
Saat aku sedang mengobrol dengan Meliodas, tiba-tiba seorang pemuda tampan berambut biru dan berbaju bangsawan menyela pembicaraan kami.
"Kalian berdua bisa keluar!,aku ingin menggunakan tempat ini"
"Apakah kamu ingin mati" kata Meliodas sambil mengarahkan pedangnya ke leher pria itu.
Pria itu terkejut dengan tindakan tiba-tiba Meliodas, dia gemetar ketakutan dan seluruh tubuhnya bermandikan keringat dingin.
"Kamu lancang..Berani mengacungkan pedang di depan pangeran Aeon" kata prajurit itu dengan marah.
"Aku tidak peduli siapa kamu..seseorang yang berani berbicara tidak sopan kepada Tuanku akan mati"
Meliodas tiba tiba menghilang dan merobohkan seluruh prajurit yang berada dibelakang pangeran Aeon.
Dia muncul kembali di sebelah Aeon dan berkata.
"Sekarang giliranmu"
Meliodas menebaskan pedangnya ke arah horizontal.
Dang..
Pedangnya disambut oleh pedang perak yang indah.
Penggunanya adalah seorang wanita cantik yang memiliki rambut berwarna biru dengan gaunnya berwarna perak.
Setelah menangkis serangan Meliodas, wanita itu terlempar mundur dua langkah, darah menetes dari mulutnya.
Hmm..menarik..bisa menahan tebasan Meliodas. Gumamku.
Wanita ini kuat,tapi sayangnya dia memilih lawan yang salah.
Meliodas adalah lawan yang buruk bagi wanita itu, karena aku sendiri tahu betapa mengerikannya kekuatan Meliodas.
"Wanita!..kamu ingin mati?" kata Meliodas sambil mengayunkan pedangnya ke arah wanita itu.
"Cukup Meliodas" Aku berkata sambil berjalan pergi.
"Baik Tuan"
Meliodas menghentikan serangannya sebelum mengenai wanita itu.
Boom..
Meskipun Meliodas menghentikan serangannya di tengah jalan, gelombang serangan masih berdampak pada kota Jižní, separuh kota hancur.
Wanita itu tercengang melihat ini. Keringat dingin menutupi seluruh tubuhnya.
Bisa dilihat jika serangan itu mengenai dia.Orang bisa tahu dia akan terluka parah.
Pemuda itu juga sama, dia bahkan tidak bisa berdiri, karena seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
"Bantu pangeran kembali ke istana" kata wanita itu kepada prajurit di sekitarnya.
"Baik Permaisuri" kata prajurit itu dengan tegas.
Wanita itu berlari mengejar Meliodas dan Zeldris, namun mereka berdua telah menghilang.
Siapa orang orang tadi. Gumam wanita itu.
Seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa,mengikuti perintah orang lain.Bisa terlihat bahwa orang yang dapat memerintah orang tersebut lebih berbahaya.
__ADS_1
Memikirkannya saja membuat hatinya terasa dingin.
Dia mengejar kedua orang itu untuk meminta maaf,meskipun Kekaisaran Heartfilia memiliki kekuatan yang luar biasa,namun bila memiliki musuh seperti itu akan sangat berbahaya bagi Kekaisaran Heartfilia.
Seseorang mengganggu lamunannya.
"Permaisuri..Permaisuri Sapphire ingin bertemu dengan anda..beliau sudah menunggu di istana Kekaisaran" kata prajurit itu dengan tegas.
"Baiklah..jika kamu melihat dua orang tadi, segera hubungi aku,jangan melakukan hal yang tidak perlu" kata wanita dengan tegas.
"Baik"
Istana Kekaisaran Heartfilia.
"Madaras..aku ingin menonton Festival Senjata Suci..berikan aku tempat yang bagus" Sapphire berkata dengan tenang.
"Sapphire..sangat jarang aku melihatmu tertarik pada hal hal ini" Madaras berkata dengan penasaran.
"Hehehe..ini peristiwa penting bagiku" Sapphire berkata dengan senyum senang.
"Apa maksudmu?" Madaras berkata dengan heran.
"Madaras..aku akan bertemu dengan calon suamiku" Sapphire berkata dengan kegirangan.
"Apakah dia sudah berada di kekaisaran Heartfilia" Madaras berkata dengan ingin tahu.
"Ya..aku cukup yakin bahwa calon suamiku sudah berada di kekaisaran Heartfilia" Sapphire berkata dengan tegas
"Aku juga senang untukmu..Sapphire" Madaras berkata dengan gembira.
"Terima kasih Madaras" Sapphire berkata dengan senang.
"Madaras..Aku baru saja merasakan gelombang kekuatan yang sangat kuat..apakah Festival Senjata Suci sudah dimulai?" tambahnya.
