
Emily terbangun dari tidurnya, memgerang kesakitan karena tubuhnya serasa remuk redam.
"Dimana dia?" Kata Emily, saat tidak menemukan Kenzo di samping. Padangan menyisir seluruh isi ruangan. Namun, tak dia temukan sosok pria yang dicarinya.
Emily segera turun dari ranjang itu dengan selimut panjang masih menutup tubuh polosnya, dia berniat membersihkan dirinya di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian...
Emily yang sudah selesai merias dirinya, wanita itu menatap dirinya di cermin. "Aku harus pergi jauh dari tempat ini. Tempat ini tidak cocok untukmu. Aku akan memulai kehidupan baruku di tempat baru." Kata Emily lalu bangkit dari duduknya.
Dia meraih kacamata hitam di atas nakas lalu berjalan meninggalkan hotel itu.
****
Kenzo duduk di kursi di depan ruangan mamanya dirawat sambil menundukkan kepalanya, memijat keningnya perlahan dengan tangan yang bertumpu pada lututnya.
"Bagaimana keadaan Mama.." Tanya seorang membuat Kenzo mengangkat kepalanya.
Eleanor telah duduk disampingnya.
"Kau kenapa masih berani datang, hah? Apa belum puas kamu lakukan ini semua?" Ucap Kenzo kalap. Mukanya merah, tangannya terkepal sempurna.
Dia ingin sekali memukul Eleanor tapi dia perempuan, yang bisa dia lakukan hanya menahan emosinya.
"Cepat pergi dari sini. Sebelum aku bertindak kasar padamu." Kata Kenzo datar.
Namun pertengkaran itu terleraikan ketika dokter keluarga dari dalam ruangan.
__ADS_1
"Keluarga pasien." Panggil sang dokter.
Hampir bersama keduanya berdiri, menghampiri sang dokter dengan perasaan berkecambuk di dada.
"Iya dok, saya putranya. Bagimana kondisi ibu saya?" Tanya Kenzo khawatir.
"Mama anda telah sadar, tuan dan keadaannya sudah stabil." Kata dokter sambil melemparkan senyuman manisnya.
Kenzo merasa lega mendengar begitu pun dengan Eleanor yang di sampingnya.
"Anda boleh masuk untuk menemuinya." Kata Dokter dan Kenzo tanpa menunggu lama langsung melongos masuk diikuti oleh Eleanor yang masih tetap keukeuh walaupun sudah diperingatkan oleh pergi.
"Mama..." Kata Kenzo lirih.
Mendengar suara putranya, wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin berbicara dengan putranya.
"Keluar kamu disini.." Ketusnya.
Kenzo mau tidak mau menuruti keinginan dari Mama-Nya. Dia takut sakit sang Mama akan kambuh lagi.
"Kau tetap disini Elen, temani Mama."
"Baik Ma." Kata Eleanor pelan sambil menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Kenzo yang marah, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
*****
Kenzo sudah seperti mengetahui apa yang akan terjadi, ibunya akan memanfaatkan keadaannya untuk memaksanya menikah Eleanor.
__ADS_1
"Argh.. apa yang harus kulakukan?" Kenzo menarik rambutnya keras.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, memikirkan Emily yang dia tinggal sendiri dan memikirkan semua perkataannya dengan sang istri.
"Ibu memanggil masuk kak.." Kata Eleanor pelan sambil menunduk.
Kenzo mengangkat kepalanya, menatap tajam pada Eleanor lalu masuk.
Kini tinggallah mereka berdua dalam ruangan itu. Eleanor sedarinya memberitahu Kenzo langsung balik pulang.
"Kau jangan mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pernikahanmu.."
"Kalau kau masih tetap keukeuh dengan itu, kau akan melihat Mamamu ini mati." Kata Mama datar.
"Karena wanita yang pantas kau nikahi hanya Eleanor, bukan wanita penggoda itu. Dia jelas-jelas mencintaimu dengan tulus."
"Mama.. dia bukan wanita penggoda." Kenzo melihat ibunya.
"Ck. Kalau bukan wanita penggoda lalu apa? Mama harap kamu segera sadar." Kata Mama Kenzo lalu memalingkan wajahnya.
"Keluarlah. Mama tidak mau melihat muka tidak terimamu itu. Yang jelas kau tetap harus menikahi Eleanor atau kamu akan liat Mama mati." Ancamnya.
"Mama..." Kata Kenzo terpotong oleh Mama-Nya.
"Keluar.. renungkan perkataan Mama." Kata Mama-Nya menunjuk pintu keluar.
Kenzo meninjukan tangannya di udara. Dia melangkah keluar penuh marah.
__ADS_1
"Sialan!" Umpatnya.
Bersambung....