
Kenzo berjalan mendekati kedua orang tua Eleanor yang sudah menunggunya di sebuah restoran, hari ini dia akan memberitahukan semuanya.
Dia menyalami tangan mereka berdua, sekilas melempar tatapan pada Eleanor yang terdiam. Kenzo bisa melihat ada ekspresi gelisah juga takut di sana.
"Kenapa tiba-tiba kita disuruh kesini? Apa kalian ingin membicarakan rencana pernikahan, kapan...?" Tanyanya antusias. Wajahnya tersirat perasaan kebahagiaan, senyumnya terukir mekar.
"Aduh, Mama ini...!" Ayah menggeleng, "Ken baru aja tiba, kok langsung di hantam dengan ribuan pertanyaan, sih..."
Mama tersenyum cegigisan, "Maaf Papa, Mama terlalu semangat, hehehe..."
Kini pria itu sudah duduk dengan nyaman di posisinya, saatnya dia akan menyampaikan apa tujuannya mengundang Papa-Mama Eleanor kesini, dia mengambil napas panjang lalu membuangnya pelan-pelan.
"Maaf.. Om, Tante. Aku harus memberitahukan hal ini secepatnya. Menurutku, lebih cepat lebih baik..." Kenzo menatap intens wajah keduanya secara bergantian.
"Katakan, Nak..." Papa-Mama terlihat penasaran.
"Sepertinya, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini..." Katanya tegas, sudah siap dengan konsekuensi apa pun.
Papa-Mama saling menautkan alisnya, hingga terbentuk sebuah garis kerutan di sana.
"Apa maksud kamu...?" Mama bertanya.
"Kami tidak bisa menikah....." Perkataannya di potong cepat oleh Eleanor. Gadis itu tidak ingin Papa-Mamanya mengetahui kalau Kenzo ingin mengatakan pembatalan pernikahan mereka.
"Kakak...Elen tahu kakak kesal sama Elen. Tapi, Elen sudah minta maaf pada kakak beberapa kali..."
Kenzo mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud perkataan Eleanor.
"Ada apa ini...? Papa terlihat bingung.
"Papa, kami sedang marahan, Elen sudah membuat kakak kesal..." Sambungnya. Dia berdiri dari duduknya, mendekati sang Papa, memeluknya. Kepalanya bertengger mesra di sana.
"Kakak, aku tahu kakak marah sama Elen, tapi jangan seperti ini juga dong. Jangan pula papa dan mama ikut, biar kita selesai berdua..."
Eleanor melerai pelukannya. Kini dia mendekati Kenzo, duduk di sampingnya, menarik lengan kekar Kenzo, bergelayut manja di sana.
"Kalian lagi marahan ya...?" Mama bertanya penasaran.
__ADS_1
"Iya Ma. Biasalah, sepasang kekasih kadang saling bertengkar, iyakan kakak...?"
"Elen, apa maksudmu semua ini..." Kenzo semakin tidak mengerti.
Eleanor tersenyum manis sambil menatap Kenzo.
Papa-Mama terlihat saling bertatapan, menggeleng tidak habis pikir, dan akhirnya tersenyum lucu.
"Kalian ini seperti anak kecil saja...." Papa menggeleng sambil tersenyum.
"Iya. Kalian itu, bukan anak kecil lagi! Segera urus pernikahannya. Kami sudah tidak sabar menimang cucu."
"Tentu saja Mah, kami akan segera menikah dan memberikan kalian banyak sekali cucu..."Eleanor berkata sambil membentuk lingkaran dengan tangannya.
Papa-Mama saling tertawa lucu.
Kenzo menunduk dalam, menggertakkan giginya, tangannya terkepal kuat.
"Elen, aku sudah tidak bisa menemanimu untuk bermain lagi..." Kenzo melepaskan tangan Eleanor yang bergelayut di lengan kekarnya.
"Kakak..." Eleanor menatap nanar wajah prianya.
Papa-Mama sangat kaget mendengarkannya. Kenzo mengeluarkan cincin di dompetnya, sekalipun cincin itu tidak pernah di pakaiannya, kecuali saat pertunangannya dengan Eleanor saat itu.
"Saya mengembalikan cincin ini di hadapan kalian." Kenzo menaruh cincin itu di atas meja. Dan menyodorkannya di tengah-tengah.
"Ada apa ini, kami tidak mengerti..."
"Aku tidak bisa menikahi putri Tante, karena aku tidak pernah mencintainya..."
"Apa...?"
"Bagaimana mungkin kamu tidak mencintai putriku, selama ini yang kami tahu hubungan kalian berdua baik-baik saja..."
Eleanor hanya terduduk diam. Dia terlihat sangat gusar.
"Elen?" Ibu melirik Eleanor yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Bukankah itu yang kamu katakan selalu pada kami, kalau hubunganmu dengan Kenzo baik-baik saja. Kalian berdua saling mencintai. Bukan begitu?" Tanya ibu menatap lamat-lamat Eleanor yang menunduk.
Kenzo melihat Eleanor yang menunduk. Dari awal perjodohan, dia tidak memberi hati sedikit pun kepada Eleanor tapi kenapa gadis itu berani sekali mengatakan kalau mereka saling mencintai satu sama lain?
Eleanor hanya menunduk semakin dalam. Dia tak berucap sepatah kata pun.
"Aku berusaha untuk mencoba mencintainya, tapi aku tidak bisa, susah bagimu mencintai seseorang karena keterpaksaan...." Kata Kenzo melihat Papa-Mama bergantian.
Papa hanya diam, tidak memberikan tanggapan apa pun.
"Apa maksudnya ini semua? Aku tidak mengerti!" Mama berkata, dirinya mulai disalut emosi.
"Sayang, jangan diam saja. Apa kamu mencintai Kenzo, katakan..."
"Elen sangat mencintai Kakak, sangat ingin menikah dengannya..." Akhirnya Eleanor bersuara, air matanya lolos di pipi mulusnya.
"Kamu sudah menyakiti hati anakku Kenzo..." Mama mendekati putrinya, memasukkan dalam dekapannya.
"Papa. Katakan sesuatu, liat putri kita menangis karena ulahnya..."
"Maafin aku Tante..." Kenzo berkata pelan.
°
°
°
°
Bersambung...
Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.
Sekian dulu ya.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
__ADS_1
Bye.