
Perempuan Egois Miliku
Bagian 12
2 jam lamanya Bumi menonaktifkan ponsel selama itu pula ia tidur. Segala bentuk amarah muncul di benak. Ingin rasanya memaki diri, berkata kasar dan bertindak konyol. Tapi, kalau nanti lihat senyuman pujaan hati pada foto yang Bumi simpan langsung emosi turun menjadi 0%.
Mungkin Bumi sudah perlahan mengikuti jalan ninja Ay, bahwa apapun bentuk masalahnya besar kecil, solusi paling ampuh adalah hilang kabar walau hanya 2 jam an. Untuk merehat pikiran negatif yang kian mendominasi.
Bumi termasuk ke dalam daftar lelaki yang berpegang teguh pada kedudukan para wanita, jangan main fisik jika ada masalah cukup lemah lembut. Namun kadang, ada saja roh hitam menyalip pikiran normal, hingga muncul angan-angan untuk bertindak di luar nalar.
Semisal, menyusuri arah senja di keramaian kota, menghitung cahaya lampu penerang jalan, tiba-tiba saja ban pecah kantong kering pula. Sehingga otak tidak berpikir normal dan ban nya mau di bakar saja di tengah keramain. Biar mampus.
* * *
Tiada hari tanpa perdebatan. Tiada hari tanpa mengalah. Tiada hari tanpa berprasangka buruk. Bumi tidak habis pikir dengan kekasihnya itu. 2 tahun lamanya hanya mencari cara bagaimana merubah sikap Ay.
Kemarin, 1 tahun perjalanan perubahannya mentok di bagian kalimat dan sedikit menangis. Hampir punah kesabaran Bumi menghadapi tindak tanduknya. Boleh saja Bumi mengukir kalimat ucapan selamat yang manis dan panjang lebar, tapi nanti jawabannya hanya seenak jidat oleh Ay. Tidak ada timbal balik.
Tidak menutup kemungkinan, rasa kecewa dan kesal yang selalu Bumi pikirkan di khawatirkan pula oleh Ay. Itu hal mustahil. Pasti dia hanya senyum asam dengan adegan dalam tontonannya. Sedangkan Bumi, siang dan malam selalu mencari akal untuk melakukan yang terbaik demi merawat rasa yang tumbuh.
Ditatapnya layar ponsel yang sedari tadi berbunyi, Bumi tidak membuka obrolan group miliknya. Dia hanya menunggu satu notifikasi spesial dari Ay. Bergantian posisi teratas group yang dia gabungi, karena mungkin ada obrolan seru di dalam group. Namun, tidak ada niat untuk melebur dengan suasana. Ibarat di keramaian, dia hanya fokus dengan satu orang.
Satu menit, dua menit, belum juga ada pesan menyusul dari Ay, mengingat balasan yang ia kirim tadi hanya singkat, jelas, dan berhasil membuat Bumi jengkel. Menurut kebiasaan pada pasangan lain, kalau salah seorang yang membuat kesalahan pasti nanti ucapan minta maaf menyusul, namun berbeda cerita dua sejoli ini, satunya lembut satunya dingin. Ay yang ingin benar sendiri, Bumi mulai terkikis kesabarannya.
Akhirnya Bumi, mengalah lagi. Mulai memencet nama Ay sayang.
"Sayang." Pesan pertama terkirim
"Lagi buat apa, sudah makan belum?" Pesan kedua terkirim
"Lagi sibuk gak? Kalau gak, dibalas ya!" Emoticon love.
Tiga pesan sudah terkirim, sudah centang dua namun tidak warna biru. Ay sengaja untuk tidak mengaktifkan centang biru. Bumi terus menunggu balasan.
Berbagai posisi sudah di coba Bumi untuk menyamankan duduk. Sebentar baring, duduk, rokok, minum air putih, dengar musik, buka youtube, lihat story, main game, lalu makan. 2 jam sudah berlalu belum juga muncul balasan dari belahan jiwa.
Hingga menjelang waktu magrib tidak ada notifikasi khusus masuk. Yah, Bumi sama dengan Ay, ia mengaktitkan notifikasi khusus di ponselnya.
* * *
Dua hari kemudian
Tepat 2 tahun 2 hari dua sejoli bergandengan tangan.
Tut...tuuuttt...tuuuuttttt...
Bumi menelepon Ay. Tumben langsun di angkat. Biasanya tunggu 2 kali telepon baru Ay menjawab.
"Oi." Suara keras Ay menyapa di ujung telepon.
"Salam ke, apa ke, ini kayak ibu-ibu komplek lagi gosip." Ledek Bumi.
"Ya udah, aku kasih mati ya!" Pungkasnya.
__ADS_1
"Eh...eh.... Kenapa Ay, lagi sibuk? Atau gak mau lagi sama aku? Hah?" Bumi to the point.
"Apa, gimana?" Ay balik tanya.
"Kamu tuh ya, di kasih tau malah ambil hati. Orang kalau di nasihatin tuh di dengerain. Bukan malah balik marah!" Bumi mulai memberi petuah.
"Kapan Ka Bumi nasihatin Ay?"
"Selama dua tahun ini!"
"Mana ada Ka Bumi nasihatin, yang ada tuh Ka Bumi ngeledek Ay mulu." Astga dangkal betul pemahaman perempuan ini.
