Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (9)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 9


Setibanya di kos Ay, Bumi dan Bintang langsung menuju teras batas tamu. Di teras tersedia meja, kursi, dan juga karpet lantai. Teras tempat segala canda bagi anak kos lantai 2. Siapapun yang bertamu di kos ini pasti batas masuknya sampai di teras saja. Terkecuali tamu perempuan.


Tanpa di panggil, Ay dan Inggar menuju teras kos.


"Hai". Sapa Ay.


"Hai juga." Bersamaan Bumi dan Bintang menjawab.


"Ehemm, batuk nih." Bintang tertawa.


"Kopi? Teh?". Tawar Ay pada kedua tamu istimewa.


"Kopi, kopi!" Kali ini Bumi yang mengeluarkan suara.


Tanpa basa basi, Ay langsung ke kamar membuat kopi dua gelas. Kosan ini sudah menyediakan dapur umum, meski tak menyediakan perlengkapan masak, namun ukurannya terlalu kecil. Sempit untuk menampung peralatan 10 kamar.


Jadi, Ay dan Jenaka memilih untuk menyimpan seluruh barangnya mulai dari perlengkapan mandi, lemari pakaian, kompor, mejik, dll di dalam kamar.


Tadi Inggar menyusul Ay ke kamar karena mau siap siap ke kampus, bimbingan skripsi.


"Kak Inggar ngampus dulu ya Ay, nih bimbingan skripsi ke pembimbing satu." Inggar menenteng map khusus berkas yang biasa dipakai mahasiswa semester akhir.


"Iya kak, hati hati!" Ay berpesan.


Secara bersamaan Ay dan Inggar menuju teras, Ay membawa nampan berisi dua gelas kopi.


"Aku antar Kak Inggar ngampus dulu ya Nta, Ay!" Bumi berdiri ambil helm dan kunci yang ia gantung tadi di sudut teras.


"Jangan lama, ingat kopinya pasti enak, doi yang buat nih." Goda Bintang pada Bumi.


"Oke Nta!" Bumi mengangkat jempol. Begitulah teman teman memanggilnya dengan sebutan Nta alias Bintang.


Beberapa menit kemudian, Bumi sudah pulang mengantar Inggar dengan memarkirkan motor dekat motor Bintang.


"Hah, jalanan lumayan macet." Keluh Bumi sembari menepuk nepuk karpet di teras kos Ay menepis kotor yang nempel di sana.

__ADS_1


"Ya iya, namanya juga jalan umum. Macetlah. Ya kali kosong, kayak ruangan hantu." Pelan tapi cukup membuat Bumi melirik Ay datar.


"Gimana?" Ay memulai pertanyaan.


"Apanya yang gimana?" Bumi balik tanya.


"Ya, pendakiannya dong, ihh". Ay meninggikan volume suara.


"Lumayan. Seru... seru." Bumi mengangkat jempol pertanda betapa bermaknanya pendakian sehingga tidak bisa diwakili kata kata.


"Ay tahu gak, inikan musim kemarau ya, tapi di sana hujan terus... bisa 2 jam lah, 3 jam lah, dan yang paling lama waktunya gerimis yang membuat tambah dingin." Pungkas Bumi.


"Oh yahhh. Katanya bawa jaket, gak mempan ya?"


"Mempan sih iya, tapi pas pulangnya itu loh, behhh tanjakannya licin." Bumi dengan segala ekspresi memaparkan medan pendakian gunung Ba****raeng.


Tiga mahluk ini sudah tidak memegang ponsel. Fokus dengan gelas masing-masing. Ay minum teh, Bumi Bintang mencicip kopi. Begitu nikmat seduhan kopi bikinan sang pelipur lara. Senikmat malam di bawah tebaran bintang.


Bumi dan Ay tidaklah begitu romantis. Keduanya bersikap biasa saja ketika mengobrol. Jika orang luar melihat keduanya berbincang pasti dikira hanya teman atau adik kakak. Seperti kucing dan tikus merebut ikan goreng, ribut. Hanya Bumi sedikit lemah lembut dalam berkata kata. Sedangkan Ay seperti knalpot motor yang di modifikasi bising dan kasar.


"Kenapa kemarin tidak ajak kami yang perempuan? Kan bisa lebih menantang proses mendakinya. Kemarin tak satupun dari senior senior mengajak. Padahal kami juga ingin sekali merasakan sensasi naik gunung.” Ay mulai memperlihatkan sikap kecewa.


"Betul. Kalau perempuan ikut bukan menikmati pendakian jadinya, tapiii..." Bumi menggantung kalimatnya.


"Ya kan bisa diundur satu hari saja, supaya kami persiapan dulu. Para senior gak seru!" Ay menyimpan gelas ke atas nampan dan beralih fokus ke ponsel yang ada di atas meja.


