Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (4)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 4


25 Februari 2016.


Perlahan senja menghilang. Malam pun siap bertamu. Ay masih sibuk mengetik jawaban di benda pipihnya untuk dikirim dengan tujuan kk Bintang.


"Kk Bintang, Ay terima amanah dari ka Bumi." Pesan terkirim.


Lama Ay menunggu balasan dari Bintang. Kemudian Ay beranjak melanjutkan aktifitas anak kosan di malam hari untuk menyuci pakaian yang sudah numpuk di keranjang pakaian kotor di belakang pintu. Ponselnya pun diberi mode silent dan menarik colokan di atas lemari untuk mengisi daya.


Bumi, sebuah nama yang tidak asing lagi bagi Ay. Bahkan Ay tahu betul orangnya namun tidak dengan sifatnya. Saat SMP mereka di sekolah yang sama, waktu itu Ay duduk di kelas 1 SMP sedangkan Bumi di kelas 3 SMP.


Seperti anak sekolahan di sekolah lain. Kami berdua hanya di bawah naungan yang sama, tahu namanya dan kenal mukanya, sebatas itu.


"Na, bantu angkat cucian dong, berat nih."


"Iya tunggu."


Selesai sudah beban malan ini. Cucian begitu banyak, sangat capek bergelut dengan pakaian pakaian sederhana itu.


Dilihatnya ponsel yang berkedip dari tadi terpampang jelas nama kk Bintang di sana. Suara kk Bintang di ujung telepon “baca chat ya!".


“Iya kk, maaf tadi abis cuci banyak, hp Ay mode silent."


"Mantap Ay, gue tadi udah kasi tahu Bumi sekalian kasi lihat jawaban dari lo di ponsel gue."


"Hehe, iya kk."


"Nanti ada nomor baru masuk ya! Tolong dibalas chatnya dan jangan lama." Tegasnya.


"Oke, siap".


* * *


Tepat, 25 Februari 2016. Berlabuh sudah kapal ini yang di tumpangi dua hati yang saling memberi kasih. Bismillah, awal yang baik untuk menua bersama, aamiin. Doa Ay dalam hatinya. Sangat siap rupanya.


Ay adalah perempuan yang sangat cantik, tinggi badan 1,61 cm, badan langsing, kulit sawo matang, alisnya tebal, dagunya belah dua, hidung pesek hihi, namun senyumnya mampu mengalihkan pandangan laki laki mana saja. Tidak kalah juga dengan binar matanya yang siap menghipnotis siapa saja yang mampu bertatap secara langsung.


Satu kebiasaan perempuan yang tidak ada padanya adalah nonton Drakor. Cukup berbeda, agak tomboi kayaknya Ay ini. Mungkin karena sifatnya yang tekesan egois, sehingga hobinya pun melipir ke sniper dan action.


Ting ting. Notifikasi, dua pesan masuk.


Lama Ay cek, karena emang selama ini nothing special. Kikuk. Bukan Ay namanya jika pesan masuk dibuka, langsung dibalas. Tidak semudah itu saudara-saudara. Cukup ketat benteng pertahanannya.

__ADS_1


Ting ting, notif baru masuk. Empat sudah chat yang belum di buka.


"Ay".


"Ay".


"Ay".


"Ini, aku".


Kebiasan lama yang bersarang di pribadi Ay, cukup menatap layar ponsel dan baca dengan mulut komat kamit tanpa mengeluarkan suara. Itulah mengapa Ay menonaktifkan centang biru pada fungsi aplikasi. Untuk menghilangkan kesan sok sibuk dan egois. Namun, orang orang terdekat sudah tahu tindak tanduk nya.


"Widihhhh ini dia nih, Ay cek foto profil dan baca namanya "Bumi" fotonya jelas tanpa embel-embel editan.


Pura-pura dulu ah.


"Aku... aku siapa ya?". Padahal tadi sudah lihat fotonya, hihi.


"Bumi."


"Oh"


"Ay, semoga awal yang baik ya". Tanpa emoticon.


"Ay, ada yang mau kamu tanyakan?"


“Apa coba, datang lansung memberikan kesempatan untuk bertanya, kayak diskusi kuliah saja. Tapi, tak apa. Ini yang Ay tunggu-tunggu.”


"Ka, kenapa gak langsung aja ngomongnya kemarin? Atau kenapa gak minta nomor Ay ama kk Bintang?" Yuhuu, dua pertanyaan menyerang sekaligus.


"Maaf ya, gak bisa ngomong langsung untuk mengutarakan niat ini, abisnya muka Ay jutek." Bumi membalas pesan Ay.


"Jadi, aku agak mikir dua kali jadinya kemarin. Makanya aku minta bantuan sama Bintang." Sambungnya lagi.


