Percintaan Semalam

Percintaan Semalam
Part 6


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Emily berhasil melewati hari-hari terpuruknya seorang diri. Wanita itu sadar jika mengakhiri hidup bukanlah jalan yang terbaik. Melainkan menerima semua yang sudah terjadi dengan tangan terbuka. Berdamai dengan segala hal yang datang dan pergi.


Hari ini juga bertepatan dengan hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang sangat terkenal. Setelah beberapa minggu menunggu, akhirnya Emily di terima juga sebagai seorang sekretaris.


Dua minggu yang lalu pun dia sempat di interview. Namun, saat itu belum ada kepastian dari pihak HRD, dan kemarin malam Emily di hubungi, dia dinyatakan lolos seleksi dan dapat mulai bekerja hari ini.


Emily dengan semangat memoleskan wajahnya dengan Make Up yang natural.


"Ayo Emily kau pasti bisa." Ucapnya, menyemangati dirinya sendiri di balik cermin. Ada perasaan gugup yang menyeruak di hatinya.


Tiba-tiba saja Emily merasa perutnya bergejolak hebat, seakan ada sesuatu yang ingin loncat keluar, segera dia berlari menuju toilet.


"Hoek! Hoek!" Emily memuntahkan semua isi perutnya.


"Tidak, aku tidak boleh sakit. Ini hari pertamaku kerja." Emily berusaha menguatkan diri.


Akhir-akhir ini Emily selalu muntah-muntah di pagi hari. Entah apa penyebabnya. Dia belum tahu pasti dan belum mengeceknya ke dokter dikarenakan tidak mempunyai biaya.


Kalian harus tahu juga, jangankan biaya untuk pergi memeriksa kesehatan ke dokter, untuk makan sehari-harinya saja kadang tidak ada.


"Aku harus segera pergi sebelum terlambat, ini hari pertamaku bekerja..."


"Aku tidak ingin membuat kesan pertama yang buruk. Ayo Emily kamu pasti bisa." Dia kembali menguatkan dirinya.


Emily berangkat dengan mengendarai motor beat merah bekas yang dia beli dari sisa uang tabungannya. Motor itu masih layak di gunakan.


"Aku pasti terlambat kalau begini..." Cemas Emily. Karena jalanan pagi itu super padat sekali oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Satu Jam Kemudian...


"Kenapa kau sangat telat sekali." Hardik Angga.


"Maaf Pak. Kondisi kesehatanku kurang fit, jalanan juga macet." Emily menjelaskan semua keadaan yang terjadi.


HRD itu nampak kesal, bibirnya kumat-kamit mengikuti gerakan bibir Emily.


"Asal kamu tahu ya, aku tidak peduli dengan apa pun alasanmu, mau kau mati sekali pun bukan urusanku." Katanya dingin menatap muka Emily dengan sangar.


"Kamu tahu kan ini hari pertamamu? Hari pertama saja sudah begini bagaimana selanjutnya? Lebih baik kau pulang saja perusahaan kami tidak membutuhkan orang-orang sepertimu." Katanya, melangkah pergi.


Emily segera berlari menghadang di depan.


"Pak.. aku mohon Pak, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini." Emily memohon, memegang tangan sang HRD, dengan cepat HRD itu menghempasnya kasar.

__ADS_1


"Pak maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi..." Ucapnya memelas, memohon belas kasihan.


" ya udah. Ingat! Jangan diulangi." Angga memperingati.


"Sekarang kamu minta maaf ke ruangan direktur utama, ikuti aku. Aku akan mengantarkanmu ke ruangannya." Kata Angga menyuruh Emily mengekorinya.


Emily mengangguk mengiyakan. Dia mengekori pria itu, matanya melihat sekeliling. Perusahaan itu sangat besar sekali membuatnya menatap takjub, desainnya sangat klasik dan berkelas.


"Pasti orang pemilik perusahaan ini sangat berpengaruh." Batin Emily.


...----------------...


Kenzo sudah menunggu sejam di ruangannya, kenapa belum ada tanda-tanda sekretaris barunya yang datang.