"Pasti kalian gak mau ribet, kan kalau ajak perempuan ruwet urusannya, ya kan?


Iisssssss." Ay masih sambung dengan celetukannya.


Pepatah berkata "jangan memberi saran, pendapat, maupun ajak berdebat disaat otak tidak fokus." Bintang mengunci suasana yang tidak ramah ini.


Bintang tahu kemana arah Ay melimpahkan seluruh kecewanya. Jelas ke Bumi. Jadi untuk mengurangi perdebatan juga perselisihan Bumi dan Ay , Bintang melontarkan pepatah yang tidak berasal.


"Ganti topik, ganti topik. Ayuk!" Tuturnya.


"Maaf ya". Bumi meminta maaf.


"Tidak!" Jawab Ay singkat.

__ADS_1


"Kenapa Ay? Lembut Bumi bertanya.


"Ini sepele. Tidak semua hal di dunia bisa sempurna! Bintang sudah menjelaskan, semuanya secara tiba tiba. Dan aku tidak sendirian ke sana. Ada senior yang lain. Jadi, aku tidak bisa memaksa mereka untuk mengajak kalian yang perempuan." Bumi mendekat ke Ay dan merebut ponsel yang dipegangnya sedari tadi.


"Kenapa kalau ada kesalahan, Ay selalu menyudutkan aku? Kenapa bukan orang lain? Hah? Kenapa Ay?" Bumi membenarkan posisi jilbab Ay.


"Jawab dong Ay!" Usaha Bumi untuk mengetahui alasan kekasihnya berceletuk dari tadi.


Ada bulir yang tiba tiba jatuh mengenai kaki Bumi. Berasal dari kedua netra si cantik.


"Tapi, perginya begitu lama!" Berat nafasnya mengucapkan kalimat sendu.


"Kan kemarin minta ijin ke Ay nya tiga hari. Ay juga memberi ijin." Bumi mengusap lembut air mata Ay yang terus mengalir.


Bintang yang tidak mau ambil pusing dengan perdebatan kedua insan ini, berpindah duduk ke kursi dekat pintu. Mengeluarkan handset berwarna putih dan meletakan ke telinga. Membesarkan volume lagu yang di sambungnya dari ponsel, melihat ke arah jalan sembari bergoyang kecil. Nikmat sekali lagu ini.


"Ay kangen? Hemm?" Bumi membuka jarak dengan Ay. Tadi terlalu himpit.


"Tidak!" Ay menggeleng.


"Jujur Ay, apa susahnya jawab iya, kangen ka". Kekeh Bumi.


"Ya udah, maaf ya." Rayunya lagi.


Ditariknya tangan Ay, sampai Ay sadar begitu lemah lembut hati laki-laki ku ini. Aku tak menampiknya sama sekali. Ay sadar tidak selamanya batu akan mengeras, pasti suatu saat retak juga walau sedikit demi sedikit.


Sikap Bumi menampilkan tidak semua laki laki berhati manis di awal, busuk dipertengahan.


Memerah muka perempuan cantik nan menawan ini, saat Bumi menarik tanganya. Tidak sampai 2 detik bersentuhan tangan, Ay langsung mundur teratur dari posisi duduknya, pelan. Ada denyup yang begitu kencang akibat sentuhan lembut. Ada gerakan yang tak berarti, perangkat tubuh langsing wanita ini merespon asal.


Bumi yang mendapatkan penolakan dari Ay, reflek menghabiskan kopi yang masih setengah gelas. Langsung diteguknya satu kali saja. Luar biasa memang pergeseran suasana abromantis ini.


Mereka seperti dua magnet menginginkan pendekatan namun selalu berusaha menghindar. Sebenarnya, untuk menggandeng kedua insan ini menapaki lajur keromantisan wajib di tuntun oleh kedua sahabatnya Bintang dan Jenaka. Kalau tidak, berakhir persis Jalur berdekatan namun selalu berlawan arah.


Bintang yang mengetahui kedua sahabatnya lagi salah tingkah, menarik pelan nampan berisi gelas kopi Bumi tadi dan meletakkan gelas miliknya di sana. Segera Bintang pindah nampan tersebut dekat kursi duduknya. Kembali menikmati alunan musik dan menggeleng merasa aneh dengan situasi.


"Begini nih, kalau cinta memuncak. Tidak di kampus, di kos, malam, pagi, siang, berak...ngambeekkkk bae. Dunia milik berdua yang lain berenang dulu." Mulut Bintang komat kamit heran dengan kedua sahabatnya.


10 menit berlalu, kondisi mulai berubah. Dari salah tingkah menjadi lebih hening. Belum ada yang membuka obrolan. Bintang fokus mendengarkan alunan musik, Bumi berpangku tangan melirik Ay, sedangkan perempuannya senyum-senyum tidak jelas. Barang kali yang dia tonton konten komedi sampai senyum kecutnya keluar.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2