
Perempuan Egois Miliku
Bagian 1
Sejatinya rasa akan tumbuh lalu luruh seiring berjalannya waktu. Tikungan tajam menghiasi penelusuran jiwa muda. Sedikit mundur, maju lagi, menepi, beranjak punah.
Raga memiliki paras elok tak menentukan seberapa lapang dada menyikap runtutan perih. Melemah tak membuat ujung takdir menghampir. Bersorak juga tak membuat takdir berhenti menelusur.
Benar kata-Nya “Ikuti perintahku, jauhi laranganku” kurang lebih seperti itu.
Melawan arus siap menjemput kekalahan.
Perkiraan kecil, jikalau ditimbang beratnya mampu menduduki satu ton, perbendaharaan kata yang didengungkannya selama bersamaku.
Jika siklus utama ku ikuti melihat-berkenalan-berteman kemudian bersikap biasa saja, mungkin luka tak terbenam dalam.
Ahhh... sesal memang selalu datang belakangan, yang duluan itu manis-manis.
Semoga saja, di luar dia tidak menempat harapan disetiap sudut relung wanita.
Ting, notifikasi masuk di aplikasi WhatsApp. Kubuka aplikasinya terdapat nama Kk Bintang di sana.
"Assalamualaikum Ay, lagi buat apa? Sibuk gak?
Kubaca isi pesannya berulang kali sambil menerka apa maksud dari pertanyaanya. Hingga bolak balik aplikasi chat tersebut dengan rasa penuh penasaran. Ku tutup lagi, buka lagi sehingga sebuah colekan membuyarkanku dari lamunan. Yahh, siapa lagi kalau bukan Jenaka temanku si paling Komedi.
"Apasih Na colek colek. Tuh ada tukang bakso yg mau di colek". (Na, itulah sapaan yang biasa digunakan teman-teman Jenaka)
"Kenapa? Kaget ya... haha makanya main hp tuh jangan serius. Balas tuh chatnya." Cielah hanya balas chat kok lama amat. Lihat nih gue ting ting ting banyak notif masuk (sambil menunjukan isi pesannya). Lah elo gitu aja mikirnya lama kek susun skripsi aja loh"
__ADS_1
Tidak kuhiraukan pidatonya yang sangat singkat, padat, dan tidak jelas itu. 33333, kusentuh layar ponselku di angka 3 sebanyak lima kali. Baca lagi isi pesan dari kk Bintang dan... sekarang dilayar ponsel sudah pukul 11.15 malam.
"Waalaikumsalam, lagi nyantai aja nih kk, kenapa?"
"Widihhh kemana aja Ay balasnya lama amat."
"Biasa kk, besok gak ada jadwal kuliah jadi sibuk nonton nih, hehe."
"Ada yang mau gue omongin Ay. Makanya tadi aku nanya sibuk gak?
"Ngomong apa kk?"
"Bumi. Ay tahu Bumi gak? Jadi gini, tadi sore sementara kami lagi nyantai di kosan, tiba tiba Bumi bilang sama aku, katanya dia suka ama lo Ay. Bilangnya sejak ketemu elo kemarin malam di kosnya Asti, dia jatuh hati ama loh."
* * *
Tak ku gubris teriakannya karena memang tadi malam aku begadang. Biasa, aplikasi yang sering aku kunjungi yang banyak film action di dalamnya.
Aku memang sangat menyukai film action dan detektif sehingga terkadang kalau ngobrol dengan Jenaka apa yang diperankan di film saya ekspresikan juga ke Jenaka.
Samar penglihatanku di kamar kecil ini yang menggunakan chat warna biru, plafon chat putih, dan karpet harga kantong anak kosan berwarna biru senada dengan warna dinding kamar. Sedangkan seluruh kamar disekati papan dari kayu Jati.
Yah, aku dan Jenaka memang satu angkatan dan satu sekolah sejak SMP, SMA, juga kuliah di universitas yang sama namun beda Jurusan. Kami berdua lulus SMA tahun 2015 pun masuk kuliah di akhir tahun 2015. Sehingga baik sifatku dan sifatnya kami sudah sangat memahami satu sama lain.
"Bangun Ay, dari tadi hp loh bunyi terus, ada telpon tuh dari Kk Bintang." Lu ada jadwal kuliah gak sih hari ini, sudah pukul 10.12 loh nih lihat... (Jenaka sambil menunjukan layar ponselnya di depanku yg masih mendekam dibalik selimut).
"Iya Na, iya. Mau kemana Anda rapi amat?"
"Gak kemana mana, emang kenapa kalo pagi pagi udah rapi. Salah ya?"
__ADS_1
"Gak juga, nanya aja."
"Eh bangun yuk, temani gue pergi beli mie. Laper nih gue."
"Iya, tunggu ya. Perbaik perasaan dulu. Huffff.... ayokkk berangkat."
Kios yang kami tuju kali ini tidak jauh dari kos, butuh satu menit sudah sampai.
Secara kami berdua berasal dari keluarga yang cukup sederhana memahami, kuliah tidak membutuhkan tempat tinggal yang mewah dan bergaya mewah, apa adanya. Yang penting orang tua memberi kesempatan kuliah aja sudah sangat bersyukur. Pendidikan utama gengsi urusan ke 100.
Kosan ini berjumlah 20 kamar, di lantai satu 10 kamar dan di lantai dua 10 kamar. Keseluruhan kamar lantai satu menggunakan tembok sedangkan lantai dua dikelilingi papan dari kayu Jati. Itulah mengapa kami berdua memilih kamar di lantai dua selain harganya yang lebih murah dibandingkan lantai satu kami juga menghindari banjir yang kerap kali terjadi di musim hujan.
Kosan yang sangat nyaman dan aman karena pemiliknya ikut tinggal di sini. Jadi, kios yang kami tuju adalah kiosnya ibu kos.
"Mie sedap goreng dua bungkus bu."
"Ini untuk sarapan atau makan siang Na?"
"Hehe, untuk dua duanya bu."
"Uangnya pas ya Na, 5000."
"Iya bu, terima kasih."
"Eh, lu tadi malam ketiduran ya? Gue lihat hp lu masih nyala dan mata luh tertutup sambil senyum-senyum. Itu pura pura tidur, menghayal, atau....".
"Atau apa hah, lu pikir aneh-aneh gue kibas semua nih mie dua piring."
Bersambung ....
__ADS_1