
"Lepaskan! Aku tidak sudi bekerja dengan pria sepertimu." Emily mencoba melepaskan cengkeraman itu.
"Kenapa?" Tanya Kenzo datar.
Kenzo semakin mendekati Emily. Emily ketakutan, sebagai gerakan refleks Emily memundurkan tubuhnya.
"Apa gara-gara aku tidak bertanggung jawab saat itu?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi, aku rasa ja lang sepertimu sangatlah munafik. Tidak mau menerima bayaran dariku saat itu." Kata Kenzo merendahkan.
"Jaga ucapan Anda." Emily menatap marah Kenzo.
"Dengar baik-baik, bukan telinga Anda lebar-lebar, aku bukan ja lang." Pekik Emily.
"Dan satu lagi. Semua uangmu itu tidak akan bisa membeli tubuhku ini dengan mudah!" Kata Emily tidak terima kalau tubuhnya disamakan seperti barang, yang mudah dibeli dengan uang.
"Ck! Rupanya kau tidak mengakui dirimu ja lang ya? Kenapa kau ada di tempat itu! Wanita baik-baik tidak akan pernah ke tempat seperti itu. Tempat itu hanya untuk para ja lang yang mencari mangsanya." Kata Kenzo tidak yakin jika Emily adalah perempuan baik-baik. Karena banyak di luar sana perempuan yang memakai wajah palsu di balik wajah polos yang di tampilkannya.
"Aku di jual oleh ibu tiriku di tempat itu." Emily memberitahu yang sebenarnya pada Kenzo.
"Omong kosong. Aku tidak percaya hal itu." Kata Kenzo dengan ketusnya, masih tidak percaya seratus persen.
"Percaya atau pun tidak itu urusanmu. Aku telah menyampaikan yang sebenarnya." Kata Emily pasrah.
"Sebaiknya aku pergi dari sini, aku tidak ingin mempunyai urusan dengan pria sepertimu." Emily menghempaskan tangan Kenzo yang mulai longgar dengan kasar. Dia segera bergegas keluar dari ruangan direktur utama itu.
"Tunggu." Kenzo kembali menyusul Emily.
Emily dengan langkah gontainya berjalan menuju membuka pintu. Namun, sekali lagi dengan cekatan Kenzo menariknya cepat hingga terjatuh ke dalam pelukannya.
DEG!
Kini mereka berdua saling bertatapan dalam satu garis yang lurus. Emily bisa merasakan embusan napas Kenzo mengenai wajahnya.
Kenzo yang melihat manik mata indah dari Emily tampak takjub, dia sangat menyukai mata seperti itu. Kenzo seakan tersihir, dia terus menatap mata indah milik Emily tanpa berkedip sedikit pun.
Emily segera melepaskan dirinya dari Kenzo. Pria itu segera tersandar, memaki dirinya sendiri yang telah terbuai oleh Emily. Kenzo yang tidak ingin Emily kabur kembali memegang pergelangan tangannya.
"Dengar! Kau tidak bisa pergi begitu saja, kau telah menandatangani kontrak kerja itu. Kau tidak boleh pergi sebelum aku memecatmu..."
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin bekerja dengan pria sepertimu ini!" Kata Emily mencoba melepaskan tangannya.
"Jangan pernah mengabaikan perintah Kenzo Kabeto atau hidupmu akan hancur dalam sekejap!" Kenzo memperingati Emily. Dia tidak main-main dengan perkataannya.
__ADS_1
"Mau apalagi hah?! Apa kau tidak puas telah merenggutnya dariku dan sekarang ingin menghancurkan hidupku lebih buruk lagi?!" Tanya Emily. Menatap tajam mata Kenzo yang juga menatapnya tak kalah tajam dengan mata elangnya itu.
"Cepat lepaskan tanganmu, aku ingin pergi." Berontak Emily kembali.
"DIAM! Aku tidak ingin siapa pun yang menolakku." Kenzo merapatkan tubuh Emily di tembok, mengurungnya dengan kedua lengan kokoh itu.
Kini tubuh Emily menempel di dinding. Wajahnya berubah pusat pasif menatap Kenzo, dia menebak-nebak apa yang akan di lakukan oleh pria ini padanya.
