Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (2)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 2


"Atau apa hah, lu pikir aneh-aneh gue kibas semua nih mie dua piring."


"Lantai berapa woi?"


"Jangan bilang lantai 10 lagi. Sumpah capek bet gue, mana lif macet lagi."


"Iya, lantai berapa nih Keti (Ketua Tingkat)?"


"Dosennya sudah ada belum?"


"Hari ini matkulnya berapa ya?"


"Ibu Keti yang kami hormati, bisakah Anda membalas pertanyaan teman-teman mu ini."


Sambil mengoleskan lipstik tak seberapa harganya, Ay tertawa kecil membaca obrolan di group kesayangan dan terkadang bikin malas bacanya. Kerap ada yang bertanya secara brutal tanpa melihat jadwal kuliah yang sudah disebarkan oleh Ketua Tingkat sebelumnya.


Seperti biasa tak ada notifikasi spesial di ponsel kesayangan Ay. Hanya notifikasi group, group, dan group lagi. Nothing special.


"Na, liat kaos kaki ku gak? Kemarin simpannya di sini.” Ay mengacak sepatu yang ada di raknya.


"Gak liat aku, di jemuran kali. Coba liat."


"Terlambat nih gue, pake kaos kaki lu aja ya, pinjam... (nafasku terengah menuruni anak tangga karena sudah beranjak pukul 13.00)


Hari ini matkul pertama dijadwalkan pukul 13.30 lantai 10 ruang 10.a.


Ay percepat langkah kaki supaya bisa sampai kampus dalam waktu 20 menit sisanya untuk menapaki anak tangga satu per satu menuju lantai 10.


Jarak antara kos dan kampus sebenarnya memakan waktu 5 menit untuk yang menggunakan roda dua ataupun roda empat. Tapi untuk kami yang merantau di kota ini dan tidak memiliki kemewahan itu hanya mengandalkan seberapa cepat kaki melangkah.


Sekali-kali melirik layar ponsel yang sengaja ku pegang dari kos sudah menunjukan pukul 13.15 masih setengan perjalanan. Mampus...


Ting, ting, ting, ting,


Ay tiba di kampus pukul 13.25.


Notifikasi apa lagi kalau bukan obrolan group, (gerutuku dalam hati)


Pelan ku ayunkan langkah sambil membaca obrolan group.


"Informasi untuk kaum rebahan hari ini Dosen untuk matkul pertama dan kedua berhalangan hadir, insyaallah minggu depan baru bisa ketemu lagi."


"Apaan coba, sudah ngos-ngosan....


"Bayar grab mahal...

__ADS_1


"Naik angkot panas...


Sebuah informasi yang cukup singkat dan paling menyenangkan.


Aku sebenarnya termasuk golongan tidak meninggalkan jejak kalau soal media sosial apalagi chat di group. Lebih tepatnya hanya penyimak yang baik. Itu diriku yang bilang ya, bukan orang lain hehe.


"Alhamdulillah, untung dosenya tidak jadi masuk, kalau tidak bisa terlambat tadi gue mana tugas belum selesai lagi." (titahku dalam hati)


Ting...


"Tapi teman-teman, dosennya memberikan tugas makalah dan kumpul minggu depan. Dan selamat berkelana di media sosial teman-teman."


Obrolan singkat nan menusuk yang baru masuk di group kesayangan lagi.


"Huffff tugas, tugas, dan tugas... Akhirnya hari ini free juga sudara sudara." (seperti biasa mulut terbuka tanpa mengeluarkan suara, kesukaan Ay).


Siang yang sepi, karena tidak mendapatkan batang hidung teman kelas ku yang cukup akrab selama ini.


"Mungkin karena tidak jadi masuk kali ya, makanya tidak muncul-muncul"


"Ay, kuliah pukul berapa?


"Seseorang menghampiri dan membuatku kaget bukan main, buru-buru ku menyimpan ponsel di dalam tas dan berdiri...


"Eh, hai ka, kuliah juga?"


"Iya nih, tapi udah selesai, hari ini matkulnya satu".


"Kalau Ay, udah selesai juga?"


"Udah ka" (jawaban yang cukup singkat dan pas bukan?)


