Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga
Berlatih dengan Ayah


__ADS_3

"Itu kak, mama sudah menunggu di ruang makan,"


"Oh ayo!" Akara langsung meraih tangan adiknya dan bergegas menuju ruang makan.


Sesampainya di sana, Akara langsung melepaskan tangan adiknya dan berlari ke arah ayahnya. Dengan cepat ia ayunkan pedangnya ke arah tengkuk ayahnya yang sedang duduk.


Tasss!!


Dalam sekejap mata, mama Violet sudah ada di sampingnya dan menangkis pedangnya menggunakan jari. Akara sangat terkejut, namun yang lainnya tetap melakukan aktivitas seakan tidak terjadi apa-apa.


"Tuan Akara, jangan bermain pedang di rumah." Mama Violet secara halus dan perlahan mengambil kedua pedang Akara, lalu mendorong Akara menuju tempat duduk di samping ayahnya.


"Masih terlambat seribu tahun untuk bisa menyerang ayahmu, Akara," ujar ayahnya sambil menengok perlahan ke arah anaknya.


"Tidak peduli! Akan aku lampaui ayah dan menjadi master bela diri terkuat di dunia!" teriak Akara, membuat ketiga mamanya tersenyum, sedangkan ayahnya tertawa.


"Coba saja keluarkan aura ranahmu," ujar ayahnya yang wajahnya melihat ke depan, namun matanya mengintip ke arah Akara.


Merasa tertantang, Akara langsung mengeluarkan aura ranahnya. Energi seperti aliran air di udara terserap dengan cepat ke dalam tubuh Akara, lalu muncul bintang keemasan di belakang pundaknya.


"Hanya satu bintang!?" Akara panik dan juga kesal, ia lalu berdiri.


"Kemarin 3 bintang!" serunya lagi.


"Sudah-sudah." Mama Lia menghentikan Akara sambil membawa mangkuk berisi makanan.


"Makan dulu, nanti mama latih," lanjutnya sambil meletakkan mangkuk di atas meja makan.


"Terima kasih mama Lia, tapi ayah yang harus melatihku!" ujar Akara sambil menunjuk ke arah ayahnya.


"Akara, mama Lia kalau mengajar sangat bagus lho, banyak teknik-teknik yang sangat menakjubkan," ujar mama Rani sembari meletakkan piring berisi nasi ke depan anaknya.


"Benarkah!?" Akara dengan semangat bertanya, namun menunjuk ke arah ayahnya lagi.


"Tapi ayah yang harus melatihku terlebih dahulu!"


"Iya-iya, nanti ayah latih." Ayah Akara meraih jari telunjuk anaknya dan melipatnya, lalu meluruskan jari kelingkingnya dan dikaitkan dengan jarinya untuk membuat janji.



Setelah selesai sarapan bersama, Akara bersama ayahnya keluar menuju halaman depan rumah. Begitu keluar, Akara merasakan udara dingin nan sejuk dengan kabut tipis. Di depan rumah sudah ada halaman dengan latar batu, halaman berbentuk lingkaran dengan diameter puluhan meter. Di pinggir halaman itu, ada rumah yang berjejer mengitarinya.


Terlihat juga beberapa warga yang berlalu lalang, mereka langsung menyapa sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuan Alam,"


"Permisi tuan Al,"


"Ayah." Akara ingin bertanya kepada ayahnya, namun ia terkejut saat berbalik badan dan melihat ke bagian belakang rumah. Segera Akara berlari menuju ke samping rumah.


Mereka ternyata berada di atas pegunungan, tepat di belakang rumahnya ternyata adalah lereng pegunungan. Hamparan hutan dan lembah yang sangat luas terpampang begitu indah dari sana.


"Kerenn!" seru Akara karena kagum memandangi keindahan alamnya.


"Tentu saja, kamu belum melihatnya dari lantai dua rumah kita 'kan? Di sana jauh lebih indah," ujar ayah Al kepada Akara.


"Akara? Sayang? Ke mana kalian?" Mama Lia keluar rumah, namun tidak menemukan keberadaan Akara dan suaminya.


"Di sini," jawab ayah Al, lalu meraih tangan anaknya.


Di samping rumah dengan jarak beberapa meter saja, ada sebuah bangunan yang cukup besar. Mereka segera bergegas ke sana, disusul oleh Alice dan mama lainnya. Bangunan kosong untuk tempat latihan, juga terlihat sebuah altar dengan tungku pemurnian di atasnya.


Akara dan ayahnya saling berhadapan dengan jarak beberapa meter, sedangkan Alice dan keempat mamanya menonton dari atas altar pemurnian.


"Ayo maju!" ujar ayah Al sambil berposisi kuda-kuda bertahan.


Akara kemudian berlari, sambil menenteng kedua bilah pedang kayu miliknya. Diayunkan pedangnya dengan gerakan memutar, lalu disusul oleh tendangan. Semuanya dapat dihindari, bahkan kaki Akara dijegal setelah melakukan tendangan.


