
"Di kamarnya." Alice menuntun jalan mama Lia menuju kamar kakaknya, namun segera sadar akan sesuatu dan berhenti, lalu berbalik arah.
"Ada apa cantik?"
"Papa!" teriaknya lagi membuat mama Lia menepuk jidat.
"Papa kamu bersama kak Akara 'kan?" Mama Serin turun dari lantai 2, bersama dengan mama Violet dan mama Rani.
"Kak Akara ditinggal di hutan sendirian, sekarang kakak terluka karena diserang hyena." Alice segera mendekati mamanya dan dengan manja memeluknya.
"Kakakmu tidak akan kenapa-napa, tenang saja." Mama Rani mengusap rambut Alice, lalu berjalan perlahan menuju kamarnya Akara.
"Ayo Lia!" serunya saat berjalan di samping mama Lia.
"Memang aku berniat mengobati anakmu," ujar mama Lia yang kemudian berjalan bersama mama Rani.
Tidak lama kemudian, Akara membuka matanya, menatap adik dan keempat mamanya yang sudah berada di sisinya. Luka cakaran di lengannya juga sudah kering, menyisakan sedikit bekas di kulit tipisnya.
"Kak Akara!" seru Alice yang langsung memeluk kakaknya.
"Syukurlah kalau sudah sadar. Ayo Alice! Biarkan kakakmu istirahat." Mama Lia meraih pundak Alice dan perlahan-lahan menariknya, namun gadis kecil itu tidak mau melepaskan pelukannya.
"Ayo cantik." Mama Serin juga mengajak Alice untuk segera pergi.
"Tidak mau!" Alice hanya menoleh, dengan tetap memeluk kakaknya.
"Alice mau bersama kak Akara, nanti kalau ditinggal, papa akan seenaknya lagi!" lanjutnya, memeluk kakaknya dengan erat, sambil menatap sinis ke arah mamanya. Sangat mirip seperti kucing yang sedang melindungi makanannya agar tidak ada yang merebutnya.
"Hehehe, mama, biarkan saja Alice di sini. Akara juga sudah kembali sehat!" Akara hanya tersenyum lebar, membuat mamanya menghela nafas.
"Alice, jaga kakakmu!" ujar mama Lia sebelum berjalan pergi, namun akara tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tunggu mama!" serunya membuat mamanya berhenti dan berbalik.
"Ada apa?" ujar mama Rani dan mama Lia serempak.
"Hyena yang Akara lawan, kenapa memiliki aura di atasnya? Pemimpinnya berwarna biru, lalu yang lainnya berwarna putih." Akara menanyakan tentang aura saat hyena diselimuti energi hitam dan mengamuk.
__ADS_1
"Lah, ayahmu tidak menjelaskannya?" ujar mama Lia, lalu Akara menjawabnya dengan menggelengkan kepala sekilas..
"Sana jelaskan, biar aku yang masak." Mama Rani menyerahkannya kepada mama Lia, lalu meraih tangan mama Violet.
"Ayo Violet, bantu aku," lanjutnya, kemudian bergegas keluar.
"Mama Serin carikan ayah kalian." Mama Serin kini meninggalkan mereka sessat kemudian.
Mama Lia hanya bisa menghela nafas pasrah, melihat kelakuan para istri dari suaminya.
"Kalian ini seenaknya sendiri!"
"Maafkan mama Rani hehehe." Akara tertawa begitu riang, membuat mama Lia tersenyum sekilas, lalu mengambil tempat duduk yang tidak jauh darinya.
Segera setelah duduk di samping tempat tidur Akara, mama Lia mulai menjelaskan tentang aura pada hyena.
"Semuanya memiliki aura, bahkan para binatang sihir. Aura sebagai tanda dan peringatan tentang kekuatan,"
"Berarti binatang sihir juga memiliki ranah seperti kita?" ujar Akara, sedangkan Alice melepaskan pelukannya, lalu duduk di sisinya.
"Iya, binatang sihir memiliki 5 tingkatan yang bisa dibedakan dengan jumlah lingkaran dan warna auranya,"
"Iya, Alice juga hanya bertemu dengan satu lingkaran warna biru tua," imbuh Alice.
Mama Lia tersenyum, lalu mengulurkan telapak tangannya. Perlahan-lahan muncul energi yang membentuk lingkaran berwarna putih, sama seperti yang ada di atas hyena sebelumnya.
