Percintaan Semalam

Percintaan Semalam
Part 13


__ADS_3

Kenzo mengajak Emily singgah di sebuah restoran untuk membicarakan tentang hal yang akan dilakukan selanjutnya. Pria itu memilih restoran yang cukup sepi agar tidak diketahui oleh banyak orang. Jika di restoran terkenal mungkin paparazi ada di setiap sudut.


"Aku akan segera menikahimu, untuk tanggalnya aku akan mengabarimu kembali..." Kenzo berkata serius, tanpa keraguan sedikit pun.


Mendengar itu membuatnya tersedak makanan, "Uhuk.. Uhuk.." Emily meraih air putih dan segera meneguknya.


"Menikah?" Tanya Emily kaget.


"Ya." Jawab Kenzo santainya.


Emily menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan ucapan yang dilontarkan direktur utamanya ini.


"Aku kira perkataannya hanya buaian semata, tapi kenapa dia kini tampak serius sekali mengatakannya, lagi?" Emily membatin.


"Tidak!" Katanya singkat.


"Coba Anda pikirkan? Bagaimana tanggapan karyawan dikantor, kalau kau menikahi sekretarismu sendiri? Apalagi ini baru sehari-dua hari aku bekerja di perusahaanmu, yang ada aku akan di cap sebagai wanita gatal..." Emily menatap Kenzo lekat.


"Kita akan menyembunyikan pernikahan ini dari pihak kantor, publik, aku jamin orang-orang tidak akan mengetahuinya..." Jawabnya, membalas tatapan Emily.


"Apa kamu yakin?" Emily terlihat bimbang.


"Iya." Jawab Kenzo dengan cepat.


"Tapi, kau bukanlah pria idamanku..."


"Sampai anakku lahir..." Ucapnya cepat.


"Setelah anakku lahir mari kita bercerai." Ucap Kenzo datar dengan tatapan kosongnya, mengaduk-aduk minuman.


Emily terlihat kaget, "Cerai? Tidak! Aku sangat benci hal itu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku." Emily berkata, menggelengkan kepalanya tegas tidak terima.

__ADS_1


"Tentu saja, kau bisa menikah sekali hanya denganku, lalu menjadi jandaku seumur hidupmu..."


"Aku hanya ingin anakku lahir ke dunia ini, itu saja, aku mohon kerja samamu..." Sambungnya.


Emily termenung, menundukkan kepalanya. Pria yang berhadapan dengannya ini terlalu egois tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun.


"Bagaimana, apa kamu setuju? Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan kamu tidak usah bekerja lagi..."


"Aku akan bertanggung jawab penuh padamu..."


Emily masih terdiam.


"Kalau kau diam, berarti tandanya setuju!" Putus Kenzo. Membuat Emily mengangkat kepalanya.


"Mana bisa begitu..." Perkataannya dipotong cepat oleh Kenzo.


"Aku tidak menerima penolakan dari siapa pun dan dalam bentuk apa pun." Kata Kenzo dingin.


"Tapi aku masih ingin bekerja.."


"Baiklah, terserah kamu saja.." Kata Kenzo.


"Aku akan bicara dengan kedua orang tuamu setelah ini." Tambahnya.


"Kedua orang tuaku sudah tiada..." Emily berkata, menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis tersedu, merindukan kehangatan orang tuanya.


"Aku hanya memiliki ibu tiri. Tapi, kau tidak perlu memberitahunya. Dia bukan siapa-siapaku." Katanya di sela-sela tangisnya.


Kenzo menghela napas dalam, dia sadar telah membuat Emily sedih dengan perkataannya.


"Maafkan aku.." Kenzo mendekati Emily.

__ADS_1


Kenzo memeluk Emily, membiarkan wanita itu menangis di dalam dadanya.


"Maafkan aku, bukan maksudku membuat kamu sedih dengan mengingatkanmu pada mendiang kedua orang tuamu.."


Emily membenamkan wajahnya di pelukan Kenzo, menangis terisak-isak.


"Kumohon, berhentilah. Jangan menangis lagi..." Bisik Kenzo.


Emily melepaskan pelukannya, mencoba menghapus air matanya, ketika Kenzo ingin membantunya, dia menepis tangan itu dengan kasar.


"Aku tidak apa-apa. Aku tidak perlu rasa kasihanmu." Kata Emily datar.


°


°


°


°


°


Bersambung...


Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.


Sekian dulu ya.


Sampai jumpa di part selanjutnya.


Bye.

__ADS_1


__ADS_2