
Perempuan Egois Miliku
Bagian 14
Bumi mengambil ponsel yang diberikan oleh Ay dengan senyuman sinis. Ditatapnya, perempuan tidak punya kesabaran itu lekat. Bumi membaca pelan persyaratan dan semua yang penting dalam informasi magang 3 milik pacarnya.
"Gunakan almamater saat magang (setiap hari magang)."
"Pakaian hitam putih untuk laki-laki dan perempuan selama pelaksanaan magang."
"Magang dimulai pada tanggal 22 Oktober 2018."
Wajib menghubungi dosen pembimbing pada hari pertama magang yang dipimpin oleh Korlap."
Ay berubah jadi penyimak yang baik pada saat Bumi membacakan informasi tentang magang, dan berujung senyum sumringah karena waktu pelaksanaannya tidak bersamaan dengan jadwal pulang Bumi.
Bumi menyodorkan kembali ponsel milik Ay, sembari mengelus kepalanya pelan dan membalas senyuman manis dari pujaan hati, Ay.
"Nih, harus sabar Ay. Tidak semua apa yang kita inginkan sesuai dengan perkiraan orang lain. Ada saat kita harus mengalah." Bumi menasihati pelan-pelan, biar seiring berjalannya waktu batu keras Ay melemah.
"Emm, pacar aku tambah cantik kalau sabarnya tinggi." Lagi, Bumi mengelus kepala yang sering ia lakukan ketika gemesan dengan pacar rasa bocah kecil disampingnya.
"Hehe, emang aslinya cantik. Bleeee." Ay menjulurkan lidah menunjukan ia menerima dengan baik pujian dari kekasihnya tadi.
"Aku ikut antar, yeeee...." Lanjutnya lagi, raut wajahnya kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan permen.
"Iya." Bumi menyandarkan tubuh kekar miliknya ke belakang.
* * *
Langkahnya pelan, menyusuri lorong kecil yang biasa ia lewati jika ke kampus, tangan sibuk menutupi kulit wajah mulus miliknya dengan selembar kertas Hvs kosong. Lengan kiri memikul tas berwarna hitam berisi berkas kuliah. Sesekali ia menoleh ke belakang barangkali ada kendaraan teman kelasnya lewat atau sekadar tumpangan untuk membawanya cepat sampai kampus, tempat tujuan. Dilayar ponsel sudah menunjukan pukul 12.46, volume langkah dipercepat.
Kring...kring...kring
Ponsel berdering dengan volume kecil, dirogohnya dari dalam tas, rupanya sahabat sekelasnya Embun menelepon "Halo, assalamualaikum Em. Kamu udah di kampus belum? Tanyanya pada Embun yang juga ke kampus untuk urusan magang.
"Udah, aku di gerbang masuk. Aku tunggu Ay di sini ya, cepat." Ternyata Embun lebih awal jalan ke kampus dan setia menunggu sahabat anti maenstrim nya Ay, di tempat biasa, tepatnya di gerbang masuk untuk pejalan kaki.
"Ohh, tumben loh cepat." Ay mulai ngos-ngosan, terburu-buru dia menyebrangi jalanan menuju trotoar sebelah kiri. Roknya sedikit diangkat, untuk melaju langkah juga kertas yang tadi ia masukan ke dalam tas.
Memang, hari ini ke kampus bukan untuk mengikuti kelas mata kuliah, hanya menemui rekan-rekan satu lokasi magang untuk memperkenalkan satu sama yang lain. Namun, di obrolan group magang yang di buat korlap sejak ditetapkannya jadwal magang, sudah ditentukan oleh dosen pembimbing pertemuan ini dijadwalkan pada pukul 13.00 di lantai 2. Sehingga, walau bukan untuk kelas mata kuliah, Ay berkomitmen dari bangun tadi pagi untuk tepat waktu. Langkahnya diburu waktu juga panasnya sinar matahari membuatnya sedikit berkeringat tapi, tidak dengan lipstik di bibir ranumnya.
Embun terlihat gelisa, kadang berdiri, duduk, jalan mengitari tempat duduknya, menajamkan netra melihat siapa-siapa yang muncul menaiki anak tangga dekat gerbang masuk. Tapi, tak satupun yang ia kenal. Embun merogoh ponsel miliknya dari dalam tas, hendak menghubungi Ay yang ia tunggu hampir 15 menit lamanya.
Belum sempat Embun menindis tombol on off pada ponsel, dari samping tempat duduknya ada suara ngos-ngosan juga wajah yang penuh keringat menyebut namanya dengan panggilan Em.
