Percintaan Semalam

Percintaan Semalam
Part 11


__ADS_3

"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanyanya kaget.


"Apa kau tidak ingat dengan perjanjian kita?"


"Tentu saja aku ingat. Aku sudah siap kok.” Kata Emily mantap tanpa keraguan sedikit pun.


Kenzo kaget melihat ekspresi Emily yang biasa-biasa saja, sama sekali tidak ada rasa bersalah sedikit pun.


Namun, itu sebuah kesalahan besar. Hati manusia siapa yang tahu? Bukankah akting terbaik manusia adalah berpura-pura selalu baik-baik saja setiap waktunya?


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." Ucapnya berjalan keluar.


Wanita itu berdiri, segera mengekori Kenzo dari belakang.


Sama seperti sebelumnya. Tak ada sepatah kata pun yang mereka berdua bicarakan di dalam mobil. Mereka berkelana dengan pikirannya masing-masing.


"Apa kau yakin akan melakukan ini?" Tanyanya, memecah keheningan.


Emily terdiam. Menatap keluar melalui kaca mobil, mengambil napasnya lalu menghembuskannya teratur.


"Ya aku sangat yakin." Jawabnya.


"Tidak tegakah kau melakukan hal itu?"


"Tidak." Katanya datar, masih menatap keluar melalui kaca mobil.


"Apa kau tidak akan merasakan perasaan bersalah setelah melakukan hal ini?" Tanyanya lagi.


"Sialan!" Umpatnya dalam hati.


"Apa dia masih meragukan keseriusanku?" Batinnya bertanya. Emily membalikkan kepalanya, menatap lamat-lamat pria yang lumayan tampan itu, tapi ternyata memiliki sifat yang kejam juga dingin.


"Cukup Emily. Kau jangan pernah tergoda oleh ketampanannya." Batin Emily.


"Apa mungkin dia sedang mengagumi wajah tampanku." Kenzo membatin. Tersenyum kecil, penuh percaya diri.


"Ekhem!" Kenzo terbatuk pelan, "Kenapa kau malah bengong menatapku? Aku bertanya padamu."

__ADS_1


Emily tersandar dari lamunannya sekian detik.


"Apa yang kau katakan tadi?"


"Lupakan saja, kita sudah sampai. Cepat turun."


"Apa? Kenapa secepat ini?" Batin Emily. Kenapa rasa takut mulai menyerangnya tiba-tiba seperti ini? Wajahnya juga mengeluarkan keringat dingin.


"Kenapa? Apa kamu sudah mulai takut? Nyalimu sudah cuil ya." Kenzo menyeringai.


"Tidak!" Emily turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam.


...----------------...


Ruangan Aborsi.


Seorang dokter saat ini sedang duduk di hadapan mereka. Dia tidak percaya jika pasangan di depannya ingin menggugurkan bayinya.


"Apa kalian yakin akan melakukan ini?" Tanya dokter itu memastikan.


Sang dokter menghela napasnya pasrah.


"Baiklah, kami akan segera melakukannya. Tuan, Anda bisa tunggu di luar."


Kenzo mengangguk, sementara Emily dibawa oleh suster untuk mengganti bajunya dengan baju operasi.


Kenzo menunggu di ruangan tunggu, menyandarkan punggungnya di kursi lalu memejamkan matanya, kedua tangan ia lipatkan di dada.


"Ayah." Terdengar suara seorang anak kecil yang memanggil ayahnya.


"Ayah, jangan bunuh aku!"


"Ayah, aku ingin bermain bersamamu."


"Ayah, hentikan semua ini, aku tidak mau mati!"


"Ayah, biarkan aku hidup!"

__ADS_1


"Ayah, tolong aku! Mereka akan membunuhku!"


Kenzo membuka mata, napasnya tersengal dan keringat dingin mengucur di wajahnya. Dia terdiam sesaat, memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya.


"Apa itu suara dari anakku?" Gumam Kenzo, bertanya pada dirinya sendiri.


"Tidak! Aku tidak boleh membunuh anakku. Dia tidak salah, hanya saja kehadirannya tidak tepat." Kata Kenzo, segera berlari menuju ruangan Aborsi.


Kenzo mendobrak keras pintu ruangan operasi.


BUGH!


Suara pintu yang terbuka keras karena dobrakkan Kenzo menggema di sudut-sudut ruangan. Orang-orang di dalam ruangan, refleks menatap ke arah pintu, melihat Kenzo yang kacau.


Kenzo memegang kedua lututnya, napasnya terengah-engah, seperti seorang yang habis lari maraton.


"He-henti-kan semua ini! Jan-gan bunuh anak-ku!" Kenzo berkata terengah-engah. Napasnya seakan tersedat di kerongkongan.


°


°


°


°


°


Bersambung...


Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.


Sekian dulu ya.


Sampai jumpa di part selanjutnya.


Bye.

__ADS_1


__ADS_2