
Akara terus melesat dan menghunuskan kedua pedangnya menuju ke arah perut Cor Beton. Yon Beton yang sedang gelisah langsung mengambil tindakan, diulurkan tangannya ke arah mereka, lalu menggenggam.
Crekk!!
Pedang kayu milik Akara tidak disangka menembus tubuh Cor Beton. Semua orang terkejut tidak percaya termasuk Akara, sedangkan Yon Beton malah tersenyum puas.
"Apa yang terjadi, bagaimana bisa?" Akara langsung melepaskan pegangannya pada kedua pedang kayunya, lalu berjalan mundur.
"Anakku!" Ayah Cor Beton langsung berlari menghampiri anaknya dan langsung mengusap darah di perut Cor Beton.
"Selamatkan anakku!" teriaknya kepada para anggota keluarga Beton.
"Tangkap anak itu!" Yon Beton langsung memerintahkan anggota keluarga Beton untuk menangkap Akara. Padahal anak itu sedang kebingungan dan masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Panggil ibunya ke sini!" lanjutnya.
Beberapa saat kemudian, mamanya Akara datang ke kediaman keluarga Beton. Di sana Akara sudah babak-belur, terikat pada tiang kayu dengan tatapan mata kosong.
"Akara!" teriaknya yang langsung berlari menghampiri anaknya.
Tatapan mata kesal, terus terpancar dari para anggota keluarga Beton. Saat itu hanya ada Yon Beton, sedangkan ayah Cor Beton selaku kepala keluarga malah tidak terlihat. Dengan perlahan Yon Beton mendekati mamanya Akara yang tengah melepaskan tali yang mengikat anaknya.
"Benar saja cantiknya luar biasa! Apa kamu tau, apa yang telah dilakukan anak itu?" ujar Yon Beton, namun diabaikan oleh mamanya Akara.
"Akara sst! Hei!" Mamanya Akara memegangi kedua pipi anaknya dan menatapnya dengan serius.
"Tidak apa-apa, tenang saja," lanjutnya dengan suara lembut, lalu memeluknya. Ucapannya itu membuat orang-orang di sana geram.
"Tidak apa-apa katamu!?"
"Hukuman kematian saja tidak cukup untuknya!"
"Anakmu pembunuh!"
"Sudah anak haram, pembunuh!"
Perkataan itu membuat mamanya Akara tersentak, begitu juga Lisa yang tadinya geram.
"Ahh, tamatlah riwayat keluarga Beton," ujar Lisa sambil geleng-geleng kepala.
"Diam!" Yon Beton malah membentak anggota keluarganya, lalu berjongkok di samping mamanya Akara yang tengah memeluk anaknya.
"Aku bisa membantumu.." ucapan Yon Beton terhenti ketika ada hentakan energi dari arah belakangnya.
Blushh!
__ADS_1
"Di mana pembunuh anakku!?" Ayah dari Cor Beton mengeluarkan aura ranahnya, aura 2 bola energi berputar mengitari 5 bintang di belakang pundaknya.
Berbeda dengan aura ranah berbentuk bintang, kini bola energi dikelilingi oleh sebuah lingkaran cincin. Aura bintang tidak bergerak, namun lingkaran energi bergerak searah jarum jam, sedangkan bola energi sebaliknya.
"Tenang saja, dia hanya ranah Mijil, sedangkan aku ranah Sinom. Jadilah selirku dan akan aku bantu menyelesaikan semuanya," ujar Yon Beton dengan penuh percaya diri, seolah-olah dirinya pahlawan.
"Huhh!?" Mamanya Akara malah menatapnya dengan tatapan merendahkan.
Begitu melihat Akara dan mamanya, ayah Cor Beton langsung mengumpulkan energi di kepalan tangannya. Setelah beberapa saat, ia tinju tanah di depannya hingga membentuk ombak tanah.
Dushh!! Busshhh!
Ombak yang jauh lebih besar dari milik Cor Beton, dengan sangat cepat menuju ke arah mereka.
"Hentikan!" Yon Beton ikut mengeluarkan aura ranahnya, aura 3 bola energi dengan 3 bintang. Tanpa mengumpulkan energi di kepalan tangannya, ia memukul tanah di depannya dan membuat ombak tanah milik ayah Cor Beton terhenti.
Dummb! Blarr!
Semuanya terhenti, menyisakan kepulan debu akibat benturan 2 ombak tanah. Saat debu mulai hilang, Akara dan ibunya sudah tidak ada di tempat itu, mereka sudah berada di luar kediaman keluarga Beton. Akara terus berlari sambil menarik tengan mamanya.
"Kejar!" teriak Yon Beton kepada para anggota keluarga Beton.
"Tapi jangan lukai mereka," lanjutnya membuat semua orang bingung.
"Maaf kenapa?"