"Kamu bertarung dengan siapa?" Sapphire berkata dengan penasaran.
Aku juga tidak tahu... hal yang jelas bisa kukatakan adalah,aku tidak ingin menjadi musuh mereka" kata Madaras lugas.
Setelah itu Madaras menceritakan konflik yang dialaminya.
"Seseorang yang bisa memerintahnya..pasti memiliki kekuatan lebih mengerikan" Sapphire berkata dengan tegas.
"Hah..aku juga berpikir begitu" Madaras berkata dengan suram.
"Aku terlalu memanjakan Aeon..dan masalah inilah bisa terjadi" tambahnya.
"Jangan khawatir..biasanya seseorang yang memiliki kekuatan sangat kuat tidak terlalu peduli dengan hal-hal sepele" Sapphire berkata dengan menghibur.
"Semoga saja..kalau saja laki-laki itu calon suamimu,bantu aku untuk meminta maaf" kata Madaras sambil bercanda.
"Hehehe..tentu saja aku akan membantumu" Sapphire berkata dengan senyum bahagia.
Aula Pertemuan,Istana Kerajaan Celiana.
"Mikasa..Asuna..Kenapa kalian masih berdiri disana" ucap Arcana sambil tersenyum bahagia.
"Apakah kamu tidak ingin mendekat dengan ibu mertuamu?" dia menambahkan.
"Ibu mertua..saya tidak bermaksud begitu" Mikasa berkata dengan tergesa gesa.
"Saya hanya takut pada ibu mertua" Asuna berkata dengan gugup.
__ADS_1
"Asuna,apakah aku seseram itu?" ucap Arcana dengan menggoda.
"Saya tidak bermaksud mengatakan itu" ucap Asuna dengan panik.
"Hehehe..Kamu sangat imut..ketika malu" ucap Arcana sambil tersenyum.
"Kalian berdua duduklah sini!" ucap Arcana sambil melambaikan tangannya.
"Baik"
"Dimana Zel berada?"
"Ibu mertua..Tuan Zeldris sudah pergi"
"kapan dia pergi?"
"Baru saja..Ibu mertua"
"Hah.. apakah dia membenciku,mengapa dia menghindariku" ucap Arcana sedih.
"Ibu mertua..itu tidak mungkin,Tuan Zeldris tidak mungkin membenci anda" Mikasa berkata dengan jelas
"Tuan Zeldris memiliki masalah mendesak,jadi dia sedang terburu buru" Asuna berkata dengan tegas.
"Hehehe..aku sangat tahu kalau Zel sangat mencintaiku,meskipun dia tidak menunjukkannya" ucap Arcana dengan tegas.
"Apakah masalahnya berbahaya?" tambahnya.
"Ibu mertua, jangan khawatir...itu tidak akan berbahaya." Asuna berkata dengan tegas.
"Syukurlah kalau begitu" ucap Arcana dengan tenang.
"Ibu mertua tidak perlu khawatir..Tuan Zeldris pasti bisa menyelesaikan masalahnya" Mikasa berkata dengan jelas.
"Aku lega kalau begitu..kalian jika punya waktu luang bermainlah ke Dinasti Fernandes" ucap Arcana dengan senyum senang.
"Baik"
"Baiklah kalau begitu..aku akan kembali ke Dinasti Fernandes"
"Hati-hati di jalan ibu mertua"
"Ya" Ucap Arcana sambil memeluk mereka berdua.
..
Akhirnya Festival Senjata Suci sudah di mulai.
Aku dan meliodas berjalan menyusuri jalanan Kota Jižní yang ramai. Riasan kerumunan berbeda dari biasanya.
Orang-orang yang berpapasan denganku di jalan itu semuanya berbeda ras, kebangsaan dan pekerjaan, tetapi mereka memiliki tujuan yang sama yaitu ingin menikmati acara tersebut. Mereka belum pernah berbicara satu sama lain sebelumnya dan mungkin tidak akan pernah, tetapi mereka memiliki rasa persatuan yang aneh.
Begitulah cara kerja sebuah festival.
Aku tidak membenci getaran semacam ini. Bagaimanapun, itu kesenangan tersendiri dari sebuah festival.
"Tuan..saya sudah membeli tiket untuk menonton Festival Senjata Suci"
"Baiklah..semoga saja ada kejadian tak terduga" kataku sambil tersenyum misterius.
Festival berjalan dengan lancar,meski agak membosankan karena hanya menampilkan seseorang yang mencabut sebuah pedang.
__ADS_1
Tetapi orang-orang dari kerajaan Heartfilia menikmatinya, karena jika pedang itu dapat dicabut oleh seseorang, mereka akan menyaksikan lahirnya seorang pahlawan.