
Krack krack
Tiba-tiba pergelangan tangan pria tua itu retak dan menjalar ke siku, dia segera memotong kedua tangannya.
Setelah tangan yang terpotong itu jatuh ke tanah dan seketika berubah menjadi debu, untungnya lelaki tua itu memotong kedua tangannya sebelum menjalar bagian tubuhnya yang lain, jika tidak dialah yang akan menjadi debu, meskipun dia memiliki kekuatan regenerasi yang sangat luar biasa, itu tidak menjamin dia tidak bisa mati. Terlebih lagi, kekuatan yang digunakan Zeldris ini adalah semacam kemampuan kutukan.
"Cih... Aku tidak menyangka kamu menguasai sihir kutukan"
Zeldris menggunakan "Time Return Magic" untuk memulihkan luka lukanya secara instan, pupil matanya yang sebelumnya hitam berubah menjadi ungu.
"Mata itu! kenapa kamu bisa memiliki mata kekacauan?"
Pria tua itu panik secara tidak wajar, ketika dia melihat mata Zeldris, itu karena mata itu adalah keberadaan yang legendaris.
"Tidak perlu kau tau... Aku sudah muak bertarung denganmu, saatnya kau untuk mati! 'Death Chaos' ". Segala tempat berkisaran berjarak lima mil jauhnya dilanda kegelapan.
Pria tua itu dilahap oleh kegelapan, dia hanya bisa mengutuk marah ke pada Zeldris dan menghilang tanpa setitik debupun.
Zeldris mengembalikan matanya ke semula, kemudian dia kembali ke tempat serba putih.
"Zeldris, apa kamu melihatnya... Itulah cara bertarung yang benar" Zeldris berambut merah berkata dengan sombong.
"Aku akui kamu sangat kuat, namun kamu memiliki kelemahan yang signifikan" kataku dengan tenang.
"Hoh, apa itu" Zeldris berambut merah berkata dengan tidak tertarik.
"Cinta" kataku.
"Hah, apakah kamu idiot.. Omong kosong apa yang kamu semburkan" kata Zeldris berambut merah dengan marah.
"Kamu tidak mungkin mengerti, kamu hanya pecahan jiwa yang malang" kataku dengan kasihan.
"Kamu keparat"
Dia menerjangku dengan pedangnya. Aku menangkis serangannya dengan pedang sihirku.
"Zeldris kamu hanyalah sampah, aku akan membunuhmu dan mendominasi tubuhmu selamanya". Dia meluncurkan serangannya bahkan lebih ganas ke arahku, meskipun terkadang aku berhasil menangkisnya, aku masih menerima tebasan yang tak terhitung jumlahnya di tubuhku.
__ADS_1
Aku mencoba serangan tipuan, namun pasti akan selalu diprediksi olehnya, akhirnya aku menyerang hanya mengandalkan kekuatan saja.
"Zeldris apapun yang kamu lakukan tidak akan bisa mengalahkanku... Aku mengetahui apapun yang kamu lakukan, karena kamu dan aku adalah sama"
"Apa kamu yakin berpikir begitu"
Aku meminjam kekuatan kekosongan yang bernama "Precept", kemampuan itu sangat menentang hukum alam, aku menggunakan kekuatan itu untuk mengengkang diriku yang lain.
Menghadapi kemampuan itu, Zeldris berambut merah sangat tidak berdaya.
"Jangan remehkanku Zeldris"
Zeldris berambut merah tiba-tiba dikelilingi oleh Mana yang sangat tebal.
"Nothingness World"
Tiba tiba aku merasa tidak bisa berbuat apa apa, semua organ tubuhku tidak berfungsi.
Apa yang terjadi pada diriku. Batinku.
Sebuah rapat sedang berlangsung yang dihadiri oleh para menteri, pangeran, putri, permaisuri dan penguasa sebagai pemimpin pertemuan.
Arcana yang dengan tenang mendengarkan perkembangan terakhir dinasti fernandes dari menteri keuangan, tiba-tiba mengerutkan kening lalu membanting meja dan berdiri.
“Zel bangun, jangan menyerah, kamu pasti bisa” ucapnya lantang dan penuh semangat.
Ini membuat yang lain bingung.
"Arcana, kamu sangat merindukan Zel ?, sampai kamu tidak bisa fokus dalam rapat" kata Reglia sambil tersenyum.
"Aku memang merindukannya, tapi bukan itu masalahnya, aku bisa merasakan nyawa Zel terancam" ucap Arcana dengan panik.
"Apa"
Suasana rapat langsung khidmat.
"Ibu, jika apa yang ibu katakan itu benar kita harus membantu Zel secepatnya"
__ADS_1
ucap Elise dengan tegang.
"Ya ibu, kita harus cepat menyelamatkannya" ucap Marlene dengan tergesa gesa.
"Kalian tenanglah dulu, Arcana apa kamu yakin, aku meninggalkan sedikit jiwaku untuk Zel, jika dia dalam bahaya aku pasti akan mengetahuinya" kata Reglia dengan tenang.
"Aku juga bingung soal itu, tapi aku yakin Zel dalam bahaya" ucap Arcana dengan tegas.
Tiba-tiba seorang pria tua dengan rambut seputih salju berkata.
"Kalian lebih baik lanjutkan rapat saja, meskipun kalian datang, kalian tidak bisa membantu Zel"
"Apa maksudmu kakek?, bahwa Zel benar-benar dalam bahaya"
ucap Elise dengan cemas
"Ya, dan hanya dia yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri"
"Ayah sepertinya kamu benar-benar tahu situasi Zel" ucap Reglia dengan penasaran.
"Hahaha... Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi aku lebih tahu tentang Zel daripada kalian"
"Ayah mertua, beri tahu aku mengapa hanya Zel sendiri, yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri?" ucap Arcana dengan cemas.
"Zel sekarang bertarung, dengan dirinya sendiri"
"Maksud ayah ?" ucap Reglia dengan bingung.
"Reglia, apakah kamu pernah curiga bahwa Zel menyembunyikan kekuatan sebenarnya"
"Aku.."
Reglia tidak mampu menjawab pertanyaan ayahnya.
Aula rapat sunyi mendengar pembicaraan tersebut.
"Aku tidak peduli tentang hal itu, kalau itu kehendak Zel.. Yang terpenting bagiku adalah Zel baik baik saja.. Ayah dimana Zel berada?.. Meskipun tidak bisa membantunya, aku tetapi ingin di sampingnya" ucap Arcana dengan tegas.
__ADS_1