Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (17)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 17


Luluh lantak hatinya. Semakin deras bulir itu jatuh. Rupanya Ay mimpi buruk dalam tidur panjangnya. Sahabat lucu dan peka di sampingnya, menggiring kepala Ay untuk sejenak bersandar dipundak. Jemari lembut terus mengurai helaian rambut Ay. Secepat itu Jenaka mengetahui perasaan yang di alami teman karibnya itu.


Tidak dapat dipungkiri, berapa tahun sudah ia membersamai duka serta canda, baru kali ini Ay terlihat sesegukan karena mimpi seorang laki-laki. Terakhir, Jenaka melihat Ay sesedih itu waktu kapal melepas jangkarnya untuk berlayar menuju tanah rantauan. Porsi yang sama, jika pelabuhan adalah tempat bertemu juga berpisahnya orang yang kita cintai yang paling senyap, bertemu dan berpisah di mimpi sama halnya pelabuhan.


Ay mengeratkan pelukan, punggungnya bergetar menahan suara tangisan. Belum siap Jenaka untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Membiarkan Ay meluapkan semua perasaan sedih, setelah itu baru ia tanyakan perihal mimpinya.


Di layar ponsel, sudah menujukan pukul 6.42. Jenaka menarik tangan yang ia ulurkan pada Ay.


"Ay, minum lagi yuk." Saran Jenaka, karena melihat Ay sedikit lelah dari tangisnya. Ia menuangkan air ke gelas yang tadi, lalu menyerahkan ke Ay.


Ay hanya mengangguk. Sinar matanya mulai riang. Kesenduhan terkontrol pelan. "Aku mimpi Na!"


"Mimpi buruk ya?" Tanya Jenaka mengibai.


"Iya, aku mimpi ka Bumi. Dalam mimpi dia kecelakaan." Sambil melepas selimut dari tubuhnya.


"Haha, akhirnya lo nangis juga ya." Bukannya menanyakan kecelakaan bagaimana di dalam mimpin Ay, Jenaka malah tertawa sinis dengan mengarahkan telunjuk ke jidat Ay. Seorang perempuan berhati dingin, dengan ajaibnya mengalirkan air mata hanya karena mimpi kekasihnya kecelakaan, dan dia menangis. Menurut Jenaka, itu baru mimpi reaksinya cukup besar.


"Kok ketawa? Lo senang ya kalau ka Bumi kecelakaan?" Dengan keras Ay hempaskan telunjuk Jenaka dari jidatnya.


"Ya elah, gitu aja baper. Maksud aku ketawa tuh, seorang Ay sahabat Jenaka gitu loh, pagi ini berhasil nangis. Itukan baru mimpi dan mimpi itu bunga tidur Ay. Apa kabarnya kak Bumi yang setiap hari di cuek mulu ya sama pacarnya."


"Ya kan namanya juga manusi, ada saatnyalah dia luluh. Bukan apa-apa ya, aku nangis karena di mimpi itu rok aku di lilit rantai motor."


"Oh, gitu ya. Kirain apa. Tapi, ngomong-ngomong lo kangen kan sama kak Bumi? Sebentar lagikan LDR. Ada chat-chatan mesra gak dari kak Bumi?" Bakat tersembunyi Jenaka adalah penasaran level ibu-ibu arisan, hehe.


Jenaka terus menggoda Ay, menggesekan lengan kanan ke Ay, dan menciptakan suara mendayu di depan Ay. Sahabat yang memiliki dagu belah itu terlihat menjijikan dengan sikap Jenaka. Ia bergegas memangkas jarak, sigap Jenaka menarik tangannya hingga tubuh lekuknya jatuh ke kasur empuk.


"Iihhh, jijik bangat gue. Lo kenapa sih Na? Jangan-jangan lo lesbi..."

__ADS_1


Belum berakhir kata Ay, Jenaka memotong dan mencolek perut Ay. "Dasar otak mesum. Gini nih kalau nonton film aneh-aneh.


"Eh, udah setengah delapan ini. Mandi yuk Na, kita hantar ka Bumi jam delapan. Cepat. Kau aja yang pertama mandi." Ay mempersiapkan diri untuk menghantar Bumi ke Pelabuhan.


"Iya, iya." Jawab Jenaka yang sudah menenteng keranjang sabun.


"Jangan lama, dua menit." Ujarnya lagi.


"Gigi lo dua menit, 20 menit kalau gue yang mandi."


* * *


Tidak berpaling lirikan anak matanya, membayangkan hari-hari yang akan dilalui kini, esok, dan sebulan ke depan. Entah mengapa tiap kali aku mendekatkan separuh raga di sampingnya, ada desir yang nyaman pun sejuk. Aku berpikir bahwa, diriku sedang menjaga anak TK di sekolahan.


Bagaimanapun, Ay usianya saja yang menginjak kepala dua, namun pemikirannya tidak. Akupun tahu, sikap egois yang ia perlihatkan selama ini, tidak menggambarkan alam bawah sadarnya yang tetap menunjukan sikap manjanya. Itu yang membuat kekhawatiranku memuncak saat akan meninggalkannya seorang diri.


