Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (18)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 18


POV Ay


Itukan ka Bumi yang satu alumni sama ku ya! Aku ingat merekalah yang sangat nakal waktu SMP dulu. Setiap pagi, nama-nama yang dicatat guru piket adalah nama geng mereka. Dari segi tampang, aku kenal betul. Namun, tidak dengan kepribadian. Sebatas satu halaman, satu sekolah, dan satu alumni. Dan apa iya, dia kuliah di kota ini? Sudah semester berapa ya? Kok aku rasa kuliahnya lama benar. Atau dia angkatan di bawah kk Bintang ya? Hem, mengapa otaku penasaran ya. Baiklah. Bukan urusanku.


"Ay, ada yang titip salam!" Sebuh pesan masuk dari kk Bintang. "Katanya dia naksir sama lo." Lanjut kk Bintang. Dia sudah akrab denganku dan Jenaka sejak pertamakali kami menginjakan kaki di kota ini.


Aku hanya membaca isi pesan, tidak ada sedikitpun niat untuk balas. Dibanding komunikasi dengan teman-teman di media sosial, aku lebih aktif mencari tontonan kesukaanku, terutama film bergenre action. Sekalipun, orangtua yang menelepon, jarang aku menjawab apalagi menanyakan kabar lewat sms, sampai kotak pesan penuh aku takan membalas. Entah apa yang terjadi dalam diriku.


Berulang kali, aku membaca dua kalimat itu. Rasanya ilfeel, geli, juga ingin muntah. Bukan apa-apa, dalam diam bertanya berani sekali dia mencoba merobohkan benteng perjobloanku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjalin kisah dengan siapa pun. Malah dia seenak dengkul menghancurkannya. Tidak tidak.


Dalam hatiku berujar pelan, Apakah semua laki-laki itu sama? Apakah mereka selalu modus dengan perempuan? Apakah semudah itu mengungkapkan rasa suka? Atau demikiankah laki-laki memainkan perasaan wanita? Pengalaman adalah pengetahuan berharga bagiku, sehingga berubah pandanganku tentang laki-laki.


Selepas nginap dari kosan Asti, aku terus diteror kk Bintang. Dia berdalih menyampaikan amanah dari Bumi. Sekadar itu. Bukan Ay namanya kalau diteror merasa khawatir, aku bahkan tambah cuek terhadap siapapun yang menghubungiku.


Singkat cerita, suatu malam di bulan Februari 2016. Aku telah memikirkan saran yang telah diberikan oleh kk Bintang. Katanya, Bumi bukan seperti laki-laki di luar sana. Bukan lelaki yang suka mengobral janji. Bukan pula lelaki yang suka memainkan wanita. Apalagi kasar dengan perempuan.


Menurutnya Bumi adalah ciri laki-laki yang diidam-idamkan kaun hawa. Bahkan, semenjak putus dengan mantar pacarnya 2013 silam, Bumi tidak lagi berurusan dengan perempuan. Barulah kini, bertamu di kosnya Asti jalan menuju bertemu denganmu Ay. Jadi, bantu aku untuk tidak menerormu terus-terusan. Bantu aku untuk menerima Bumi. Aku bocorkan sedikit sifat Bumi ya Ay, satu hal yang ia tidak suka, yaitu pembohong. Silakan Ay sendiri menfsirkan kata Pembohong, dan yang pasti banyak makna ganda di dalamnya. Dan seperti yang Anda mau, aku menerima amanah itu dengan perasaan biasa saja. Tidak

__ADS_1


berbunga-bunga. Datar.


* * *


Ka Bumi pulang kampung.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...". Percobaan untuk ketigakalinya aku menghubungi nomor kak Bumi. Di layar ponsel sudah menunjukan pukul 19.09 artinya sebentar lagi waktu isya tiba. Sejak dari Magrib aku menghubunginya, namun belum ada tanggapan. Mungkin, belum masuk wilayah yang ada signal. Semoga saja. Begitu banyak pesan yang ia berikan sebelum ke Pelabuhan. Aku membacanya tanpa memaknai terlalu dalam.


"Ka Bumi, kok bisa sama dia ya?"


"Bucin, pendiam, tapi ngeselin!"


Jenaka bilang aku adalah perempuan beruntung yang mendapatkan kesempatan mengenal lebih dekat dengan ka Bumi. Jenaka juga pernah mengingatkan aku, jangan menyia-nyiakan orang seperti itu. Karena kalau sekali sakit tidak ada kesempatan kedua. Apa benar ya? Memang sejauh ini, dia belum memperlihatkan sisi buruknya padaku. Hanya bucin, bucin, dan bucin.