“Aura berwarna putih, dimiliki oleh binatang sihir di tingkatan umum. Mereka cenderung tidak memiliki keahlian dalam menggunakan energi,"
Lalu aura lingkaran di atas telapak tangan mama Lia berubah warnanya menjadi biru tua.
"Biru tua, dimiliki oleh binatang sihir yang berevolusi dari umum menjadi langka. Sebagian besar di tingkat ini sudah bisa menggunakan energi untuk menyerang maupun bertahan,"
Kini muncul lagi aura lingkaran biru dengan ukuran dan pola yang berbeda.
"Pola kedua tingkat langka, sebelum berevolusi menjadi tingkat legendaris berwarna ungu." Mama Lia merubah aura 2 lingkaran biru menjadi satu lingkaran yang perlahan berubah menjadi warna ungu cerah.
__ADS_1
"Setelah evolusi, kembali menjadi satu lingkaran, tapi tetap saja kekuatannya lebih tinggi dari lingkaran biru 2 pola. Di tingkatan ini, binatang sihir memiliki ukuran dan kekuatan yang besar. Pola auranya bisa bertambah menjadi 3, lalu tingkat selanjutnya merupakan tingkat mistis." Mama Lia membuat pola lingkaran ungu lagi hingga berjumlah 3.
Setelah itu ia merubah warnanya menjadi oranye yang bertambah menjadi 4 pola.
"Kalian jangan pernah bertarung dengan khodam di tingkatan ini, kekuatan mereka sangat luar biasa. Kalau melihat ukurannya saja pasti membuat kalian takut, tingkatan mistis bisa lebih tinggi dari pohon. Orang di atas ranah Asmaradana 5 pola saja belum tentu menang, padahal di ranah ini mereka sudah dianggap abadi,"
Penjelasan mama Lia membuat Akara bergidik merinding merasa ngeri, namun segera menyadari sesuatu.
"Abadi!? Berarti tidak akan menua!? Wahh!" Akara begitu bersemangat hingga mulutnya menganga.
"Berarti ayah dan mama juga seorang abadi!? Seberapa kuat!?" lanjutnya dengan mata yang berbinar-binar, diikuti juga oleh Alice.
"Yaaa, bisa dibilang begitu." Mama Lia sedikit ragu dan mengalihkan pandangannya saat menjawab pertanyaan Akara. Proyeksi aura lingkaran berwarna oranye di tangannya juga hilang saat mama Lia menurunkan tangannya.
"Kalau kekuatan, mama Lia tidak bisa bertarung. Oh iya, kamu jangan senang dulu!" Mama Lia berubah menjadi serius saat menunjuk wajah Akara.
"Teknik latihanmu sangatlah susah, kalau tidak menemukan esensi abadi lagi, kamu hanya akan tertahan di ranah Mijil 2 bola energi! Bisa jadi kamu sudah menjadi kakek-kakek baru mendapatkan keabadian, mukamu tidak bisa muda lagi." Mama Lia kini menakut-nakuti Akara dengan wajah yang tersenyum dan lirikan menggoda.
Akara langsung merinding, membayangkan dirinya menua dan menjadi kakek-kakek. Akan tetapi, Alice langsung meraih lengannya dan memeluknya erat.
"Tidak! Kak Akara pasti dengan cepat mendapatkan keabadian!"
Mama Lia hanya bisa tertawa melihat tingkah gadis kecilnya yang terlihat begitu imut di matanya.
"Umum, langka, legendaris, mistis, baru empat, apa yang terakhir?" Akara menggunakan jari-jarinya untuk menghitung.
Mama Lia kembali mengangkat tangannya, lalu muncul cahaya berwarna merah cerah. Cahaya itu perlahan membentuk lingkaran hingga 5 pola.
Akara dan Alice begitu bersemangat setelah melihat aura yang begitu cantik itu. Aura berwarna merah cerah dengan sesekali ada kilatan listrik merah layaknya aura alkemis.
Setelah itu mama Lia perlahan-lahan menaikkan tangannya, seraya melebarnya aura lingkaran. Yang tadinya hanya berukuran selebar piring, kini mulai melebar hingga setengah meter, lalu terus melebar. Saat mama Lia mengangkat tangan sepenuhnya, aura tadi berada tepat di atas kepalanya dan melebar hingga memenuhi ruangan.
__ADS_1
"5 pola lingkaran tingkat Naga!"