Alih-alih memberikan jawaban yang singkat, ku ambil lagi ponsel tadi yang sudah kumasukan ke dalam tas sebagai refleksi atas perasaan kaget yang menjalar di sekujur tubuh.


"Duluan ya".


"Cukup lama Ay tidak menyadari sikap pamit dari lelaki itu, fokus tarik ulur beranda aplikasi kesayangan kedua yaitu aplikasi film action.


"Ok ka.” huffff, pamit juga dia.


* * *


"Haha, emang gitu dia kak, kalau bukan dia yang butuh, balas chatnya lama bener." Jenaka sedang mengobral aib Ay rupanya.


"Ay, Ay, woiii Ay...


(Suara kk Bintang mengalihkan fokus ku yang sedang nonton sniper)


"Waalaikumsakam kk, salam kek, ini tidak. Hehe becanda kk, yuk masuk.” Jenaka teman satu kamarku mengekor di belakang.

__ADS_1


"Kk mau kopi atau kita beli minuman ale-ale aja?"


"Kalau ada kopi, kopi aja"


"Siap, bikin kopi. Tamu adalah raja dan raja adalah..."


"Adalah apa, haha.” sambung kk Bintang sambil tertawa.


"Becanda kak Bintang.” Sambung Jenaka yang masih fokus dengan benda pipih di tangannya.


"Ini kopinya kk, Ay udah bikin. Semoga rasanya pas". Ay mengedipkan mata centil.


"Terima kasih, oke mantap. Tapi, kalian berdua gak minum kopi? kok kopinya satu gelas doang, Gak ikhlas nih".


"Gak kak, minum aja. Jenaka dan Ay tadi minumnya ale-ale, nih sampah nya nih.” Jenaka sambil mengacak-ngacak bekas minuman ale-ale yang dihabisinya tadi.


Sore, pukul 16.42 kami ngobrol ngalor ngidul, suara ketawa yang begitu ramai meski bertiga saja. Begitulah, sebagai perantau situasi seperti ini cukup dijaga sebagai ladang silaturahmi.


Sambil ditemani kopi walau tidak ada cemilan lain selain kopi, rasanya tetap nyaman.


Waktu terus berjalan, kk Bintang tidak sedikitpun menyinggung mengenai chatnya malam itu yang memang sengaja tidak ku balas, hingga tak terasa alarm adzan magrib sudah berbunyi di salah satu ponsel kami bertiga, Yah, sudah lama ku instal aplikasi ini untuk mengingatkan waktu-waktu berserah diri kepada pemilik alam.


"Salat yuk, wuduh yuk.” (ajak ku pada kk Bintang dan Jenaka)


"Aku magrib di masjid ya, Na.


"Oh iya kak Bintang, hati-hati di tangga turun tuh gelap lampunya rusak".


"Ok Na. Entar habis magrib gue kesini lagi."


Kk Bintang yang paling akrab dengan semua orang termasuk kami.” Kk Bintang, kalau Ay panggil dan kak Bintang kalau Jenaka yang panggil, itulah sapaan yang kami gunakan selama ini untuknya.


Setelah kk Bintang menuju masjid, ku dan Jenaka bersamaan mengambil air wuduh di keran samping kamar mandi tepat di ujung kamar nomor 20.


...Harusnya aku yang di sana,


Dampingimu dan bukan dia,


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia...


Ay yang sudah salat magrib dan menggantungkan kerudung di gantungan memutar lagu milik penyanyi terkenal 'Armada' sambil mengikuti lirik yang ku hafal dibagian reef nya saja.


"Ay.” Panggil kk Bintang yang sudah berdiri di pintu utama kos lantai dua.


"Iya kk, kenapa?


"Sini bentar, ada yang mau gue omongin".


Ku yang lagi nyantai dengar musik sambil selonjoran, tiba-tiba berubah menjadi curiga dengan kk Bintang. Jangan-jangan dia mau bahas chat itu.

__ADS_1


"Aduhhhhh, iya Kk tunggu." Dengan raut muka penasaran, Ay melangkahkan kaki mendekati Kk Bintang.


Bersambung ....


__ADS_2