
Mama tersenyum menyeringai, "Tidak semua kata maaf bisa menyembuhkan luka yang ada..."
"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini dari awal? Pasti tidak akan ada hati yang terluka. Malah, sekarang kau dengan mudahnya ingin membatalkan pernikahan yang sudah ada di depan mata..." Mama berkata, menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Kenzo menghela napas.
"Aku terpaksa melakukannya karena desakan dari Mama, karena ini keinginan dari mendiang ayah. Tapi setelah aku memikirnya lagi..."
"Omong kosong!" Kata Mama memotong cepat perkataan Kenzo
Mama berdiri, memanjangkan tangannya lalu menampar keras pipi pria yang telah membuat hati putrinya hancur.
"Kamu pantas mendapatkannya, tapi ini belum cukup, setelah apa yang telah kamu lakukan pada putriku...."
"Papa.. kenapa diam aja? Katakan sesuatu..."
"Lihat putri kita menangis, karena telah di campakkan olehnya..."
"Lebih baik dicampakkan sekarang dari pada nanti setelah menikah..."
Mama terlihat kaget.
"Apa maksudmu...?"
"Walaupun mereka menikah. Toh, mereka juga tidak akan bahagia, percuma saja kalau hanya putri kita yang mencintai Kenzo, sedangkan Kenzo sama sekali tidak mencintainya." Papa berkata panjang lebar, membuat istrinya semakin tak percaya.
Kini Papa berada di pihak mana? Perempuan itu tak habis pikir dengan pikiran suaminya!
__ADS_1
Eleanor semakin terisak dalam tangisnya kala mendengar perkataan dari Papanya.
"Mama..." Gadis itu semakin terisak tanpa henti. Mama mengelus punggungnya untuk memenangkan sang putri.
"Om sangat mengerti dengan keputusanmu. Kamu berani menyuarakan keinginanmu..." Papa berkata, tersenyum ramah pada Kenzo.
"Terima kasih Om, sudah mau menghargai keputusanku..."
"Iya, Nak. Karena perasaan itu memang tidak boleh kita paksakan. Kita sudah hidup di zaman modern, perjodohan sudah bukan zaman nya lagi..."
"Om pun sudah memikirkan hal ini berkali-kali. Takut kalian menikah nanti hanya karena ingin menuruti kehendak dari orang tua semata. Mengorbankan pilihan dan kebahagiaan kalian sendiri..."
"Tapi Elen sangat mencintainya papah." Kata Eleanor menangis.
"Iya. Papah tahu kamu mencintainya, Nak. Tapi cintamu saja itu tidaklah cukup. Dalam berumah tangga, harus dua pihak yang saling mencintai, maka rumah tangga akan bahagia..."
Kenzo sudah tidak bisa berlama-lama di sini, dilihatnya jam di pergelangan tangan kirinya, sudah saatnya dia harus pergi.
"Sekali lagi, terima kasih karena om mau menghargai keputusanku..."
"Aku memohon maaf..." Kenzo memeluk Papa Eleanor
"Sama-sama Nak. Om dan keluarga juga meminta maaf." Papa balas memeluknya sambil mengusap-ngusap punggung Kenzo.
Kenzo yang akan pergi meninggalkan restoran, dengan cepat Mama mencegatnya.
"Tunggu dulu..."
__ADS_1
"Suamiku memang menerima keputusanmu. Tapi tidak denganku, melihat putriku yang terpukul seperti ini, membuatku ingin menghancurkan hidupmu, tidak akan kubiarkan hidupmu tenang sedikit pun...."
"Maafin Aku Tante... Aku mengerti jika tante sangat marah sekali... Aku pergi dulu..."
Eleanor segera berdiri dari duduknya, ingin mengejar Kenzo tapi Mama-Nya menahan tangannya untuk pergi.
"Kakak... aku mencintai mu. Kakak, jangan pergi." Eleanor menangis sejadi-jadinya. Dia tidak terima di tinggalkan oleh Kenzo. Mama memeluk erat putrinya, mencoba memenangkannya.
°
°
°
°
Bersambung...
Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.
Bagikan juga pada teman-teman kalian ya >_<
Sekian dulu ya.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Bye.
__ADS_1