Percintaan Semalam

Percintaan Semalam
Part 10


__ADS_3

"Kenapa hidupku begini sekali? Dan pria itu, kenapa aku bisa bertemu dengannya dan mengandung benih dari pria sialan itu? Emily sungguh malang sekali nasibmu di tuliskan oleh Tuhan." Kata Emily mengusap kasar wajahnya. Menatap lamat-lamat langit kamar.


"Maafkan aku Nak, aku akan melenyapkanmu besok." Air matanya mulai merembes di pipi mulusnya, lalu mengelus lembut perutnya yang masih rata itu.


Emily sebenarnya tidak pernah menginginkan anak yang di kandungannya ini dibunuh dengan cara aborsi atau dalam bentuk apa pun itu. Namun, dia takut nanti tidak bisa menerima beban lebih berat ke depannya. Lebih baik membunuhnya sekarang sebelum terbentuk menjadi janin.


"Kau harus tegar Emily. Keputusanmu untuk menggugurkannya sudah tepat. Dengan begini dia tidak akan susah sepertimu." Emily semakin yakin untuk menggugurkan calon bayinya.


"Anak ini pasti akan sangat bangga memiliki seorang ibu sepertiku. Karena aku menyelamatkannya dari kemalangan hidup." Kata Emily dengan nada yang sendu. Dia tertawa lepas antara sedih dan bahagia. Matanya memerah menahan tangis. Kini dia berbalik membenamkan wajahnya di bantal. Dia menangis dalam senyap.


Paginya...


Terlihat seseorang pria yang sedang sibuk dengan berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya. Dia memeriksa serta menandatangani satu per satu.


Pelayan pribadi Kenzo yang bernama Jeff, masuk ke dalam ruangannya, membawa selembar kertas coklat. Dia menghampiri Kenzo dengan hati-hati, tidak ingin mengganggu ketenangan seorang Kenzo yang sedang bekerja.


"Tuan, negara Amerika mengajukan permintaan kerja sama dengan perusahaan kita." Kata Jeff dengan hormat.


"Baiklah, kau taruh berkasnya di atas meja. Biar aku pelajari dulu." Kata Kenzo masih sibuk meneliti berkas yang di pegangnya lalu di tanda tanganinya.


"Baik Tuan." Jeff menaruh berkas pengajuan dari negara Amerika di meja Kenzo, lalu mengangkat ponselnya yang berdering. Kemudian menutupnya setelah selesai berbicara.


"Tuan, Nona Elen ada di luar dan minta bertemu dengan Anda." Kata pelayan pribadi Kenzo.


"Bilang padanya aku sibuk." Kata Kenzo dingin masih terus memeriksa berkas yang berumpuk di mejanya tanpa melihat wajah lawan bicara.


BRUK!


Pintu ruang kerja Kenzo tiba-tiba terbuka dengan keras. Seseorang gadis masuk melayang ke dalam menghampiri Kenzo.


"Kak Ken, kakak kok tega sekali tidak mengizinkan aku masuk!" Seru Eleanor dengan nada suara manjanya. Bibirnya mengerucut memperlihat ekspresi imut sedemikian rupa.


"Maaf tuan..! Tadi Nona Elen memaksa untuk masuk." Katanya menunduk takut.


Office Boy yang bertugas di depan ruang kerja, merasa tidak enak telah mengecewakan tuannya itu. Kenzo menatap tajam pada Office Boy-Nya, lalu menatap pada Jeff.


Jeff yang mengerti langsung membawa Office Boy keluar dari ruang kerja Kenzo.


"Ada apa kau mencariku?" Kenzo bertanya dengan suara yang tegas.


"Aku ingin mengajakmu makan siang bareng kak, sambil kita melakukan wawancara dengan salah satu wedding organizer untuk pernikahan kita nanti kak." Kata Eleanor memperhatikan wajah Kenzo tanpa bosan.

__ADS_1


"Aku sibuk." Kenzo berkata dengan ekspresi datanya.


