Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Awal Penempa


__ADS_3

Ayah Al dan kedua anaknya nampak sangat bosan menunggu, terlihat dari raut wajah mereka yang mengkerut. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pintu berangkas terbuka dengan sendirinya.


Gleggk!! Wussshh!


Energi keluar dari dalam berangkas, seperti hembusan angin yang cukup kencang. Paman Jade dan ayah Al mampu menahannya, namun tidak dengan kedua anak kecil itu, mereka hampir terhempas.


Melihat anaknya terdorong perlahan ke belakang, ayah Al menjentikkan jarinya dan membuat penghalang. Seketika Akara dan Alice tidak merasakan hembusan angin lagi.


Glengg!!


Pintu berangkas sepenuhnya terbuka, bersamaan dengan hembusan angin yang juga langsung menghilang. Senjata yang berada di ruangan ini tidak sama dengan kedua ruangan sebelumnya, di sini semuanya melayang, namun tetap tertata rapi.


Paman Jade memimpin jalan, diikuti oleh ayah Al, namun kedua anaknya masih saja terkagum-kagum melihat seisi ruangan. Baru beberapa langkah berjalan, paman Jade menghentikan langkahnya. Di depannya ada dua pasang pedang ganda yang melayang diselimuti oleh energi.


"Ada apa Jade?" ujar ayah Al yang berhenti di sampingnya, lalu diikuti oleh anak-anaknya.


"Dua pasang pedang ganda ini, sudah aku siapkan untuk tuan Akara dan nona Alice!" Jade berbalik, menyilangkan tangannya di dada, seolah-olah memperkenalkan dengan bangga.


“Siapa yang menyuruhmu membuat itu?” Ayah Al tanpa berekspresi bertanya kepada paman Jade, sedangkan kedua anaknya berbinar-binar memandangi dua pasang pedang itu.


“Tidak ada, tapi mereka pasti butuh, cepat atau lambat." Jade kemudian berjalan beberapa langkah, membuka lemari kaca yang dipenuhi oleh artifak. Setelah mengambil salah satu artifak, ia berjalan mendekati ayah Al.


"Ini pesananmu.” Ia berikan artifak yang tadi diambilnya kepada ayah Al.


“Paman Jade, bikinkan aku tungku pemurnian yang sekaligus bisa jadi tungku pembakaran.” Akara mengangkat tangannya dan meminta pesanan kepada gurunya.


“Akara, latihan dulu saja menggunakan tungku yang disediakan paman Jade, nanti bisa bikin sendiri tungku yang kamu mau." Ayah Al menasihati Akara dengan halus, namun langsung menoleh ke arah paman Jade dan menunjuk ke arah dua pasang pedang tadi.


"Jade, jangan berikan semua itu kepada anak-anakku tanpa persetujuan dariku!” Ia langsung tegas kepada paman Jade.


“Siap tuan Al!” Paman Jade menurutinya tanpa merasa kesal, maupun membuat alasan.


Setelah itu, Akara pulang bersama ayahnya dengan berjalan kaki sambil berbincang-bincang.

__ADS_1


“Ayah, kenapa paman Jade memanggil ayah tuan, tapi tetap akrab dan sangat santai saja?”


“Tidak semuanya harus ditundukkan, Akara. Seperti yang ayah bilang sebelumnya, jadilah seperti padi. Semakin berisi, maka akan semakin menunduk. Kakuatan memang penting, tapi jangan selalu gunakan kekuatan. Ada dua tipe orang di dunia ini, yang pertama akan tetap menghormati walau kita santai kepadanya, tapi juga ada yang malah ngelunjak. Nah itu kamu harus hindari tipe kedua. Berbeda lagi kalau khodam, mereka pasti akan menghormati kita kalau kita menganggap mereka sebagai teman,” ujar ayah Al hingga mereka tidak sadar telah sampai di depan rumah.


..


Hari selanjutnya, Akara dengan riang bergegas menuju rumah paman Jade untuk berlatih menempa. Paman Jade sedang di depan tungku pembakaran, dengan mengayunkan palu besarnya berkali-kali. Suara dentuman besi yang dihasilkan sangatlah keras, dibarengi oleh percikan api.


Tang! Tang! Tang!


"Paman Jade, aku datang!" teriaknya begitu sampai di dekat altar.


"Oh Akara." Paman Jade menghentikan aktivitasnya dan menengok ke arah Akara sesaat.


"Ambil buku itu dan baca semuanya." Paman Jade menunjuk ke arah buku yang ada di ujung altar batu. Buku yang cukup lebar, namun juga sangat tebal.