"Em, ayo." Ajak Ay yang tidak mau istirahat sebentar karena kecapean menarik tangan Embun memasuki gerbang utama pejalan kaki.
"Eh eh istirahat bentar, itu keringat lo banyak." Embun menunjuk ke arah jidat sahabat nya Ay, di sana keringat lumayan banyak, bagian depan jilbabnya saja terlihat basah. Maklum, siang ini begitu panas.
"Udah biarin aja, entar juga kering sendiri." Ay sudah tidak peduli lagi dengan cucuran keringat di wajahnya, yang terpenting menurutnya sampai tempat tujuan tepat waktu atau kalau tidak terlambat 2 menit saja, lebih bagus.
"Iya, iya." Embun mengangkat roknya karena Ay menarik tangan kanannya untuk berlari kecil menuju lantai 2 tempat kesepakatan anggota group satu lokasi magang.
Keberuntungan, tidak dapat diperkirakan kapan ia datang. Begitu pula dengan kesempatan. Sama-sama perantau mengenyam pendidikan lanjutan di kampus yang sama, jurusan yang sama namun beda provinsi asal. Besar, kecil, canda, tawa dan semua yang berlalu setiap detiknya kedua sahabat Embun dan Ay selalu mengandalkan apa-apa hanya berdua untuk urusan kampus bahkan kalau tidak ada beras di kosan Ay, Ay menghubungi Embun barangkali bisa membantunya.
__ADS_1
Tidak terasa sudah, hampir setiap derap langkah Embunlah yang sering menemaninya selain pujaan hati. Kali ini, keberuntungan kedua menghampiri dua insan ini. Setelah kemarin Bumi membaca semua informasi magang ternyata di dalamnya tercantun nama Embun dan Ay satu lokasi. Bukan sengaja Bumi tidak memberitahu, namun menurut Bumi biarkan Ay sendiri yang mencari tahu. Toh, Ay kemarin enggan membacanya sendiri nama-nama yang satu lokasi.
Ay, mengerutkan keningnya saat ia masuk ke ruang yang diasepakati satu group, dari belakang Embun mengikutinya masuk di ruangan yang sama.
"Lo juga pake ruangan ini? Berarti kita tabrakan dong!" Tak sedikitpun Ay menyadari, jikalau sahabat karibnya itu satu lokasi magang.
Begitulah jika untuk membaca informasi saja tidak punya niat. Jadinya begini kan, teman sendiri saja tidak tahu kalau satu lokasi.
Embun merespon dengan mengedipkan mata kiri sembari menduduki kursi kosong di samping Ay.
"Iya, aku juga ruangannya di sini. Kenapa ya?"
"Jangan, jangan ki...ta satu lo..." Otak Ay akhirnya merespon juga dengan suasana. Kalimatnya gantung karena merasa tidak peka dengan Embun yang menunggu dirinya sampai beberapa menit yang lalu di gerbang masuk. Mungkin, Ay berpikir Embun hanya menunggu dirinya untuk sama-sama masuk kampus.
Embun melanjutkan kata-kata Ay dan memberi isyarat untuk mengecilkan suara "Lokasi magang kita sama sayang. Makanya baca tuh di group. Jangan hanya baca chat si doi aja. Gini kan jadinya, teman sendiri aja gak tau kalau satu lokasi." Pungkas Embun tepat di samping telinga Ay.
"Aku kira Ay sudah tahu, makanya gak ngomong dari tadi. Eh, lain kali kalau ada info di baca ya. Biar tidak kayak orang kesurupan, planga plongo." Lanjut Embun memberi sedikit petuah pada perempuan di samping kanannya yang sedikit saja tidak mau tahu urusan orang lain.
Bagi Ay, hal seperti ini sudah biasa. Bahkan kalau Ay terlambat masuk kelas kuliah saja, sudah membuat Embun khawatir. Dipeluknya Embun erat-erat "Terima kasih ya, sudah menjadi sahabatku. Ay sayang Embun."
"Iya, sama-sama." Embun membalas pelukan sahabatnya itu yang memiliki kesabaran setipis kumisnya.
"Sayang Ay juga. Aku tau kok, Ay memang seprti itu. Jadi, ini seperti kejutan bukan?" Lanjut Embun dengan melepaskan pelukan eratnya. Tidak peduli lagi bagaimana orang-orang di sekitar tempat duduk mereka berdua menatap heran dan menjadi pusat perhatian.
