
"Aku rasa pernikahan kita tidak mungkin dilaksanakan..."
Eleanor tersentak kaget, menautkan keningnya hingga terbentuk sebuah garis kerutan di tengah.
"Kenapa kakak tiba-tiba mengatakan ini, padaku..?"
"Karena aku tidak mencintaimu. Aku tidak bisa menikah denganmu dengan keadaan terpaksa..."
Eleanor menatap Kenzo dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kakak ingin mengerjaiku? Ini sangat tidak lucu kak..."
"Aku serius." Kenzo berkata dengan cepat.
"Aku masih tidak percaya, aku yakin kakak hanya bercanda dan ingin mengerjaiku, kan..?"
"Aku serius. Aku tidak pernah bermain-main dengan apa yang aku katakan..."
"Itu benar! Kakak tidak pernah membual dengan ucapannya." Emily membatin.
"Kenapa kakak seperti ini? Bukannya kakak sendiri, yang bilang akan menikah denganku walaupun kakak tidak mencintaiku..?" Matanya kini berkaca-kaca, siap tumpah kapan saja.
"Mungkin itu hanyalah keterpaksaan semata karena perjodohan kita.."
Mata Eleanor kini mengeluarkan air matanya dengan deras.
"Kuharap kau menghargai keputusanku.."
"Ini semua demi kebaikan kita berdua, karena kalau pernikahan ini tetap dilangsungkan, kita akan sama-sama tidak bahagia.."
Eleanor menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tapi aku mencintaimu, kak. Sangat mencintaimu. Toh, kakak juga nggak punya kekasih..."
"Aku mempunyai kekasih atau tidak, itu tidak akan memengaruhi apa pun, karena aku memang tidak bisa menikahimu..."
"Aku tidak mencintaimu, kalau kita tetap memaksakan untuk bersama maka aku akan membuatmu menderita karena aku tidak pernah mencintaimu..."
"Ini tidak mungkin..."Eleanor semakin menangis terisak.
Mereka terdiam beberapa saat, Eleanor masih sibuk dengan air matanya yang terus saja mengalir dengan deras di pipinya.
__ADS_1
Hingga akhirnya tiba-tiba Eleanor memegang tangan Kenzo.
"Kakak jangan terburu-buru membuat keputusan dengan membatalkan pernikahan kita. Kita bisa mengundurnya dulu kak..."
"Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada kedua orang tuaku, aku hanya akan mengatakan kalau pernikahan kita akan di undur, karena kesibukan kakak..." Eleanor berdiri, berusaha menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.
"Aku pergi dulu kak." Eleanor berusaha tersenyum.
Kenzo segera berdiri.
"Tunggu.." Kenzo mencoba menahan Eleanor untuk pergi, namun sayang Eleanor dengan segera meninggalkan kamarnya.
"Ah..." Kenzo melayangkan tinjunya ke udara. Dia memijat kepalanya yang mulai pusing.
...----------------...
Eleanor melajukan mobilnya dengan sangat kencang, air mata terus mengalir di pipinya, perkataan Kenzo membuatnya sangat terguncang hebat.
Eleanor kemudian menghentikan mobilnya di jalanan kosong, menelungkupkan wajahnya pada kemudi, menangis sejadi-jadinya.
"Apa hanya karena itu dia membatalkan pernikahannya? Aku masih tidak percaya. Aku harus mencari tahu alasan yang sebenarnya..."
Eleanor menghapus air matanya. Menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Jika kakak mencampakkanku karena seorang wanita, aku akan membuat perhitungan dengan wanita penggoda itu..."
...----------------...
Keesokan harinya..
Emily yang sedang bekerja di ruang kerjanya terhenti karena ponselnya berdering. Seseorang meneleponnya, orang itu adalah Kenzo.
"Ada apa lagi?" Gerutu Emily, segera mengangkat panggilannya.
"Ke ruanganku sekarang!" Perintah Kenzo langsung mematikan ponselnya.
Emily yang baru saja ingin mengatakan sesuatu terhenti karena mendengar bunyi ponsel yang terputus. Dia melihatnya, ternyata Kenzo sudah mematikan sepihak panggilannya.
"Pria sialan!" Umpat Emily pada teleponnya. Dia segera menuju ke ruangan Kenzo.
Emily masuk ke ruangan Kenzo dengan wajah kesal. Dia berkali-kali menjulurkan lidahnya pada Kenzo yang tengah sibuk memeriksa berkas di mejanya.
__ADS_1
"Ada apa kau memanggilku, kemari?" Kata Emily tak ingin basa basi.
Kenzo menghentikan kegiatannya memeriksa berkas itu semua, dia segera berdiri, mendekati Emily lebih dekat.
"Kau jangan macam-macam denganku! Aku akan berteriak!" Emily refleks memundurkan tubuhnya ke belakang.
Melihat ekspresi ketakutan dari Emily membuat Kenzo ingin mengerjainya. Dia semakin mendekati Emily, hingga tubuh wanita itu mentok di belakang, tidak bisa mundur lagi.
"Kau mau apa?" Tanya Emily cemas.
Kenzo segera mengurung Emily dalam kurungan lengan kokohnya. Dia mendekati wajah Emily semakin dekat, dengan refleks Emily memejamkan matanya.
Kenzo tertawa tipis. “Aku hanya ingin mengatakan padamu jika pernikahan kita akan di langsungkan hari ini." Kenzo melerai kurungannya.
Emily menjadi malu sendiri karena ulahnya. Dia mengira jika Kenzo ingin menciumnya tapi ternyata tidak, dia hanya ingin memberitahukan hari pernikahannya. Apa? Hari pernikahan?
Emily tersentak kaget menyadarinya.
"Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya Emily penasaran.
"Aku belum memberitahukannya. Aku berniat akan memberi tahukan selepas ini...”
"Baiklah, terserah kau saja." Emily tidak ingin ambil pusing. Biar Kenzo saja yang memikirkan itu.
"Oke! siapkan dirimu." Kata Kenzo dengan mantap.
°
°
°
°
°
Bersambung...
Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.
Sekian dulu ya.
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Bye.