"Apa yang ini kau lakukan?" Kata Emily tampak cemas dan ketakutan melihat ekspresi Kenzo yang seperti ingin memakannya.
Kenzo tersenyum melihat wajah ketakutan wanita yang berada di hadapan nya ini, dia perlahan mendekatkan wajahnya, sehingga deru napasnya terdengar jelas. Perlahan. Kenzo beralih me lu mat bibir Emily dengan lembut. Seakan-akan bibir itu sudah bagaikan candu baginya.
"Mmmmphhhh.." Mata Emily membulat sempurna saat Kenzo me lu mat bibir tanpa sepertujuannya.
"Lepa... Mmmmphhhh.." Emily berusaha melerai tautan itu.
Kenzo terus me lu mat bibir itu tanpa memedulikan Emily sama sekali. Dia sudah di buat gila oleh bibir Emily yang seksi lagi manis itu.
Mmmmphhhh~
Emily terus berusaha melerai ciuman itu, dia memukul-mukul dada bidang milik Kenzo.
"Lepaskan aku brengsek." Umpat Emily dalam hati.
"Hei, kau mau ke mana? Aku belum selesai melakukannya..." Kenzo tidak terima melihat tawanannya kabur begitu saja.
"Persetan." Umpat Emily sambil berlari. Dia terus berlari mencari toilet, dia sudah tidak tahan lagi karena perutnya terasa bergejolak ingin di muntahkan.
"Tunggu." Kenzo segera menyusul Emily.
Emily yang sudah berada di toilet memuntahkan semua isi perutnya.
"Huek.. Huek.." Emily memuntahkan semua cairan bening di perutnya.
"Huek.... Huek... Huek..."
"Kenapa ini sering terjadi padaku? Apa aku harus memeriksanya ke dokter?" Batin Emily cemas.
Kenzo yang sudah menemukan Emily langsung mendekatinya. "Di sini aku rupanya, kau ingin kabur dari pekerjaanmu itu. Iya, kan?" Tanya Kenzo.
"Tidak, aku tidak sepecundang itu." Jawab Emily di sela-sela muntahnya.
"Lalu kenapa kau mendorongku?" Tanya Kenzo.
__ADS_1
Kenzo tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Emily terhadapnya. Namun, sebelum Emily menjawabnya. Wanita itu sudah kembali memuntahkan cairan bening itu lagi.
"HUEK! HUEK!"
"Apa yang terjadi denganmu, kau benar-benar sakit?" Tanya Kenzo memperhatikan Emily.
"Hm. HRD itu tidak becus sekali. Seharusnya dari awal dia tidak menerima wanita berpenyakitan sepertimu ini." Ucap Kenzo tidak peduli dengan keadaan Emily.
Namun, tiba-tiba pandangan Emily menjadi buram, dia mendengar perkataan Kenzo samar-samar. Hingga dia kehilangan kesadarannya, tubuhnya ambruk seketika di lantai.
Kenzo segera mendekati Emily yang terbaring tak berdaya di lantai.
"Hei, bangun. Di sini bukan tempat untuk tiduran." Kata Kenzo yang sudah berjongkok di depan tubuh Emily.
"Hei, apa yang terjadi denganmu?" Kenzo mulai cemas, dia menepuk-nepuk pipi Emily.
"Hei, bangun. Kau jangan bercanda." Kenzo sudah sangat khawatir karena tidak mendapatkan respons apa-apa dari Emily.
"Apa dia benar-benar pingsan?" Batin Kenzo mulai panik bukan kepalang. Dia segera mengecek urat nadi Emily.
"Dia benar-benar pingsan. Dasar ja lang. Menyusahkan aku saja!"
Kenzo segera membopong tubuh itu ala bridal style, membawanya menuju mobil. Beberapa karyawan melihatnya dengan heran. Baru kali ini bos dinginnya membopong tubuh wanita, juga mereka bertanya tanya apa hubungan bosnya dengan wanita itu?!
°
°
°
°
°
Bersambung...
Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.
Sekian dulu ya.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Bye.
__ADS_1