"Sedikit kejutan. Ingat ya, s-e-d-i-k-i-t." Ay mengakui bahwa Embun berhasil membuat kejutan padanya. Tetapi, bukan Ay namanya kalau tidak gengsi, meski secara gamblang tadi bagaimana ekspersi kagetnya saat Embun mengaku bahwa mereka berdua satu lokasi. Ia mengeja kata-katanya sambil menepuk pundak Embun.
10 menit kemudian, seseorang melenggang masuk ke ruangan tempat Ay dan Embun duduk. Mengenakan blazer warna senada dengan jilbab, celana hitam di lengkapi sepatu ket berwana hitam pula dan membawa tas warna abu-abu yang di pegang tangan kanannya. Tatapannya serius, raut wajah datar, langkah yang sangat percaya diri, juga tubuhnya langsing abis. Cantik.
Ia menarik kursi di bagian paling depan. Meletakan tas cantiknya di atas meja duduknya. Yap, dosen pembimbing untuk satu lokasinya sudah masuk ruangan. Dosen yang sangat berwibawa, dan bisa jadi masih bujang. Mungkin. Hehe. Dari cara dia membuka keheningan sejenak di ruangan tak ber ac itu belum bisa di pastikan, bahwa ia benar-benar seserius tatapan netranya.
Satu, dua, tiga, dan seterusnya pembahasan untuk pertemuan kali ini perlahan berlalu. Hampir satu jam lamanya ia memberi arahan sebagai pembimbing. Mulai dari tertib dalam berpakaian, menjaga nama baik kampus, juga harus ikut andil dalam kegiatan ekstrakurikuler jika di sekolah tempat magang memberikan kesempatan bergabung atau melatih peserta didik.
Bu dosen cantik itu mengakhiri pertemuan pertama dengan ucapan salam dan semangat.
"Yang belum gabung dalam group silakan angkat kaki, eh maksudnya tangan kawan-kawan." Setelah dosen pembimbing keluar, korlap ke depan menanyakan siapa yang belum bergabung dalam group magang. Rupanya korlap sedikit lucu, baru perjumpaan awal saja sudah membuat satu lokasi terbahak-bahak di buatnya.
Sebagai respon dari pertanyaannya tadi, ada beberapa yang mengacungkan tangan tanda mereka belum masuk dalam group.
"Saya." Mahasiswa satu.
"Saya juga." Jawab mahasiswa dua.
"Korlap saya juga belum." Mahasiswa tiga.
"Oke, sabar-sabar." Korlap menenangkan keributan dengan arahan tangan. "Pelan-pelan dong." Ada beberapa yang tertawa karena suara mendayu-dayu yang sengaja di buat korlap.
"Saran boleh ya! Silakan korlap tulis aja nomor WhatsApp nya di papan tulis. Nanti siapa-siapa yang belum masuk group tinggal japri pak korlap saja." Ay berdiri memberi saran kepada pak korlap yang sibuk membacakan nomornya beberapa kali di tengah keributan.
"Iya, iya boleh-boleh." Jawaban kompak satu ruangan mampu menciptakan keakraban awal.
"Teman-teman ingat apa yang di sampaikan oleh dosen pembimbing kita tadi, jangan seenaknya saja pergi magang ya! Dan ingat kita mulai magang tanggal 22 hari senin. Yang tidak punya motor cari memang boncengan dari sekarang. Siapa tahu ada yang tidak punya boncengan, silakan ambil kesempatan emas itu." Korlap memberi intruksi lanjutan pada teman-temannya.
"Untuk hari ini kita sampai di sini saja dulu. Sampai ketemu hari senin kawan-kawan. Semangat." Ia mengakhiri. "Eh lupa, hari senin langsung gas lokasi sekolah tempat magangnya saja ya, tidak usah menunggu di kampus lagi." Instruksi berakhir. Berakhir pula pertemuan siang ini.
Ay dan Embun sibuk memperkenalkan diri dan mencari tumpangan selama magang nanti. Kedua sahabat sejati itu tidak memiliki kendaraan. Selama ini Ay selain mangandalkan pujaan hati Bumi juga mengandalkan ojek online atau jalan kaki. Embun pun demikian. Bedanya Embun belum memiliki tambatan hati. Jadi, itu mungkin yang membuat ia mandiri.
__ADS_1
Setelah berhasil mendapatkan teman yang punya motor, satu, dua, tiga, empat semuanya menuju pintu keluar.
"Lapar nih, ayo ke kantin." Tawar Embun pada Ay. Sementara teman yang lain yang baru mereka kenal beberapa menit yang lalu berpencar menuju tujuan masing-masing.
"Ayo! Tapi uang ku tinggal 5000 doang." Jawab Ay memperlihatkan benda kertas berwarna kecoklatan itu pada Embun.