Aku masih ingat, bagaimana tidak pedulinya aku saat dia berusaha menyempatkan segala waktunya untuk ku. Sepenuh raga untuk selalu memahami tiap jengkal sikapku. Di awal kami berdua resmi pacaran, aku belum sepenuhnya menempatkan hati di relungnya. Bahkan, tanpa alasan yang logis kerap ku memutuskan jalur komunikasi, hanya untuk menikmati tontonan film kesukaan ku. Jika sudah baikan, aku tidak pernah sekalipun memberikan jawaban kalau dia bertanya perihal pemutusan jalur komunikasi. Bukan karena ada yang lebih dulu mmberikan kenyamanan, namun tentang asam garam dunia percintaan yang sudah lalu. Begitu caraku mengubur bara ketidaksabaran.


Bersandar di sudut kamar, aku terus memutar balik ingatan. Kronologi Ka Bumi menunggu waktu tiga hari yang ku berikan sebagai persayaratan diterimanya sebuah amanah. Yah, amanah itu terus memberikan beban pada kk Bintang sebagai jembatan utama terjalin kisah ini. Hingga lorong kecil malam itu, menjadi saksi bisu bagaimana sentuhan kecil mengenai tubuhku dengannya. Jejak roda malam itu pula, menyakini aku tidak benar-benar berpaling dari betapa luar biasa ciptaan Tuhan.


* * *


Jujur, aku adalah perempuan yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Termasuk, perasaanku yang tak pernah ku rawat. Rasaku yang tak pernah lagi ku olah. Jemariku, yang tak lagi semudah dulu menggenggam erat kebersamaan. Sekadar, memulihkan piluh genang kerinduan pun, aku tak menghiraukannya. Sekeras itu hilir ego ku.

__ADS_1


Beberapa, ada yang menyapa kemudian berlalu. Singgah, memberikan hangat lalu berubah dingin. Beranjak, seiring redam embusan pagi. Berujung, ku tak tahu pasti hulu hilir rangkaian kata cinta. Pedih memang kisah yang pernah ku pupuk. Namun, sudahlah aku tidak mau menenongek terlalu jauh.


* * *


Setelah menelusuri bagian kecil perjalan asmara kk Bumi, aku yakin dia yang bertahan sampai halal itu terucap. Bayangkan saja, dialah orang pertama tempat menumpahkan pengalaman kelam yang pernah ku rajut kala itu. Tak ada satupun yang mampu ku sembuyikan. Setiap rayuan klasiknya sukses membuka pintu rahasiaku. Sampai aku terkejut, ia hampir membulatkan kedua tangan kekarnya di pinggangku, saat masa lalu, ku sampaikan padanya.


Aku bertanya, mengapa ka Bumi ingin memeluk di tengah orang banyak begini? Jawabnya; Ay kaulah yang pantas ku jaga, dirimulah yang pantas ku rangkul, jiwamulah yang meluluhlantakan kecerobohanku sebagai laki-laki. Aku bilang, aku tak mengerti ka!. Dia berujar pelan; Ay, sampai aku menemukanmu detik ini, baru kaulah yang serela itu menceritakan kelam hidup pribadimu.


Menurutnya, seandainya aku bukanlah Ay yang orang bilang perempuan egois seantero organda bahkan sekelas kuliahku, tidak ada wanita yang siap menceritakan kelam masalalunya. Ia yakin, tidak ada alasan lain mengapa ia sepenasaran itu dengan masalaluku, hanya mengetes sejauh mana aku menyakini hubungan ini sampai nanti. Data membuktikan, seseorang kalau sudah berani mengatakan dengan lancang buruk rupa di masa lalu dengan pasangan, itu pertanda dua manusia telah percaya satu sama yang lain.


Meski, tidak bisa kusebutkan secara gamblang detail kejadian. Itulah salah satu alasan mengapa ka Bumi tidak menyerah saat sikap ku menghakimi dirinya. Ka Bumi mengatakan, selain perselingkuhan semua bisa dikendali. Tapi, jangan coba-coba untuk berpaling, maka itu akan menjadi malapetaka hubungan.


* * *


Aku tidak bisa merangkaikan kebersamaan dengannya secara detail. Intinya sampai LDR Part 2 ini tiba, perubahan yang ku alami hanyalah dari tidak menangis jadi menangis, berani mengungkapkan kata rindu, sedikit peduli dengan orang sekita, mulai berkomunikasi dengan aktif di media sosial, dan terpenting mulai menerima saran dari sahabat tengil dan garingku Jenaka.


Pukul 13.00 dini hari, semenjak bayang punggung itu menghilang, ka Bumi belum menghubungiku sampai detik ini. Aku sedikit khawatir meski tidak benar-benar gelisah. Bagiku cukup satu kali aku menghubungi, selebihnya dia sendiri yang berusaha menghubungiku kembali.


Karena masih tertanam dalam keegoisanku bahwa ka Bumi yang memulai kisah ini jadi apa salahnya dia sendiri yang merawat agar tidak hilang. Ya kan, hehe. Hanya pasal satu yang ada dalam diriku. Pasal selanjutnya, cukup kembali ke pasal 1. Tidak adil bukan? Jelas tidak dong ya. Ya, bagaimana lagi, ini Ay bukan Ay yang lain. So, bersabar saja kamu ka Bumi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2