"Itu?" Akara segera mendekatinya, lalu mengambil buku yang dimaksud. Ia duduk di altar, lalu membukanya dan sontak tercengang.



Di ruang latihan, Akara sedang duduk di altar pemurnian sambil membuka buku di pangkuannya. Di sisinya, ada mama Lia yang menemaninya. Buku yang Akara bawa, tidak kalah lebar dan tebal dari buku yang paman Jade berikan.


"Mama, apa yakin hanya tuju tanaman ini saja?" ujar Akara sambil menunjuk ke halaman buku.


"Iya, itu dulu yang utama karena pil penting untuk meningkatkan ranah. Pil pembentukan energi level satu sampai tiga, fungsinya mengembalikan sebagian kecil energi dan membantu menaikkan ranah. Bahan yang dibutuhkan ada padi beras hijau, bunga teratai merah, rumput spiritual, Andaliman ungu, dan Kapulaga batu." Mama Lia menjelaskan tentang salah satu pil yang ada di halaman buku, lalu membuka halaman selanjutnya.


"Pil selanjutnya adalah pil penyejuk jiwa level tiga minimalnya. Berfungsi untuk menaikkan ranah dengan instan, namun bisa membuat kemunduran jika tubuh belum siap. Bahannya ama dengan pil pembentukan energi, hanya saja ditambahkan cengkeh api dan Kecombrang petir," lanjutnya.



"Paman Jade, akan aku baca di luar!" teriaknya agar terdengar oleh gurunya di antara suara dentuman besi.


"Ya!" teriak paman Jade sambil menengok sesaat, lalu melanjutkan penempaan.

__ADS_1


Akara segera berjalan pergi, hingga akhirnya sampai di ruangan pertama setelah pintu keluar. Anak kecil itu berdiri di tengah-tengah ruangan, lalu menghadap ke tumpukan batu di sampingnya. Akara terkekeh, lalu mengulurkan tangannya ke depan.


Gletek! Gletek!


Bebatuan di depannya bergetar, lalu tersedot ke dalam portal seperti lubang hitam. Semua bebatuan mineral berbagai jenis dan ukuran diambilnya hingga tersisa yang berada di sisi lain.


"Ahhh!" Akara langsung jatuh ke belakang, tubuhnya bercucuran keringat dan ngos-ngosan. Setelah merebahkan tubuhnya cukup lama, Akara berdiri kembali sambil berusaha menstabilkan nafasnya.


"Baiklah, mari mulai!" serunya sambil membuka buku pemberian gurunya, lalu mengulurkan tangannya lagi ke sisi yang sudah kosong.


Wushh!!


Terbentuklah petak-petak berbentuk persegi yang terbuat dari energi penghalang. Lebih dari dua puluh petak terbentuk, dengan panjang sisinya masing-masing dua meter.


"Besi." Akara membaca halaman bukunya, lalu berjalan ke arah tumpukan batu. Pada halaman buku, ada penjelasan lengkap tentang besi, beserta gambarnya. Segera Akara cari yang cocok dengan gambar di buku dan dibawanya menuju salah satu petak.


Setelah mendapatkan beberapa, ia membuka halaman selanjutnya.


"Baja? Kenapa mirip?" Ia cukup kebingungan saat membedakannya, hingga membolak-balik halaman. Setelah itu mengecek ke dalam petak besi dan melihat dengan teliti. Setelah memastikan bahwa ada yang tercampur, segera ia pisahkan dan diletakkan ke petak selanjutnya.


Setelah itu Akara menemukan bongkahan yang besar, hingga dia tidak mampu mengangkatnya. Karena tidak kuat, ia akhirnya mendorong agar menggelinding, namun tetap saja bongkahan besar itu tidak bergeming.


"Ahh!" Akara akhirnya menyadari sesuatu, lalu mengulurkan tangannya dan memasukkan bongkahan besar tadi ke dalam penyimpanan dimensinya. Setelah itu ia berjalan menuju salah satu petak dan mengeluarkan bongkahan besar tadi.


"Hehe praktis." Akara tertawa puas, namun segera terbelalak, menyadari sesuatu.


"Benar juga! Berarti tinggal mengeluarkan batu-batuan yang sejenis dari penyimpanan dimensi!" Akara segera mengulurkan tangannya, mengeluarkan batu yang ia ambil sebelumnya.


Broll! Gletek gletek gletek!!


Kumpulan batu keluar dari sebuah portal seperti hujan, namun tidak lama kemudian Akara terhuyung.


"Akkgghhhh!" Akara berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya, lalu suara teriakannya tidak keluar lagi dan dirinya jatuh tersungkur.

__ADS_1


__ADS_2