"Itu sudah cukup Ay, nanti air aku yang beli. Oke!" Embun menyakinkan Ay dan menarik lengannya menaiki anak tangga.
"Hehe, ayo!"
* * *
Tidak dapat dipungkiri betapa bahagianya hari ini. Dipertemukan dengan orang-orang baik, korlap yang lucu juga bonus terbesarnya adalah sahabatnya Embun ternyata satu lokasi dengan Ay. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Semua berjalan dengan mulus tanpa hambatan sedikitpun.
Semua unsur yang terjadi akhir-akhir ini banyak diselesaikan dengan sangat mudah. Perasaan juga mudah untuk diajak kerja sama. Mulai dari hati yang berangsur lemah lembut, air mata yang kadang jatuh begitu saja, mulai merespon cepat di media sosial, juga memikirkan bagaimana jadinya nanti jika Bumi meninggalkannya untuk sementara waktu pulang kampung.
Apa jadinya aku jika tidak dipertemukan dengan Jenaka, Kk Bintang, Embun, juga Ka Bumi. Aku bahkan tidak tahu menahu dunia mereka. Yang aku tahu mereka semua harus mengikuti kemauanku. Okelah, kalau selama ini aku selalu mendesak Jenaka, Kk Bintang, dan Ka Bumi untuk menuruti ku karena memang kami berasal dari kampung yang sama. Anehnya, ada seseorang yang manut saja saat aku memaksanya menyusuri setiap jengkal langkahku. Menumpahkan urusan kecil dan terbesarku pun dia ikut prihatin.
Aku mulai mengenalnya waktu itu karena tidak sengaja. Aku masih ingat, kala itu perkuliahan sudah masuk tiga bulan, kami berdua berada dalam satu ruangan setiap mata kuliah. Tapi, selama itu kami belum akrab, menyapanya saja aku tak pernah apalagi berkenalan dengannya. Cukup satu ruangan, satu jurusan, kenal wajahnya, itu yang terpenting menurutku.
Hingga lambat laun, alam memang selalu tahu apa dan kapan hambanya menempatkan harapan pada titik terbaik menurutnya. Bukan masalah besar jika ku ingat, persoalan meminjam ballpoint saja. Aku melihatnya, ia melihat kebelakang, ke samping kiri juga kanan. Entah apa yang ia cari. Akhirnya aku memberanikan diri melawan ketidakpedulianku pada orang lain mendekatinya, pelan.
"Hai, ada yang bisa aku bantu?" Spontan aku pada intinya.
"Eh, hai juga." Dia tetap jawab pertanyaan dari ku tapi tidak dengan netranya yang melipir kemana-mana.
"Oi, aku di sini. Kamu cari apa?" Seperti biasa kata-kataku tak pernah lemah lembut.
"Apakah ini?" Ay memberinya ballpoint karena lebih satu.
"Iya, terima kasih. Selesai nanti aku kasi kembali ya." Ditatapnya Ay dengan tatapan minta dikasihani.
Tidak direspon oleh Ay, langsung menuju tempat di mana ia duduk.
Setelah dosen mengakhiri perkuliahan hari itu, Ay dengan cepat memasukan buku catatan kecilnya ke dalam tas. Ia mengekor di belakang dosen hendak keluar ruangan. Dari belakang temannya tadi yang ia beri pinjaman, memanggilnya dengan sebutan 'orang yang punya pena'.
"Tunggu!" Sebut saja namanya Embun.
"Kenapa?" Jawab Ay.
"Ini." Embun memperlihatkan ballpoint yang dipegangnya. "Terima kasih ya, udah bantu aku. Aku gak tahu punyaku jatuh di mana atau mungkin aku lupa bawa dari kos." Pungkasnya berjalan di samping kanan Ay.
"Iya, sama-sama." Jawab Ay singkat.
"Nama kamu siapa? Aku Embun." Embun mengenalkan diri pada perempuan egois itu.
"Aku Ay. Jangan tanya siapa nama panjang aku ya! Asli sini?" Ay memberi isyarat untuk tidak menanyakan prihal nama panjangnya dan asal Embun.
"Aku dari xx (nama kota disensor)."
Berlalulah siang menuju waktu sore saat itu.
Tidak di sangka bukan? Bagaimana kedua sahabat beda kota bahkan beda provinsi itu berkenalan. Dari hal sepela menjadi sahabat se iya se kata. Ibarat guntur di siang bolong menurunkan bulir ciptaan-Nya mampu menyuburi seisi Bumi.
Bersambung...
__ADS_1