"Ka Bumi tanya deh, menurut Ay nasihat itu apa?" Bumi menggali pemahaman perempuan aneh ini.
"Ya... nasihat. Nasihat itu ajaran, pelajaran baik, bisa jadi teguran." Jawabnya seperti lagi diskusi materi kuliah.
"Itu Ay paham. Terus kenapa tadi bilangnya aku gak pernah nasihatin Ay? Apa aku gak pernah tegur Ay kalau Ay salah, atau kalau Ay bentak-bentak Jenaka, hmm?" Suara manja Bumi keluar.
"Pernah sih, tapi Ka Bumi tegurnya lewat chat doang."
"Ya iya dong Ay, apa boleh aku tegur Ay di tengah orang banyak. Kalau aku tegur Ay pada saat orang ramai, pasti ujung-ujung nya Ay menghilang. Dan aku tahu Ay, Ay tuh gak bisa di gituin kan. Nasihat itu memang tidak boleh di tengah orang banyak. Nanti jatuhnya mengumbar aib." Bumi menjelaskan secara detail sembari mengeluarkan satu batang rokok dari bungkusnya.
"Halo, halooo..." Bumi memastikan Ay di seberang telepon, karena biasa kalau situasi begini ia langsung memutuskan sambungan telepon.
"Iya, halo." Dari segi nada suaranya, ia lagi fokus dengan tontonannya.
"Ay paham kan dengan penjelasan ka Bumi tadi?"
"Sama-sama." Bumi mengikuti intonasi Ay.
"Boleh aku minta satu harapan gak?" Sambung Bumi.
"Apa."
"Jangan terus-terusan egois ya! Aku mohon." Bumi memelas.
"Akan aku usahakan! Syukur kalau bisa, kalau gak ya enggak." Semoga jawaban benar-benar ingin berusaha.
"Di aamiinin aja deh, siapa tahu bisa. Ya kan sayang, haha." Receh juga Bumi ini.
"Dihhhh... sayang, sayang. Nama aku Ay bukan sayang!" Ketus Ay.
"Tapi, bolehkan aku panggil sayang?" Bumi berharap.
"Gak boleh. Manggil Ay aja, titik!" Tegasnya.
"Jutek bener pacar Bumi ini."
"Mau aku blok gak? Kalau mau aku blok satu tahun nih biar sekalian ilang."
"Widihhh.... nanti aku chat setiap hatinya ama siapa dong. Jangan gitu Ay. Aku tadi bercanda. Tetap akau panggil Ay."
"Oke!" Ay mendekatkan ibu jari dan telunjuknya membentuk angka nol dan mengedipkan netra kirinya.
__ADS_1
Tut..tuuuttt...tuuttttttt...
Sambungan telepon mati diakhiri oleh Ay. Tanpa pamit tanpa salam. Apalagi sekadar memberi pesan jangan lupa makan, seperti yang Bumi biasa lakukan padanya.
Lumayan lama tadi obrolan Ay dengan Bumi. Rupanya Bumi sengaja memancing Ay untuk bertahan pada percakapan kali ini. Bumi merangkap fungsi sebagai moderator demi menghidupkan situasi.
Sepertinya Bumi menemukan harta karun, bahwa langkah baru untuk memancing doi menjawab pertanyaan adalah dengan cara memberikan kalimat-kalimat negatif. Enak juga pendengaran dengan celetukan anehnya. Persis seperti anak kecil.
Bumi iseng, di ambilnya kembali ponsel yang sudah di simpan di atas lemari pakaiannya menelepon Ay.
Tut...tuttt...tuttttt...
Belum ada jawaban. Lagi ah.
Tut...tuttt...tutttt...
"Hallo kak Bumi." Ada suara lembut yang nyaring.
"Hallo Na, Ay mana?" Bukan Ay yang menjawab telepon.
"Lagi di toilet kak, tunggu bentar ya." Saran Jenaka.
"Iya Na."
"Baru di kasi harapan, udah mau lupa aja dia. Dasar perempuan. Coba kalau sifatku kayak mantannya yang playboy itu, sudah aku tinggal kan." Gumam Bumi.
"Hallo Na, coba di cek, bikin apa dia di toilet lama begitu."
Belum sempat Jenaka jawab, keburu Ay langsung menarik benda pipih di tangannya. Mungkin Ay dengar tadi, karena Jenaka membesarkan volume telepon.
"Kenapa, ada masalah?" Tanya Ay.
"Mau ngobrol aja, aku seneng dengar suara Ay." Jawab Bumi.
"Ka Bumi, tadi kan udah ngobrol ngalor ngidul, kok nelpon lagi. Aku mau nonton ka."
"Iya deh, ada syaratnya kalai mau kasih mati." Ini mungkin cara kedua Bumi. Lihat saja.
"Syarat apa?"
"Kalau mau nontonnya tidak diganggu, harus salam dulu sebelum matiin. Hukumnya wajib. Coba."
"Eh, ada-ada saja. Udah matiin." Tidak diindahkan oleh Ay syarat dari Bumi.
"Eitsss...salam dulu!"
"Oke, selamat malam, semoga sehat." Haha yang muncul ada ucapan ulang tahun. Emang dasar betina.
"Gitu dong, makin sayang gue jadinya. Selamat malam juga say..." Belum selesai Bumi jawab langsung Ay memencet tombol on of.
Tuttttttttttt...
Bersambung...
__ADS_1