
Istana Kekaisaran Heartfilia, ruangan pribadiku.
Aku berbaring di tempat tidur menggunakan paha Sapphire sebagai bantalku. Sebuah ketukan pintu berbunyi.
"Masuklah" ucap Sapphire.
Seseorang yang muncul adalah Shiraori dan dibelakangnya ada Madaras yang mengikuti sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm, saudari Shiraori dan Madaras apa kalian datang kesini karena merindukan suami kita" ucap Sapphire dengan senyum ambigu.
"Ya" ucap Shiraori dengan singkat.
Madaras hanya diam saja dan tetap menundukkan kepalanya, namun terlihat bahwa telinganya memerah.
"Suamiku, Madaras sepertinya marah padaku, Itu pasti karena aku memonopolimu." ucap Sapphire dengan menyesal.
Aku tidak mengira Sapphire memiliki kepribadian yang agak nakal. Gumamku.
"Madaras, apakah kamu benar-benar marah?" Kataku sambil berjalan ke arahnya dan memeluknya.
"Aku tidak marah" ucap Madaras dengan pelan.
"Madaras, bolehkah aku menciummu?" kataku pelan di telinganya.
"Hmm" ucap Madaras sambil menganggukkan kepalanya.
Tanpa pikir panjang aku menciumnya dan memasukkan lidahku ke mulutnya, dia menyambutnya dengan lidahnya, tanpa sadar aku meraba seluruh tubuhnya yang membuatnya mendesah pelan.
Setelah setengah jam kami menyelesaikan ciuman kami karena kekurangan oksigen, Madaras terengah-engah dan bersandar di dadaku, dan senyum bahagia muncul di bibirnya.
"Hoh, sepertinya kamu bersenang senang Zeldris"
Sebuah suara lelaki tua muncul di udara kosong.
"Suara ini, kamu" aku berkata dengan terkejut.
__ADS_1
Sebuah rantai muncul di udara kosong dan mengikat seluruh tubuhku.
"Bajingan, ini Holy Magic Tool" aku berkata dengan marah.
"Tuan" Shiraori dengan panik menebas rantai itu dengan sabitnya, tapi sabitnya malah patah.
"Suamiku" Sapphire juga menebas rantai itu menggunakan pedangnya yang berakhir pedangnya patah.
"Sayangku, apa yang harus aku lakukan?" Madaras berkata dengan panik sambil berusaha memelukku, namun rantai bertambah di udara kosong dan mengikatku, bahkan untuk mendekatiku pun tidak bisa.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku pasti akan..."
Aku diseret ke celah ruang sebelum menyelesaikan kalimatku.
Bajingan, aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada istri istriku. Aku menggerutu.
"Kamu tidak harus melakukannya, karena kamu mungkin tidak dapat kembali hidup-hidup."
Suara pria tua muncul di udara kosong.
"Kamu tidak usah melakukan hal yang tidak perlu". Suara itu terdengar kembali.
Sebuah pedang seputih salju menebas
pundakku. Pada saat yang bersamaan aku merasa sebuah tangan yang dingin menembus jantungku.
Darah segar mengalir bagian pundak dan dadaku. Aku segera melompat ke belakang untuk menghidar pedang musuh yang bergerak menyerang lagi.
"Cring"
Namun aku lupa bahwa rantai masih mengikat tubuhku.
Pedang menebas perutku dan lubang menganga terbentuk di perutku, darah mulai mengalir dari perutku.
"Haaa...."
__ADS_1
Aku memaksakan diri untuk menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Tanganku mungkin saja sedang berkeringat dan jantungku berdetak dengan cepat.
Rantai ini mengganggu kinerja aliran Manaku. Bahkan aku tidak berdaya menghadapi serangan musuh tanpa menggunakan Mana.
Sebuah tangan dingin menyentuh leherku dan mencekikku.
"Menyedihkan, kamu sangatlah menyedihkan Zeldris"
Seluruh tubuhku terasa sangat dingin dan aku tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku.
..
Tempat di mana tidak ada apa-apa selain serba putih.
"Zeldris, apa yang kamu lakukan berdiam diri seperti orang bodoh"
Sebuah suara membangunkan pikiranku.
Aku melihat ke arah suara itu dan ada seorang laki-laki yang memiliki wajah, tubuh, suara yang sangat mirip denganku, orang lain akan mengira kami kembar, tapi ada satu hal yang berbeda dari aku dan dia, laki-laki itu rambutnya berwarna merah darah.
"Kamu siapa?"
Aku menatap pria itu dengan waspada.
"Aku adalah kamu, kamu adalah aku"
"Apakah kamu berbicara omong kosong, aku memiliki rambut hitam sementara kamu memiliki rambut merah darah"
"Zeldris, apakah kamu lupa bahwa wujudku ini adalah wujudmu ketika kamu mengeluarkan kekuatan garis keturunan ras iblis kunomu"
"Jadi apa yang kamu mau?"
"Tubuhmu"
__ADS_1
Sebuah pedang sudah menembus jantungku.