
"Lalu dimana Rose?"
"Dia kembali ke Pulau Dream, ada masalah yang harus diurus"
Biar suasana tidak canggung, aku meminta Meliodas dan Coyote untuk segera memulai pertarungan.
Sudah lima menit sejak pertarungan dimulai, namun Meliodas dan Coyote belum melakukan gerakan apapun.
"Kakak apa yang mereka lakukan, mengapa mereka hanya saling menatap?" ucap Aeon dengan bingung.
"Aeon, seseorang yang kuat bisa memprediksi serangan musuh hanya dengan mengamati musuhnya" ucap Madaras dengan tenang
POV : Coyote
Aku memusatkan seluruh pikiranku kepada pertempuran ini, karena lawanku ini sangatlah kuat.
Menggunakan tanah sebagai tumpuan untuk mempercepat pergerakanku, aku menebas meliodas mengicar jantungnya, meliodas mengelak dengan melompat ke belakang.
Aku menggunakan timing itu untuk menebasnya kembali bagian lehernya, namun meliodas sangat tangkas, karena masih bisa menghindar seranganku dengan memiringkan lehernya dan memberikan ku tendangan bagian perutku, serangan meliodas terlihat tidak berbahaya, tetapi organ perutku langsung terluka parah, darah segar mengalir di sudut mulutku.
Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan, tapi aku bisa merasakan, bahwa dia melapisi tendangannya dengan sihir.
Sihir apa yang dia gunakan? Gumamku
Meliodas tidak melanjutkan serangannya, padahal aku yakin dia bisa memberiku pukulan mematikan.
Aku menyalurkan seluruh Mana ke dalam pedangku dan memadatkannya, pedangku mengeluarkan cahaya berwarna putih mengelilingi seluruh sekitarku.
Slash..
Menggunakan kedua tanganku aku menebas meliodas, seranganku memberikan dampak yang mengerikan, awan yang semula cerah berubah menjadi gelap.
__ADS_1
Seranganku membelah tanah sejauh satu mil, meliodas mencoba menangkis seranganku, namun dia terlempar kebelakang mencapai lima meter.
Keringat dingin menyelimuti seluruh tubuhku, karena aku melihat meliodas tersenyum padaku, dan dalam senyuman itu ada arti ayo serang aku lagi.
Seluruh tubuhku gemetar ketakutan.
Aku adalah komandan pertama dari kekaisaran Hueco Mundo, aku tidak boleh takut kepada musuhku, aku tidak akan mempermalukan nama kekaisaran Hueco Mundo. Gumamku.
Ketakutan menghilang dari tubuhku.
"Dark Magic"
Meliodas mengepalkan tinjunya dan menyerang bagian dadaku, aku memblokir serangan itu dengan pedangku, namun dampak serangannya membuat terhembas sejauh satu mil.
Kekuatan yang sangat luar biasa. Gumamku.
Seluruh tubuhku sangat sakit, sial sepertinya seluruh organ dalamku hancur.
Ahhhh..
"Lonesome Magic"
(Lonesome Magic : Sihir Kesunyian)
END POV : Coyote
Saya merasa bahwa sihir Coyote tidak sederhana, menggunakan World Eyes dan akhirnya saya mengerti sihir apa yang digunakan Coyote.
"Sihir yang menarik" ucap Shiraori yang berdiri di sebelahku.
"Saudari Shiraori, siapa yang akan memenangkan pertandingan ini?"
__ADS_1
Tiba-tiba seorang wanita berambut pirang dan bertelinga runcing meraih lenganku.
Aku menatap wanita itu bingung.
Sepertinya aku tidak mengenal wanita ini. Gumamku.
"Suamiku, aku sangat menantikan hal ini" wanita itu memelukku dan meneteskan air matanya.
"Kamu adalah wanita Tuanku?" Ucap Shiraori dengan penasaran.
"Ya, aku adalah Sapphire" ucap wanita itu.
"Saudari Shiraori, aku senang bertemu denganmu" tambahnya.
"Saya juga senang bertemu denganmu, nyonya Sapphire"
"Saudari Shiraori, panggil aku Sapphire saja"
"Kalau begitu kamu juga panggil aku, Shiraori saja"
"Baiklah"
..
Serangan Coyote memberikan luka serius bagi meliodas, darah segar mengalir diseluruh tubuhnya.
Namun sebuah senyum senang muncul di mulut meliodas.
"Hellfire Magic"
(Hellfire Magic : Sihir Api Neraka)
__ADS_1
Api hitam menyelimuti seluruh tubuh meliodas, dia memegang pedang dengan kedua tangannya dan menebas Coyote, api hitam membentang sejauh 2 mil jauhnya, udara panas menyapu seluruh Infinite Sword World.
Coyote yang terkena langsung serangan tersebut terluka sangat parah, bahkan dia tidak bisa berdiri dengan benar.