"Tapi kak..." Belum sempat Eleanor meneruskan perkataannya. Sang asisten pribadi Kenzo di perusahaan itu sudah masuk kembali ke dalam ruangan.


"Jeff, ayo berangkat!" Kata Kenzo langsung berdiri dan meninggalkan ruangan kerja yang di ikuti oleh Jeff


Eleanor yang tidak patah semangat, langsung melangkah mengikuti Kenzo dari arah belakang.


"Kak Ken.. Kak.." Kenzo mengikuti langkah Kenzo.


Kenzo tidak mendengarkannya. Dia terus berjalan cepat. Tidak memedulikan Eleanor sedikit pun.


Eleanor yang tidak bisa mengejar Kenzo terjatuh ke lantai. "Aduh.." Keluh Eleanor sakit.


"Kak, aku terjatuh, tolong aku." Teriak Eleanor meminta tolong pada Kenzo.


Kenzo yang mendengar suara teriakan minta tolong dari Eleanor tidak memedulikan panggilannya sama sekali. Kenzo terus berjalan memasuki pintu lift.


"Aku tidak ingin hal seperti ini terulang kembali." Kata Kenzo dingin kepada Jeff.


"Baik tuan." Jeff mengangguk paham.


Jeff kembali mengangguk kepalanya mengerti.


...----------------...


Kenzo melajukan mobilnya kencang. Namun, baru saja lampu merah menyala di depannya.


"Sial!" Gerutunya, memukul setir mobilnya. Kenapa kepalanya sangat sakit sekarang? Memikirkan wanita itu, Emily.


Kenzo menyandarkan punggungnya di kursi mobil, tangannya terlipat di belakang kepala. Dia yang memandang keluar, melihat seorang pria paruh baya bersama putra kecilnya, berumur sekitar tujuh tahun sedang mengamen.


Kenzo terus memerhatikannya saksama, bagaimana pria paruh baya itu menghampiri mobil satu ke mobil lainnya sambil menggendong putra kecilnya di punggungnya.


"Apa ini keputusan yang benar? Apakah aku harus menggugurkan anakku itu?" Batin Kenzo bertanya pada dirinya sendiri.


"Arghh..." Kenzo kembali memukul setir mobil. Kenapa dia menjadi bimbang seperti ini? Mana tembok? Rasakan tinjunya.


Kini Kenzo dilanda dilema antara menggugurkan kandungan Emily atau tidak. Sebab dia pun telah di jodoh kan oleh dengan wanita pilihan Mamanya. Namun, Kenzo tidak pernah mencintai wanita iitu.


Hingga pengemis itu sampai di mobil Kenzo. Pria itu segera tersandar dari lamunannya, memberikan beberapa lembar uang kertas.

__ADS_1


“Terima kasih Tuan, ini terlalu banyak.”


“Terima saja, belikan makanan yang enak untuk putramu.”


"Terima kasih banyak tuan, kami sangat bersyukur sekali. Semoga saja, tuan diberikan kebahagiaan untuk keluarga tuan, mudahkan segala urusan."


"Amiin." Kenzo mengaminkan setiap ucapan dari pengemis itu.


...----------------...


Emily sudah rapi, hari ini dia rencananya akan pergi ke rumah sakit untuk menggugurkan benih yang ada di rahimnya. Hidupnya sekarang benar-benar ambyar.


"Ya Tuhan, ambil saja nyawaku sekarang. " Emily berkata pasrah dengan keadaannya kini.


"Tuhan akan mengambil nyawamu setelah kau menggugurkan kandunganmu itu." Kata Kenzo dengan suara baritonnya memasuki kontrakannya


"Kenapa kau bisa di sini?" Tanyanya kaget.


"Apa kau tidak ingat dengan perjanjian kita?"


"Tentu saja aku ingat. Aku sudah siap kok.” Kata Emily mantap tanpa keraguan sedikit pun.


°


°


°


°


°


Bersambung...


Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.


Sekian dulu ya.


Sampai jumpa di part selanjutnya.


Bye.

__ADS_1


__ADS_2