"Nanti kesempatan lain aku ngomong langsun aja ya. Tapi Ay percayakan sama aku?"


"Meskipun tidak secara langsung aku mengutarakannya tapi niat aku baik Ay." Bumi menjawab pertanyaan Ay panjang lebar.


"Oh, gitu. Tapi, Ay tunggu ya ka untuk ngomong langsung." Kenapa Ay gini ya, kalimatnya lembut bak kain sutera. Apakah ini jatuh cinta, penasaran, atau kalimat manis di awal saja.


Ah... sudahlah, mungkin orang-orang juga perasaannya kayak Ay.


10 menit, 15 menit, 20 menit gak ada balasan dari ka Bumi. Ini posisi Ay lagi baring skrol layar ponsel buka mbak google untuk mencari materi kuliah.


Hari ini jadwal kuliah kosong, juga besok Selasa. Rabu baru ada jadwal kuliah. Jadi, waktu Ay untuk lanjut nonton film cukup banyak meski, 10 % untuk cari materi 90% untuk menonton.

__ADS_1


Sebenarnya pembagian waktunya terbalik, tapi ini yang senior senior bilang, kalau kuliah kita sendiri yang atur waktu, juga atur pengeluaran. Emang diri sendiri yang berhak untuk menentukan kehidupan ini. Orang lain hanya pemanis saja.


"Oke, belum ada balasan, mari kita nonton dan tarik selimut." Ay menarik selimut kebangaannya menutup seluruh tubuh.


* * *


"Huaaa, huaaa, huaaa..."


Ay sungguh terhanyut oleh tontonannya, sampai Ay menitikan air mata saking sedihnya.


Bagaimana tidak, seorang Raja Sniper yang dulunya bekerja sama dengan kekasihnya sudah menjadi dua orang yang saling musuhan.


Sniper memang banyak menayangkan suasana politik, perebutan kekuasaan, dan juga pasar narkoba. Inilah yang membuat Ay terhipnotis dengan genre action.


Biasanya laki laki yang menjadi pemeran utama sniper suatu saat akan dihadapkan dua hal, yaitu kelompok kerjannya atau kekasihnya bahkan keluarga. Sehingga kerap mengalami benturan kepentingan. Antara kepentingan hati dan imej di mata Bosnya.


"Oii, lo kenapa? Baru juga kesmaran udah nangis aja." Jenaka menganggetkan Ay.


"Huaaa huaaa, si perempuannya sedih Na." Ay mengusapkan air mata sambil menunjukan isi filmnya ke Jenaka.


"Mana gue tahu filmnya sedih. Lo nonton apa sih? Dangdut ya, haha." Si paling komedi beraksi lagi.


"Iihh... apa lo bilang, dangdut? Ya kali Ay nangis nonton dangdut, yang ada Ay joget." Jenaka emang paling ampuh untuk mencairkan suasana.


"Eh BTW, uang kumpul untuk acara milad XX (nama organisasi di sensor) berapa ya? Gak ikut rapat gue kemarin.” Tanya Jenaka sambil mengeluarkan 5 lembar warna krem dari dompet.


Yahh, warna apa lagi kalau bukan krem uang 5000. Haha beginilah nasib anak kos, minta uang, uang datang, langsung bayar tagihan, fotokopi, beli pulsa, dan beli beras. Habis. Sebuah siklus datar tak berbelok.


"35.000 per orang." Jawab Ay singkat.


"Yahhh, kurang dong uang gue! Lo ada lebihnya gak? Pinjam ya Ay!" Jenaka memijit kepala Ay, rupanya sogokan. Haha.


"Iya, iya. Jangan lupa bayar ya.” Ay memeluk ringan Jenaka.


Ay, Jenaka, Bintang, dan Bumi berasal dari daerah yang sama, kecamatan yang sama namun beda Desa. Ay dan Jenaka satu Desa, sedangkan Bintang dan Bumi satu Desa.


Mereka berasal dari kota XX. Siapa coba yang tidak kenal dengan kota XX. Salah satu kota yang masuk dalam daftar Kota Pariwisata Premium. Kota yang cukup terkenal karena keberadaan Kom*do, Pulau Pa**r, dan masih banyak yang lain.


Mereka berempatpun kuliah di kota yang sama, universitas yang sama pula namun beda jurusan. Tepatnya di Kota XX Universitas Muhammadiyah XX, Sulawesi XX. Di sini semuanya di mulai.


Sebut saja XX organda (Organisasi Daerah) yang menaungi meraka di tanah rantauan. Tujuan Organda ini dibentuk oleh para Penasihat pun tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menjaga tali silaturahmi di rantauan.


Oktober 2016 Milad ke 6 tahun berdirinya XX.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2