
Semua orang kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Kenzo. Bagaimana mungkin pria itu berubah pikiran secepat itu.
"Kumohon.. jangan bunuh anakku!" Pinta Kenzo, membuat sang dokter juga suster tersenyum padanya, kecuali Emily. Wanita itu menyengitkan dahi bingung.
Sang dokter mendekat ke arahnya, "Alhamdulillah.. akhirnya Anda membuat keputusan yang tepat, tuan." Ucap sang dokter tersenyum, menepuk-nepuk bahu Kenzo.
"Bagaimana mungkin pria itu berubah pikiran dalam sekejap? Apa jangan-jangan dia sedang kemasukan makhluk ghoib?" Batin Emily.
"Jadi anakku masih hidup?" Tanya Kenzo kembali memastikan.
"Iya tuan.. kami memperlambat prosedur aborsinya. Kami agak ragu untuk melakukannya."
"Terima kasih Dok, hampir saja aku membunuh anakku." Ucap Kenzo merasa lega.
"AAAA...." Teriakkan dari Emily membuat semua orang memandangnya.
"Dok, Sus, usir pria gila itu! Aku yakin dia kerasukan jin. Cepat Dok! Usir dia sebelum mengacaukan tempat ini!" Teriaknya.
Sang Dokter dengan asistennya saling memandang tak mengerti.
"Tutup mulut ularmu itu!" Ketusnya.
"Mana ada jin yang berani merasuki aku, yang ada aku yang akan merasuki mereka.."
Dokter dan asistennya tertawa lepas, menonton drama pasangan satu ini. Kenzo memberikan tatapan membunuhnya kepada sang Dokter juga asistennya membuat mulut keduanya tersumpal.
...----------------...
Kini Emily telah berganti pakaiannya seperti semula. Wanita itu mendengus kesal, melihat pria yang di depannya ini.
"Kenapa kau harus melakukan semua ini? Biarkan saja bayi ini mati." Ucapnya ketus.
Kenzo menautkan dahinya, "Hei, apa kamu gila? Aku tidak setega itu untuk membunuhnya. Biar bagaimana pun bayi ini tidak bersalah. Namun, cara kita yang salah.." Ucapnya.
Emily menyeringai, "Ya aku tahu! Tapi kau juga harus sadar diri.." Emily menyentuh dada bidang Kenzo dengan telunjuknya.
"Anak ini akan tumbuh di rahimku nanti. Apa yang akan orang-orang pikirkan tentang aku nantinya? Aku akan di cap buruk oleh masyarakat. Orang-orang akan menganggapku sebagai wanita gatal yang hamil di luar nikah."
"Lebih baik aku menggugurkannya dengan caraku sendiri." Katanya berlalu meninggalkan pria itu. Baru selangkah Emily melangkahkan kakinya, Kenzo menarik tangannya. Sehingga tubuhnya terhuyung menempel dinding. Kenzo mengurung Emily menggunakan kedua lengan kokohnya.
__ADS_1
tangannya di tarik oleh Kenzo sehingga tubuhnya jatuh di dekapan Kenzo.
"Jangan coba-coba untuk membunuhnya. Kau akan tahu sendiri akibatnya kalau kau membunuh anakku. “Kenzo memperingati Emily, dia tidak main-main dengan perkataannya.
Emily mendongak, menatap Kenzo tajam, "Anda harus ingat, aku yang mengandungnya. Aku tidak mungkin mengurusnya sendiri nanti tanpa sosok ayahnya?!"
"Lebih baik anak ini mati sebelum dia terbentuk!" Tambahnya.
Kenzo semakin mendekat wajahnya, deru napasnya menerpa wajah Emily, membuat jantung wanita itu berdegup sangat kencang.
"Aku bilang jangan. Ya jangan!" Katanya menekan.
"Aku akan menikahimu, aku akan bertanggung jawab." Sambungnya.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan pria sepertimu! Lepaskan aku." Katanya berontak.
"Apa alasanmu tidak mau menikah denganku?" Tanya Kenzo.
Emily tidak mengatakan apa pun. Dia mendorong tubuh Kenzo. Namun, tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya. Sehingga tubuh Emily terkunci sempurna dalam kurungannya, dia tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Aku bilang lepaskan!" Katanya, terus berontak.
Kenzo menatap wajah Emily lekat, melihat bibir tipis wanita itu membuatnya bergairah, hasratnya muncul seketika.
Tak ada yang bisa dilakukan Emily selain diam dan pasrah, dia tidak bisa berontak karena terkunci sempurna dalam kurungan kokoh pria itu.
Kenzo terlihat semakin bergairah, perlahan dia terus me lu mat bibir Emily seakan tak memberinya jeda untuk menarik napas, cukup lama hingga akhirnya dia menghentikan ciumannya.
Kenzo menatap Emily, mengangkat wajah wanita itu agar mendongak ke arahnya.
"Jangan pernah menolakku, atau kau akan menderita nantinya!" Ucapnya menatap lamat-lamat mata wanita di hadapannya.
"Tapi---" Kenzo mengecup kening wanita itu, menempelkan keningnya pada keningnya, hingga hidung mereka saling beradu.
"Dengar jangan pernah melakukan hal bodoh itu, aku ingin bayinya lahir ke dunia..."
Emily hanya terdiam diperlakukan seperti itu oleh Kenzo. Dia merasakan sisi lain dari seorang Kenzo Kabeto.
"Ekhem..." seseorang terbatuk pelan, dan ternyata ada suster di belakang mereka yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Kenzo segera menjauhkan dirinya dari wanita itu. Keduanya kini tampak kikuk.
"Maaf mengganggu, dokter sudah menunggu kalian..."Kata Suster masih tersenyum-senyum.
"Baiklah." Jawab Kenzo.
...----------------...
Keduanya kini duduk berdampingan dalam satu meja, berhadapan dengan dokter yang ternsenyum menatap mereka.
"Saya sangat senang, Anda membuat keputusan yang tepat..."
Di wajah pria itu mengembang seulas senyuman tulus, entah kenapa, dia merasa keputusan ini memang sudah tepat dilakukannya.
Dokter lalu menyodorkan beberapa obat-obat pada Emily "Ini adalah vitamin untuk memperkuat janinnya. Nona jangan melakukan aktivitas yang berat-berat dulu, apalagi merasa stres.." Kata sang Dokter menjelaskan.
Emily hanya mengangguk sekilas.
"Terima kasih, Dok." Sekali lagi Kenzo tersenyum.
"Iya Tuan. Saya ucapkan selamat ya, semoga Anda menjadi suami serta ayah yang baik bagi keluarga..."
"Pasti, Dok. Saya akan menjadi suami dan ayah yang baik, bukankah begitu?" Ucap Kenzo tersenyum melirik Emily di sampingnya. Sementara wanita itu hanya diam, tidak berkata apa-apa.
°
°
°
°
°
Bersambung...
Jangan Lupa vote dan komentarnya ya, dan masukin cerita ini di rak favorit kalian biar banyak yang baca.
Sekian dulu ya.
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Bye.