Jangkauan matanya, megunjungi satu per satu sudut ruang tunggu, tangan kiri terlihat bolak balik membuka tas mungil berwarna hitam. Terakhir ia mengeluarkan kantong hitam. Lalu mendekatiku.


Bumi yang kaget dengan pemberian itu tidak berniat menanyakan apa isinya di dalam.


"Hah...iya, iya." Dengan cepat Bumi membuka resleting ransel ukuran sedang dan menyimpan kantong dari Ay.


"Tidak ada ucapan terima kasih gitu?" Ay mengerutkan kening.


"Hehe, lupa. Terima kasih Ay." Ucapnya.


"Jangan sering-sering blok nomor aku ya Ay, kan kita LDR nya satu bulan. Aku sedih nanti kalau di blok terus." Lanjut Bumi. Tubuhnya menyentu lengan kiri Ay.


"Akan aku usahakan!" Seperti biasa, kalimat itu tidak pernah hilang dari ingatannya.


Sementara itu, Bintang, Jenaka, dan yang laing yang ikut antar berada sekitar 10 meter dari tempat duduk Ay dan Bumi. Mereka memberi ruang tersendiri untuk kedua mahluk yang sedang mempersipkan jiwa merawat rasa dari kejauhan nantinya.


"Selamat pagi. Untuk para penumpang tujuan xx (nama kota disensor) kami persilakan menuju tempat pemeriksaan tiket. Terima kasih." Suara lancang dari seorang perempuan yang bertugas di Pelabuhan ini membuyarkan Ay dari tatapan matanya ke Bumi.

__ADS_1


Bumi bergegas berdiri, memperbaiki posisi ransel di punggungnya. Jemari meremas jari gadis cantik di sampingnya yang terlihat mendung, bibirnya berkedut, mata memerah.


"Hati-hati di sini ya! Jangan nakal, ajak Jenaka kalau keluar jalan-jalan." Hanya sikap lembut Bumi yang berhasil menjatuhkan bulir Ay dari sumbernya. Bumi mengelus kepala menggunakan tangan kiri.


Ay mengangguk, ai matanya berjatuhan mengenai lantai ruang tunggu dibposisinya. Tidak mampu ia menjawab kata-kata Bumi. Hanya anggukan dan bergumam lembut. "Emm".


"Jangan nangis, kan hanya sebulan." Ucap Bumi yang melihat perempuan bertubuh langsing, mengelap tetesan rintik rindu. "Dadah."


Akhir dari tatapan pagi ini. Bumi dengan cepat membelakangi Ay melangkah pasti ke ruang pemeriksaan tiket. Punggung itu tak sekalipun menengok apa yang terjadi di belakang selepas jemarinya lepas.


Jenaka peka dengan kondisi Ay, melempar senyuman dan anggukan pertanda masih ada dirinya yang siap menemani hari-hari berikutnya. Dirogohnya ponsel dari saku tas, memencet kontak 'Ka Bumi' mengirim pesan.


"Ingat Ay, jangan lama di sana!" Perasaan apa yang terlintas sehingga jari mengetik kalimat perintah itu. Tidak biasanya.


Centang dua, namun belun ada balasan. Mungkin Bumi sibuk dengan pemeriksaan tiket. Atau sedang merasakan hal yang sama.


"Huffff..." Embusan kasar dari nafasn panjangnya. "Na, tunggu ka Bumi lewat dari jembatan penumpang itu ya baru pulang." Ay menunjuk ke arah jembatan penumpang.


Biasanya di jembatan ini bagian terakhir para penumpang bisa kita lihat. Setelahnya, ruang menuju tangga naik kapal tujuan.


Selang tiga menit, Bumi muncul di atas sana.


"Dadah...dadah..." Ay sudah menunggu dari tadi mengangkat kedua telapak tangan membalas kode dari Bumi. Meski senyum tidak bisa dijangkau Bumi dari atas sana, ia tetap melebarkan bibirnya memberikan senyuman terindah untuk separuh jiwa.


* * *


Sungguhkah pagi ini menghilangkan bayang. Bagaimana lorong ruang tunggu memperlihatkan orang saling berpelukan, melepas rindu siap berpisah dengan orang yang kita sayang. Meski ada yang pergi untuk kembali lagi, untuk mengais rejeki, dan berujung perpisahan tak menemukan jalan pulang. Aku melihat, semua pundak bergetar secara pelan, menahan perih rasa yang tak dapat diungkapkan.


Begitu pilukah ruang pelabuahan ini? Atau perasaanku saja yang mengiba?. Jenaka kali ini yang merasakan sedihnya pemandangan di tempat yang pertamakali ia tapak. Siapapun di luar sana, pasti merasakan bagaimana lantang tangisan melepas kepergian.


Dari sahabatnya Ay, Jenaka semakin yakin ada bebarapa tempat yang paling khusuk untuk kita renungi, selain tempat ibadah, juga ruang sujudnya di kamar kos adalah Pelabuhan. Dari Ay, Jenaka semakin yakin tidak ada yang benar-benar ego, semua butuh waktu dan usaha.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2