Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (11)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 11


25 Februari 2018


Malam, kau sungguh melihat isi hatiku saat ini. Engkau pun memahaminya. Bahkan kemarin aku tidak melihatmu seramai ini. Bulan, bintang, juga lampu kota sangat kerlip.


Tapi, malam ini Engkau menampakannya dengan sempurna. Aku tidak tahu apa namanya. Bersyukurkah, bahagiakah atau sekadar rumah singgah saja. Hatiku sangat kegirangan menatapi cahaya-Mu, sangat terang nan lembut.


Aku seperti memenangkan undian ingin lompat sana lompat sini menunjukan ke orang lain. Aku tidak pernah segirang ini, entah mengapa malam ini muncul begitu saja sangat dalam rasanya.


Aku sedikit mendongakan kepala, berterima kasih pada-Mu. Jalan yang engkau tunjukan selama ini begitu berbelok-belok, namun aku menikmatinya. Sedikit lurus, belok, lurus lagi, kemudian berduri.


Entah, berulangkali aku mengatakan jalan berliku yang aku tempuh sebenarnya jalan yang akan menumpukan rasa sabarku. Mengingatkan ku pada petuah-petuah terdahulu, sebetulnya jalan yang jauh dan berliku itu adalah sepadan dengan hasilnya. Dan hari ini aku merasakan hal itu.


Saban hari, aku merasakan diriku seperti pengembala cinta. Rawat, memahami, kemudian tumbuh. Aku merawat sebagian jiwaku agar tetap bersamaku. Tibalah hari ini, seperti kalimat awal pada paragraf pertama tepat dua tahun aku dengan Ay menjalin kasih.


Tanggal 25 Februari 2018. Aku tidak tahu mengapa setiap pergantian tahun aku selalu menunggu tanggal istimewa yang kami sematkan dulu saat awal jumpa. Jika mendekati tanggal ini aku layaknya anak kecil yang mendapatkan banyak kado mobil-mobilan saat ulang tahun.


Rasa yang jarang ada, rasa yang muncul tanpa aba-aba, dan sangat mengalir begitu cepat tanpa ada paksaan.


Patut bersyukur, kuucapkan pada diriku, senja yang menemani perjalanan, sahabat yang sedikit usil, tentunya kekasihku Ay.


* * *


Tuhan, terima kasih engkau menemani penelusuran jiwa ini


Tuhan, ada banyak cerita yang aku tuliskan tentang pagi, malam, siang hingga pagi ketemu pagi


Tuhan, aku tahu aku ditemani oleh kuasa-Mu, itulah mengapa selain mendambakan dia aku juga sangat mendambakan-Mu


Tuhan, tak banyak yang aku pinta. Jaga dia bersamaku. Hingga aku menghalalkannya.


Aku pun tahu Tuhan, aku dengannya hanyalah secuil mahluk berdosa.


Tuhan, perkenankan aku untuk terus menggandeng kebahagiaan, kesedihan, bahkan kedukaannya sekalipun.


Akupun tak peduli bagaimana caraku nanti. Yang aku tahu, aku, dia, dan Engkau mendampingi baik saat gelap maupun terang.


Maka, ijin kan aku ya Tuhanku.


Bumi menatapi aplikasi kalender di ponsel milik nya. Ada keterangan "hari jadi Bumi dan Ay" pada tanggal istimewa itu yang ia buat sejak keduanya berlabuh. Alarm khusus pun berbunyi beberapa menit yang lalu. Sampailah sudah kapal yang Bumi dan Ay tumpangi pada angka 2 tahun.


Mungkin bagi pasangan di luar sana, 2 tahun waktu yang singkat. Namun, bagi Bumi ini waktu yang panjang juga jalan terjal yang berhasil ia tempuh.