"Dasar tidak becus! Mencari seseorang saja tidak bisa." Gerutu Kenzo kesal, segera menelepon kepala HRD Nya.


"Bagaimana ini? Katanya sekretaris baru saja kerja hari ini, mana buktinya?!"


"Maaf tuan, hari ini dia agak terlambat dan sekarang kita sedang menuju ke ruangan tuan." Kata Angga di seberang sana dengan nada takut, dia tahu pasti sifat tuannya yang tidak suka dengan orang yang molor, tidak menghargai waktu.


"Ck! Kenapa kau tidak memecatnya di tempat?" Ketusnya.


"Perusahaan kita tidak butuh orang-orang seperti itu..." Tambahnya lagi.


"Mungkin akan sangat susah mencari yang baru lagi." HRD mencoba memberi pengertian tuannya. Sudah ribuan sekretaris di seleksi tapi yang memenuhi kriteria mereka hanya Emily.


...----------------...


Suara pintu diketuk dari luar, Kenzo yang sedang duduk di singgasananya menyuruh orang di balik pintu untuk masuk.


"Masuk!" Kata Kenzo datar, sibuk memeriksa beberapa berkas di atas mejanya.


Emily masuk dengan menunduk. Dia sangat takut karena yang dia dapat informasi dari HRD sebelumnya, kalau direktur utama perusahaan ini tidak suka orang yang tidak tepat waktu.


"Maaf tuan, hari ini aku sangat terlambat di hari pertama bekerja, karena...." Kata Emily menunduk dalam. Dia memegang roknya kuat-kuat untuk mengurangi rasa takutnya. Dahinya sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Cukup..!" Kenzo memotong perkataan Emily.


"Aku tidak ingin mendengar alasan darimu." Kata Kenzo dingin masih fokus dengan beberapa berkas di tangannya.


"Maafkan aku tuan." Emily semakin menundukkan kepalanya dalam.


Kenzo yang sudah selesai memeriksa berkas di tangannya. Dia melihat Emily, kenapa dia merasa sudah pernah bertemu dengan sosok wanita di hadapannya ini?


"Kenapa wajah wanita ini tidak asing sekali? Aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi di mana ya?" Kenzo mencoba kembali mengingat-ingat. Dia berdiri dari kursinya, mendekat ke arah Emily.

__ADS_1


"Kau...?!" Kenzo sangat terkejut saat melihat jelas wajah wanita yang di tidurinya malam itu.


"Anda?" Emily juga tidak kalah kaget saat melihat wajah Kenzo, pria yang merenggut keperawanannya, pria yang tidak juga bertanggung jawab dan memandang rendah dirinya.


"Oh, jadi Anda yang mempunyai perusahaan ini?" Ketus Emily.


"Oh, jadi kau sekretaris baru itu?" Tanya Kenzo menunjuk Emily.


"Iya, tapi saya tidak akan pernah bekerja dengan Anda. Maaf, saya tidak jadi melamar sebagai sekretaris di perusahaan ini." Emily segera bergegas keluar. Namun, Kenzo segera menarik tangannya.


"Lepaskan aku." Emily mencoba melerai cengkeraman itu. Tapi cengkeraman itu sangat kuat sekali.


"Ck!." Kenzo berdekam kesal.


"Kau kira bisa pergi secepat itu, hah?" Hardik Kenzo.


"Apa hak Anda melarang aku pergi." Tantang Emily.


"Lepaskan! Aku tidak sudi bekerja dengan pria sepertimu." Emily kembali mencoba melepaskan cengkeraman itu.


"Kenapa?!" Tanya Kenzo.


Kenzo semakin mendekati Emily. Emily ketakutan, sebagai gerakan refleks Emily memundurkan tubuhnya.


"Apa gara-gara aku tidak bertanggung jawab saat itu?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya.


°


°


°


°


°


Bersambung...


Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.


Sekian dulu ya.


Sampai jumpa di part selanjutnya.


Bye.

__ADS_1


__ADS_2