranya bahkan hingga terdengar oleh anggota keluarga Beton lainnya.


"Tonton saja!" bentak Yon Beton saat anggota keluarga Beton melihat ke arahnya.


Di atas atap kediaman keluarga Beton, ada Lisa yang sedang menonton tanpa ada yang mengetahuinya.


Saat Akara berlari melesat, Cor Beton berhasil memukul lengan tangan kanan Akara. Anak itu sampai hampir terhempas begitu mendapatkan pukulan yang kuat. Sorakan gembira mengiringi senyuman puas Cor Beton, namun Akara berdiri tegak kembali.


Tangan yang tadi terkena pukulan dilemaskan, lalu muncul hentakan energi dari tubuh Akara. Aura energi mulai terbentuk di belakang pundaknya hingga berjumlah 3 bintang. Sorakan bahagia para anggota keluarga Beton kini berubah menjadi terkejut, bahkan mengejutkan Yon Beton.


"Bahaya, anak itu ancaman!" gerutu Yon Beton sambil berdiri karena terkejut.


"Hahaha, memangnya kenapa kalau sudah memadatkan aura!?" seru Cor Beton, menutupi kegelisahannya.


Akara tidak menjawabnya, ia langsung melesat menuju tempat Cor Beton. Melihat Akara bergerak, Cor Beton memukul tanah di depannya dengan kuat. Tanah yang dipukulnya menjadi seperti gelombang yang bergerak cepat ke arah Akara.


Akara langsung mengayunkan satu pedangnya, hingga membelah ombak tanah di depannya. Akara kembali melesat, sedangkan Cor Beton memukul udara beberapa kali. Pukulannya di udara berubah menjadi energi yang meluncur dengan cepat, namun tidak bisa menghentikan Akara.


Akara terus melesat dan menghunuskan kedua pedangnya menuju ke arah perut Cor Beton. Yon Beton yang sedang gelisah langsung mengambil tindakan, diulurkan tangannya ke arah mereka, lalu menggenggam. Pedang kayu milik Akara tidak disangka menembus tubuh Cor Beton. Semua orang terkejut tidak percaya termasuk Akara, sedangkan Yon Beton malah tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2