Beralih fokus, Bumi mengetik kata kata romantis membentuk kalimat ucapan selamat pada pujaan hati. Bumi sangat tidak mengharapkan ucapan dari Ay, karena itu hal mustahil Ay lakukan. Biarlah Bumi saja, toh ada orang yang kalau di paksa akan sulit digengam. Ini kedua kali Bumi mengucapkan selamat atas buah kesabarannya memahami semua sikap Ay.


"Ay, udah tidur belum?" Pesan terkirim.


"Ay sayang, aku tahu kamu pasti ingat hari jadi kita berdua, tapi mungkin egomu yang terlalu tinggi sehingga tak pernah memberi ucapan padaku, dan aku sangat paham itu Ay, hehe."

__ADS_1


Masih belum ada balasan. Bumi melanjutkan kata kata yang akan di kirim.


"Aku gak mempermasalahkan itu." Emoticon sayang.


"Sayang, 2 tahun sudah kita berlabuh.


Alhamdulillah ya... waktu yang sangat lama kan Ay? Aku sangat menikmati hidupku bersama mu Ay, aku menemukanmu 2 tahun yang lalu dan aku menjadikanmu kekasihku.


Tepat hari ini, 25 Februari 2018, semoga Ay tidak lupa ya. Hihi. Ay, seperti kataku di tahun pertama perayaan kita, aku akan terus bersama mu, menemani mu, memahami sifatmu, dan memelukmu jika engkau jatuh."


"Tak berubah harapanku, semoga aku bisa bersabar untuk sifatmu. Juga engkau Ay, harapanku jangan membuatku patah dengan engkau membuka jalan untuk orang lain. Semoga tahun-tahun berikutnya bayangmu dan bayangku tak berhenti bersanding."


"Aku tahu, Ay suka senja kan? Maka dari itu, akan ku bawakan senja di dekat rumah kita jika nanti waktunya tiba." Pesan terakhir terkirim.


2 menit, 3 menit, 4 menit, dan... belum ada satupun pesan yang Ay balas. Yahh... namanya Juga Ay, ada dua kemungkinan kalau komunikasi dengan Ay di baca tapi tidak di balas, dia tahu ada pesan masuk tapi tidak mau dibuka.


Bumi berinisiatif, daripada menunggu balasan dari Ay, mendingan cas Hp dulu. Siapa tahu nanti Hp sudah full arusnya ada balasan dari ratu cuek. Semoga saja.


* * *


Jam dinding sudah menunjukan pukul 01.54 dini hari. Masih jalan di tempat. Tidak ada notifikasi dari doi. Bumi mengambil selimut untuk menutupi kakinya yang sedari tadi di gigit nyamuk.


"Nasib, nasib. Sudah menunggu lama, belum ada balasan, di gigit nyamuk pula." Gumam Bumi.


"Coba saja kalau bukan cinta, mana tahan aku di giniin. Sudah dicapkan perempuan egois, tuturnya kasar, masih juga di sayang. Karena mataku menilai parasnya kali ya, atau... ahhh entalah.. pokonya dia egois, titik." Batin Bumi.


Sampai netra mengalah untuk menunggu balasan Ay, Bumi menghembuskan nafas panjang pelan-pelan dan selamat bermain di mimpi mimpi indah malam ini.


* * *


"Na, na, kamu di mana? Lihat bukti pembayaran aku gak?" Ay masih mencari.


"Bukti pembayaran semester berapa?" Jawab Jenaka dari teras kos.


"Yang baru semester 4!" Jawab Ay dengan nada penekanan.


"Di tas kali atau di dompet. Pelan-pelan cari nya." Saran Jenaka.


"Tetap, gak nemu ini. Aduhhhh...Jenaka sini dong bantu."


"Iya iya tunggu." Jenaka menuju kamar membantu Ay cari bukti pembayaran.


"Untuk apa sih? Buru-buru amat carinya." Sambungnya lagi.


"Mau foto kirim di teman aku Na, dia mau lihat rincian pembayarannya."


"Owh, aku kira mau di apa." Jenaka menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Iiihhh kok loe gitu sih, bantu cari dong." Ay menarik tangan Jenaka.