Akara tersungkur, lalu melihat ke arah ayahnya dengan kesal, segera ia berdiri dan berlari lagi. Kini Akara mengayunkan kedua pedangnya secara membabi-buta, namun selalu berhasil dihindari oleh ayahnya sambil melemparkan senyuman.


“Fokus pada lawan!" Ayah Al menghindar ke samping dan memukul lengan Akara, namun anaknya itu langsung menebas ke arahnya.


"Arahkan serangan dengan tepat!" Ayah Al hanya mundur satu langkah untuk menghindarinya.


Akara kini tambah kesal, dirinya sepenuhnya dikendalikan oleh emosi.


"Akhhh!" Akara mengayunkan kedua pedangnya dari atas menuju ke arah ayahnya.


Lagi-lagi ayah Al hanya bergeser satu langkah untuk menghindar, lalu menarik salah satu tangan Akara dan menguncinya di belakang tubuhnya. Akara di dorong hingga tersungkur ke lantai dengan satu tangan terkunci.


"Akhh! Sakit! Lepaskan! Jangan gunakan cara pengecut!"


"Ingin menjadi master bela diri terkuat? Kamu saja tidak bisa mengendalikan emosi, masih ingin menjadi master bela diri terkuat!?" ujar ayah Al sambil mengunci tangan Akara karena selalu terbawa emosi.


"Memangnya apa yang harus aku lakukan!? Ranah ayah jauh lebih tinggi dariku!" teriak Akara dengan sangat kesal.


"Terus saja emosi!" Ayah Al menaikkan kuncian di tangan Akara, hingga membuatnya mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Akhh!"


"Mama, kak Akara?" Alice menarik lengan baju mamanya, dan nampak begitu khawatir dengan keadaan kakaknya.


"Tenang cantik, kakakmu tidak apa-apa," ujar mama Serin sambil mengusap kepala anaknya.


"Rani, sudah aku duga kalau ajaranmu asal-asalan, kasihan tuan muda Akara." Mama Violet yang hemat bicara, kini mengungkapkan pendapatnya.


"Akhh, sakit sekali mendengar ucapan itu darimu," jawab mama Rani penuh candaan.


"Kekuatan tidak selalu menjadi yang utama! Kendalikan emosimu, perhatikan lawan dengan baik, lalu pelajari. Jangan malah emosi dan menyerang sembarangan!" Ayah Al melepaskan kuncian tangan Akara, lalu berdiri. Akan tetapi, Akara langsung membalikkan badannya dan menendang kaki ayahnya.


Tendangannya berhasil mengenainya, namun ayahnya tidak bergeming sama sekali.


"Siapa yang menggunakan cara licik?" ujar ayah Al sambil tersenyum.


"Memperhatikan lawan dan melakukan serangan dengan tepat," ujar Akara sambil berusaha berdiri.


"Sepertinya Akara memang harus bersamaku," ujar mama Lia kepada mama Rani.


"Ah, tentu! Tolong ajari anakku dengan baik! Hehehe." Mama Rani malah merasa senang akan hal itu.


Saat menghunuskan pedangnya, Akara dipukul menggunakan siku lengan pada punggungnya.


Buggh! Brakk!!


Akara kembali tersungkur, ia mengingat kembali kejadian saat melawan Cor Beton. Kebiasaannya merunduk sambil menghunuskan pedangnya malah menjadi kelemahannya.


Akara berdiri, lalu menghunuskan pedangnya kembali. Akan tetapi, ia hanya menghunuskan satu pedangnya, sedangkan pedang satunya bersiap mengayun ke arah belakang.


Slepp!!


Tangan Akara ditangkap oleh ayahnya, namun ia langsung mengayunkan pedang yang tadi ia hunuskan. Lagi-lagi pedangnya ditangkap, ia kini kebingungan karena kedua tangannya ditangkap. Tidak kehabisan akal, Akara mengayunkan kakinya ke arah perut ayah Al, membuat ayahnya terdorong dan melepaskan tangannya.


"Sepertinya ayah harus mulai serius," ujar ayahnya yang langsung melesat ke arah Akara dan memukul perutnya.


"Akhh!" Akara merintih kesakitan hingga membungkuk, namun malah memeluk lengan ayahnya.


"Bagian belakangmu." Ayah Al kini menggunakan tangan kirinya untuk memukul punggung Akara.


"Akhh!" Akara berteriak kesakitan setelah terkena pukulan, ia lalu melepaskan pedangnya dan melancarkan pukulan. Dirinya kembali dikendalikan oleh amarah dan memukul dengan berantakan.


Ayah Al hanya menghindar, lalu memukul lengan anaknya. Kegiatan itu terus berulang karena Akara tidak kunjung jera.

__ADS_1


"Mulai sudah," ujar mama Selen begitu mendengar teriakan Akara yang emosi sekaligus kesakitan berkali-kali.


__ADS_2