"Maaf, Akara telah membuat masalah,"
"Hmm masalah? Tidak kok," ujar mamanya dengan begitu riang.
"Kalau saja Akara jadi anak baik, kalau saja Akara tidak mudah emosi, pasti semua ini tidak akan terjadi dan Akara tidak menjadi seorang pembunuh!" teriak Akara sambil menangis, namun terus berlari menuju hutan di pinggir kota.
"Anakku.. Mereka memang pantas mendapatkan itu, kalau kamu tidak membunuhnya, pasti malah kamu yang dibunuh sama mereka," ujar mamanya, malah membuat Akara menatapnya dengan bingung.
"Tapi…" Akara ingin menepis nasihat mamanya, tapi ia teringat kembali kejadian saat Cor Beton memukulinya secara membabi-buta.
"Baiklah!" Akara kini mengusap air matanya, lalu tatapannya tajam saat melihat anggota keluarga Beton yang sedang mengejarnya.
"Tenang saja mama, mama akan aku lindungi!" Akara tiba-tiba berhenti, aura ranah 3 bintangnya muncul bersamaan dengan energi dingin. Dengan cepat terbentuk kristal es runcing di genggamannya, lalu ia lempar ke arah orang yang mengejarnya.
Sussshh! Clek!
Sempat ingin mengaktifkan aura ranahnya, namun kristal es telah menembus tubuhnya. Para pengejar lainnya langsung berhenti karena takut, namun kristal es dengan jumlah banyak langsung menyerang mereka.
__ADS_1
Clek! Clek! Clek!
Belasan anggota keluarga Beton dengan cepat terbunuh oleh kristal es milik Akara.
Tubuh Akara kini diselimuti oleh energi dingin, bahkan tanah yang ia pijak berubah menjadi beku, lalu ada juga asap dingin yang menyebar di bawahnya.
Cuss! Crangg!
Akara tiba-tiba meluncurkan kristal es lagi, bertepatan dengan datangnya Yon Beton, namun langsung ditangkisnya. Anggota keluarga Beton yang lainnya lebih memilih menjaga jarak aman dari Akara, dan menyaksikan saja.
"Benar saja, kau bocah menjadi ancaman yang harus dibunuh!" Yon Beton kini benar-benar geram, berbeda pada saat sebelumnya yang terlihat berwibawa dan tegas.
"Tenang saja bocah, mama cantikmu itu pasti akan aku nikmati dengan baik," lanjutnya sambil menyeringai, namun malah memancing kemarahan Akara.
"Mama, mundur saja, biar aku yang ukhh!" Akara terlempar setelah perutnya ditendang dengan sangat kuat oleh ayahnya Cor Beton yang tiba-tiba muncul.
"Akara!?" Mamanya langsung panik, namun Akara langsung menghentikannya.
"Jangan mama! Biar, Akara saja!" teriak Akara sambil berusaha berdiri, lalu mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.
"Bocah sialan!" Ayah Cor Beton berlari, sambil mengepalkan tangannya yang sudah diselimuti oleh energi.
"Mati kau!" Kepalan tangannya dihantamkan pada Akara, hingga menghancurkan tanah dan membuat sekitarnya bergetar.
Brall!!
Yon Beton langsung tersenyum lebar, sambil menunggu kepulan debu mulai menghilang. Akan tetapi, ia langsung kaget sekaligus panik begitu melihat kristal es besar menembus tubuh ayah Cor Beton. Kristal es yang semula warnanya biru, kini telah diselimuti oleh darah hingga berubah warnanya. Anggota keluarga Beton yang tadinya hanya menonton, kini malah terkena serangan mental.
"Tidak mungkin!"
"Dia benar-benar anak iblis!"
"Lebih baik kabur dari sini!" seru seseorang sambil berlari menjauh, namun dihentikan oleh teriakan Yon Beton.
"Berhenti! Lihatlah keadaannya!"
Akara kini sudah sangat kelelahan, bahkan untuk berdiri saja ia sudah kesulitan.
"Serang secara bersamaan!" teriak Yon Beton sambil mengeluarkan aura ranahnya dan mengumpulkan energi di kepalan tangannya ketika berlari. Belasan anggota keluarga Beton lainnya juga langsung ikut berlari dan mengeluarkan aura ranahnya yang rata-rata masih di bawah 2 bola energi.
"Kemari kalian semua!" Akara berteriak, sambil mengangkat kedua tangannya dan muncul belasan kristal es yang melayang di sekitarnya.
Para anggota keluarga Beton cukup ragu dan gentar kala itu, namun tiba-tiba Akara terhuyung dan belasan kristal es yang ia buat mulai hancur.
Crangg!!
__ADS_1
"Bunuh!" Yon Beton dengan semangat meluncurkan serangannya kepada Akara yang telah tidak berdaya.