"Gak mau, bikin panik aja. Makanya kalau apa-apa tuh bawaannya jangan emosi. Aku gak bisa liat orang panik Ay, cepat drop ini." Jenaka menunjuk ke arah jantungnya.

__ADS_1


"Ay pulang kampus, buktinya di foto gak? Kalau di foto coba lihat di hp baru kirim ke teman mu itu." Sambung Jenaka.


"Ohh iya ya... haha." Ay terbahak-bahak. Setelah di ingat ingat kemarin ia sempat foto struknya.


"Belum jadi orang penting, udah ngerepotin Jenaka si cantik." Jenaka mengibaskan jilbab tepat di wajah Ay.


"Oh." Ketus Ay.


"Dihh... udah di bantuin, malah sombong. Tanda-tanda Bos kejam nih. Hiihh." Jenaka mencolek hidung Ay.


"BTW tidak terasa ya Ay, sekarang kita udah masuk semester 4. Perasaan baru kemarin nangis-nangis di pelabuhan meninggalkan orang tua di kampung."


"Baru sadar?" Ay yang sedang berkutik dengan benda pipih miliknya tidak melihat ke arah Jenaka saat menjawab. Mungkin Ay lagi baca pesan dari Bumi.


"Gak, maksud aku waktu itu tidak terasa. Ini aja kalian masuk dua tahun sama kak Bumi. Benar kan?"


"Emm". Gumamnya.


Begitulah Ay kalau sudah tidak butuh lagi dia cuek. Padahal tadi yang emosian dia, yang teriak-teriak manggil Jenaka dia, malah dia lagi yang seenak jidat sekarang respon Jenaka. Benar-benar perempuan cap egois.


"Udah di kirim belum?" Tanya Jenaka.


"Oiiiii, udah di kirim belum?" Jenaka sedikit meninggikan suara. Masih belum di jawab sama Ay.


"Baca apaan sih lo, komat kamit gitu." Jenaka mendekat ke Ay.


"Ooohhhh... itu toh. Bilang dong kalau lagi merayakan 2 tahun. Jadikan aku tidak bertanya terus." Ledek Jenaka.


Ay hanya menyungging kasar ke Jenaka.


* * *


Ting...


Satu notif masuk. Bumi yang baru bangun di jam 13.23 siang ini refleks mengambil ponsel miliknya di sudut ruangan. Satu nama muncul 'Ay Sayang'. Hatinya kikuk. Rupanya nama kontak doi naik level nih dari Ay, sekarang jadi 'Ay Sayang'. Mantap memang perubahan pada Bumi. Senyumnya melebar saat baca pesan Ay.


"Iya ka, aamiin." Singkat jelas dan yahhh... begitulah.


"Ay, aku nulis panjang lebar loh. Kok Ay jawabnya singkat. Aku sedih Ay." Bumi menggaruk kasar kepalanya.


Jawaban yang ia tunggu dari tadi malam akhirnya dibalas juga, namun begitu singkat apalagi sekadar basa basih. To the point cara Ay balas.


"Kan kak Bumi berharap kan, makanya aku balas aamiin doang." Jawaban tidak ada beban kayaknya dari Ay.


"Betul, aku memang berharap, tapi maksud aku adakah harapan-harapan dari Ay untuk hububgan ini kedepannya." Perdebatan di mulai.


Setelah centang dua pesannya, Bumi langsung menonaktifkan ponsel kemudian kembali tidur.


Sebenarnya Bumi tahu, pasti Ay nanti balasnya singkat. Secara Ay selama 2 tahun ini tidak pernah mengukir kalimat manis apalagi lembut bahkan menghubungi Bumi lebih dulu saja belum pernah.


Tapi, alam bawa sadar Bumi menginginkan kelembutan itu, tidak banyak yang Bumi minta hanya sekali saja atau satu kalimat romantis ucapan selamat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2